KONTAN.CO.ID - PT Wilton Makmur Indonesia Tbk (SQMI) menjadi perhatian pasar pada awal September 2026 setelah perseroan mengumumkan pengunduran diri Direktur Utama Oktavia Budi Raharjo. Melansir laman
SQMI, surat pengunduran diri tersebut diterima perseroan pada 31 Agustus 2026, sedangkan keputusan atas pengunduran diri tersebut akan dibahas dalam RUPST yang dijadwalkan pada 4 September 2026. Dalam keterbukaan informasi, SQMI menyatakan bahwa pengunduran diri tersebut tidak berdampak terhadap kegiatan operasional, aspek hukum, kondisi keuangan, maupun kelangsungan usaha perseroan.
Dengan demikian, status pengunduran diri tersebut masih menunggu keputusan pemegang saham dalam RUPST.
Baca Juga: Pendapatan ASLC Sentuh Rp1 Triliun, Cek Profil Emiten Otomotif Digital Ini Pengunduran Diri Dirut SQMI
Pengunduran diri Oktavia Budi Raharjo menjadi perkembangan terbaru dalam struktur manajemen SQMI. Perseroan menerima surat pengunduran diri pada 31 Agustus 2026, dan agenda tersebut akan diputuskan dalam RUPST pada 4 September 2026. Sampai keputusan tersebut diambil, informasi mengenai pengganti Direktur Utama perlu menunggu keputusan resmi perusahaan. Bagi investor, pergantian pucuk pimpinan menjadi hal yang perlu diperhatikan karena SQMI sedang berada dalam fase penting untuk mengembangkan bisnis pertambangan emasnya. Di sisi lain, perseroan secara resmi menyatakan bahwa pengunduran diri tersebut tidak berdampak terhadap operasional, kondisi keuangan, aspek hukum, maupun kelangsungan usaha.
Baca Juga: Pabrik VKTR Diresmikan Presiden Prabowo, Cek Profil Emiten hingga Kinerjanya Wilton Resources Tetap Menjadi Pengendali
Struktur pemegang saham juga menjadi salah satu aspek menarik dari SQMI. Wilton Resources Holding Pte Ltd merupakan pemegang saham pengendali. Pada Juli 2026, Wilton Resources menambah kepemilikannya sebanyak 160 juta saham sehingga kepemilikannya meningkat menjadi sekitar 53,50%, dari sebelumnya 52,47%. Hal ini menunjukkan bahwa pengendali masih mempertahankan posisi mayoritas di SQMI ketika perseroan menghadapi perubahan manajemen dan masih membukukan kerugian. Saat ini harga saham SQMI alami kenaikan ke level Rp84/saham dengan kenaikan 33,33% atau 21,00 poin pada sesi 1 hari ini Selasa (1/9). Lalu, seperti apa profil emiten ini? Cek informasi mengenai saham PT Wilton Makmur Indonesia Tbk.
Baca Juga: Dividen Jumbo INDF Segera Cum Date, Cek Profil Emiten hingga Kinerja Terbarunya Profil SQMI
PT Wilton Makmur Indonesia Tbk merupakan emiten yang bergerak terutama di sektor pertambangan emas. Perseroan sebelumnya bernama PT Renuka Coalindo Tbk sebelum berganti nama menjadi Wilton Makmur Indonesia. Kegiatan bisnis Grup Wilton mencakup eksplorasi, penambangan emas, serta produksi dore emas. Aset utama perseroan adalah Ciemas Gold Project yang berlokasi di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Ciemas Gold Project memiliki luas konsesi sekitar 3.078,5 hektare. Wilton menyebut izin usaha pertambangan operasi produksi atau IUP-OP untuk wilayah tersebut berlaku hingga 7 September 2030.
Baca Juga: Saham Melesat, Cek Profil Emiten PICO, Lini Bisnis, hingga Kinerja Terbarunya Lini Bisnis SQMI
Secara garis besar, lini bisnis SQMI dapat dibagi menjadi: 1. Eksplorasi emas Perseroan melakukan kegiatan eksplorasi untuk menemukan dan mengembangkan sumber daya mineral emas di wilayah Ciemas. 2. Penambangan emas Ciemas Gold Project merupakan aset utama kegiatan pertambangan SQMI. Wilayah tersebut terdiri dari beberapa prospek mineralisasi emas yang telah dieksplorasi. 3. Pengolahan dan produksi dore emas Wilton juga memiliki fasilitas pengolahan mineral untuk menghasilkan gold dore, yakni produk antara yang mengandung emas dan perak sebelum proses pemurnian lebih lanjut. Menurut profil perusahaan, Ciemas Gold Project memiliki estimasi cadangan bijih sekitar 3,26 juta ton dengan kadar rata-rata 7,7 gram emas per ton berdasarkan laporan IQPR yang digunakan perseroan. Estimasi sumber daya juga mencakup sekitar 3,415 juta ton measured & indicated serta 2,559 juta ton inferred. Namun, angka sumber daya dan cadangan tersebut perlu dibaca dengan memperhatikan tanggal laporan dan asumsi teknis yang mendasarinya, bukan dianggap sebagai jumlah produksi emas yang langsung dapat direalisasikan.
Baca Juga: BIPP Segera Private Placement, Cek Profil Emiten Properti dan Kinerja Terbarunya Manajemen SQMI
1. Susunan Direksi SQMI
| Nama | Jabatan | Terafiliasi |
| Oktavia Budi Raharjo (Proses Pengunduran Diri) | Direktur Utama | Ya |
| Andrianto Darmasaputra Lawrence | Direktur | Ya |
| Chia Wei Yang (Ethan) | Direktur | Ya |
2. Susunan Komisaris SQMI
Kinerja Terbaru SQMI
Melansir data
BEI, kinerja keuangan terbaru SQMI berasal dari laporan keuangan semester I 2026 atau periode yang berakhir pada 30 Juni 2026. Perseroan membukukan pendapatan Rp591,04 juta, turun dari Rp925,58 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya. Laba bruto juga turun menjadi Rp406,04 juta, dibandingkan Rp439,28 juta pada semester I 2025. Meski pendapatan turun, beban usaha berhasil ditekan cukup signifikan. Berikut gambaran kinerja SQMI:
| Indikator | 1H 2026 | 1H 2025 |
| Pendapatan | Rp591,04 juta | Rp925,58 juta |
| Laba bruto | Rp406,04 juta | Rp439,28 juta |
| Beban usaha | Rp13,52 miliar | Rp33,21 miliar |
| Rugi usaha | Rp13,11 miliar | Rp32,77 miliar |
| Rugi sebelum pajak | Rp17,08 miliar | Rp38,69 miliar |
| Rugi bersih yang diatribusikan kepada pemilik | Rp20,36 miliar | Rp41,48 miliar |
Dari angka tersebut terlihat bahwa SQMI masih membukukan kerugian, tetapi besarnya kerugian berhasil ditekan sekitar 50,9% secara tahunan. Penurunan kerugian terutama terlihat pada level beban usaha dan rugi operasional. Pada kuartal I 2026 saja, SQMI mencatat pendapatan Rp302,45 juta dan rugi bersih Rp11,88 miliar. Apabila dibandingkan dengan semester I, berarti pada kuartal II 2026 pendapatan sekitar Rp288,59 juta dan rugi bersih sekitar Rp8,49 miliar berdasarkan perhitungan dari laporan enam bulan. Dengan demikian, kerugian kuartalan membaik dibandingkan kuartal I. Dari sisi neraca, total aset SQMI pada 30 Juni 2026 tercatat sekitar Rp512,32 miliar, sedikit turun dari Rp513,14 miliar pada akhir 2025.
Sementara itu, total liabilitas meningkat menjadi Rp422,30 miliar, dari Rp402,45 miliar pada 31 Desember 2025. Artinya, meskipun kerugian bersih berhasil ditekan, posisi keuangan SQMI tetap perlu diperhatikan karena liabilitas meningkat ketika perusahaan masih mencatat rugi bersih.
Tonton: Harga BBM Pertamina 1 September 2026 Naik, Ini Daftar Terbarunya Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News