Dirut CGAS Andika Purwonugroho: Membatasi Risiko Investasi Agar Tak Gagal Lagi



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Andika Purwanugroho mengawali karirnya dengan menjadi pengusaha muda sebelum akhirnya diamanatkan untuk menjadi direktur utama di perusahaan perdagangan dan distribusi gas, PT PT Citra Nusantara Gemilang Tbk (CGAS). 

Dia memulai perjalanan investasinya pada tahun 2013, keinginan berkecimpung di dunia invetasi tersebut datang dari dirinya sendiri karena ingin mengenal investasi lebih dalam. Instrumen pertama yang ia masuki adalah deposito. Menurut dia, investasi deposito cukup aman dibandingkan dengan jenis investasi lainnya dan sifatnya semi likuid. 

"Jadi saya mencoba investasi deposito pertama itu karena lebih ke sisi secure atau keamanannya lebih terjaga dan kedua sifatnya semi likuid, karena saya investasi itu tujuannya yang pertama sebagai dana darurat dan menjaga nilai uang," ujar Andika, Kamis (25/1). 


Tak berhenti di investasi deposito Bank, Andika juga sempat mencoba beberapa investasi jenis lainnya seperti investasi di perikanan, yaitu tambak ikan di Bendungan Cirata, Jawa Barat. Namun, investasi tersebut tidak berjalan dengan mulus karena terhalang oleh faktor alam. 

"Jadi memang karena kita sudah siapkan semua, sampai pakai tenaga dari IPB, ternyata memang yang kita tidak bisa antisipasi itu masalah faktor alam. Jadi waktu itu sempat waduknya itu banjir, dan tidak saya teruskan," kata dia. 

Baca Juga: Investasi Harus Likuid dan Aman

Tak mau menyerah begitu saja, Andika pun mulai berkecimpung di instrumen investasi emas, dan ia merasa investasi tersebut cukup menguntungkan meski pun masih terdapat sejumlah risiko. Sembari berinvestasi di deposito dan emas, Andika mulai mencoba untuk berinvestasi di instrumen saham meskipun presentasinya hanya sebesar 20%. 

"Jadi saya mempunyai saham 10% di perusahaan saya sendiri ini yaitu CGAS, dan 10%-nya lagi saham saya di perusahaan lainnya," kata Andika.

Dia menjelaskan, presentasi investasinya di instrumen saham hanya 20% karena menurutnya jenis investasi ini belum begitu cocok dengan profil dan kepribadiannya. Pasalnya, dia tidak memiliki banyak waktu untuk memantau harga saham, dan belum mempunyai pengetahuan luas terkait investasi saham. Namun meski begitu, saat ini dirinya terus mencoba untuk belajar lebih dalam terkait investasi tersebut.

"Karena saya saat ini punya saham CGAS ya, jadi lebih belajar dan mengetahui lagi terkait investasi saham ini, jadi saya sedikit-sedikit sudah mengerti terkait pergerakan saham," kata dia,

Baca Juga: Warren Buffett ke Pensiunan: Jangan Pertaruhkan Keamanan Finansial untuk Keluarga

Membatasi Risiko Agar Tidak Gagal Lagi

Andika mengatakan bahwa dirinya pernah gagal berinvestasi di instrumen saham karena tergiur dengan saham emiten yang baru saja menggelar penawaran umum perdana alias initial public offering (IPO). 

Hal itu terjadi lantaran dirinya larut dengan euforia dan tidak mempelajari prospek bisnis dari emiten tersebut. Hingga akhirnya lambat laut nilai saham dari emiten itu anjlok dan Andika mengalami kerugian hingga ratusan juta rupiah. 

Dengan begitu, Andika hanya mempercayakan pada investasi deposito, emas, saham dari perusahaannya sendiri, dan saham dari perusahaan yang kinerjanya punya kecenderungan tumbuh dengan stabil. Menurut dia, memahami proses bisnis dan prospek industri sangat penting untuk membatasi risiko.

Terlebih, karakteristik Andika merupakan investor jangka menengah hingga jangka panjang. Dia pun mengaku tidak cocok dengan instrumen yang berfluktuasi kencang dan berisiko tinggi seperti kripto atau trading saham. 

Baca Juga: Portofolio Risiko Rendah Jadi Alternatif Investasi Tahun Politik

"Memang prinsip investasi saya yang pertama itu keamanannya harus terjaga, yang kedua harus investasi yang likuid atau semi likuid, karena saya berinvestasi untuk jangka menengah dan panjang," ujar Andika. 

Andika menggambarkan, sampai saat ini deposito masih mendominasi portofolio investasi atau aset yang dimilikinya. Porsi deposito mencapai 60%. Kemudian 20% saham termasuk saham di perusahaan CGAS, dan 20% sisanya terbagi atas reksadana obligasi, emas, dan asuransi. 

Dia tak menutup kemungkinan, bisa jadi nantinya porsi saham akan semakin besar atau porsinya berubah.Dia menjelaskan, alasan 60% di deposito karena instrumen investasi tersebut paling aman dan likuid, serta mudah dicairkan ketika dia membutuhkan dana darurat. 

"Mungkin itu bisa berkurang nanti porsinya, kalau saya bisa paham instrumen investasi yang lainnya, seperti reksadana misalnya," ujar Andika.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Wahyu T.Rahmawati