Disandera Perompak Somalia Sejak April 2026, 4 WNI Bebas, Ini Cerita Pembebasannya



KONTAN.CO.ID - Empat Warga Negara Indonesia (WNI) yang disandera perompak Somalia akhirnya bebas dalam kondisi selamat. Mereka berhasil dibebaskan oleh aparat Somalia setelah menjalani penyanderaan sejak April 2026.

Kapten kapal tanker MT Honour 25, Ashari Samadikun, akhirnya berhasil dibebaskan setelah lebih dari lima bulan disandera kelompok perompak Somalia.

Kabar kebebasan Ashari membuat ayahnya, Syamsuddin, terharu. Ia mengaku berulang kali mengucapkan syukur setelah menerima kabar langsung dari sang anak.


Ashari bersama tiga warga negara Indonesia (WNI) lainnya merupakan bagian dari 17 awak kapal MT Honour 25 yang dibajak sejak April 2026.

"Anak saya (Ashari) sudah ambil dia punya HP. Dia sampaikan apa yang ada. Tapi dalam kondisi yang masih kacau," ujar Syamsuddin.

Operasi pembebasan berlangsung dramatis

Pembebasan para sandera berlangsung pada Selasa (29/9/2026) pagi, ketika aparat bersenjata Puntland, wilayah semi-otonomi di Somalia, menyerbu kapal yang dikuasai perompak.

Operasi tersebut diwarnai baku tembak. Dalam insiden itu, sejumlah awak kapal mengalami luka-luka dan lima sandera dilaporkan tewas.

Wakil Menteri Informasi Puntland Bile Qabowsade mengatakan kepada BBC Somali, lima sandera yang meninggal dunia terdiri dari tiga warga Pakistan, satu warga India, dan satu warga Myanmar.

Sementara itu, berdasarkan informasi yang diterima Syamsuddin dari Ashari, salah satu awak kapal asal Indonesia, Fiki Mutakin, juga mengalami luka akibat insiden tersebut.

Otoritas setempat menyebut 16 orang yang diduga sebagai perompak telah ditangkap. Sementara sejumlah pelaku lainnya melarikan diri dan masih dalam pengejaran.

Baca Juga: Insentif MBG Jadi Rp2.000 per Porsi, CORE Soroti Risiko Manipulasi Jumlah Porsi

Lima ABK menjalani perawatan

Setelah operasi pembebasan, para awak kapal yang terluka belum dapat langsung dievakuasi ke Bosaso karena kondisi keamanan di sekitar lokasi masih belum stabil.

Selain itu, perjalanan menuju Bosaso melalui jalur laut diperkirakan membutuhkan waktu sekitar lima hari. Evakuasi menggunakan helikopter juga belum memungkinkan.

Sebanyak lima awak kapal yang terluka kemudian dibawa ke rumah sakit terdekat di Gorawe untuk mendapatkan perawatan medis.

Sementara tujuh awak kapal lainnya dibawa ke Bosaso dengan pengawalan aparat. Mereka terdiri atas tiga WNI, yakni Ashari Samadikun, Wahudinanto, dan Adi Faizal, serta empat warga Pakistan.

Sesampainya di Bosaso, para awak kapal untuk sementara ditempatkan di hotel sambil menunggu perkembangan lebih lanjut.

Tonton: Kopilot Flydubai Diduga Coba Bajak Pesawat dengan Kapak, 170 Penumpang Dievakuasi ke Arab Saudi

Empat WNI belum dipastikan pulang

Empat WNI yang berada di dalam MT Honour 25 adalah Ashari Samadikun sebagai kapten kapal, Adi Faizal selaku 2nd Officer, Wahudinanto sebagai Chief Officer, dan Fiki Mutakin.

Syamsuddin mengatakan, kepulangan para WNI masih menunggu kondisi kesehatan dan penyelesaian dari pihak perusahaan.

Ashari sendiri disebut belum ingin pulang ke Indonesia sebelum Fiki Mutakin yang masih menjalani perawatan dapat ikut kembali.

"Anak saya (Ashari) belum mau pulang kalau belum bersama Fiki," kata Syamsuddin.

Menurut dia, Ashari kini dalam kondisi lebih tenang setelah berhasil keluar dari penyanderaan. Namun, keluarga masih menunggu situasi keamanan membaik serta penyelesaian terkait awak kapal yang meninggal dan terluka.

Baca Juga: Wajib Pajak Bersiap! Pengawasan DJP Makin Ketat hingga Akhir Tahun

Disandera sejak April

MT Honour 25 dibajak kelompok perompak bersenjata pada 21 April 2026 ketika berada di lepas pantai Somalia. Kapal tanker tersebut membawa sekitar 18.500 barel minyak yang akan dikirim menuju Mogadishu, ibu kota Somalia.

Kapal tersebut memiliki 17 awak, termasuk empat WNI.

Selama lebih dari lima bulan dalam penyanderaan, para awak kapal beberapa kali mendapat kesempatan menghubungi keluarga secara bergantian menggunakan telepon kapal.

Para perompak juga disebut sempat mengajukan tuntutan tebusan kepada perusahaan. Namun, negosiasi tersebut tidak kunjung menemukan penyelesaian.

Kondisi para sandera kemudian semakin memprihatinkan. Sebagian awak jatuh sakit, sementara persediaan makanan dan air minum di kapal semakin terbatas.

"Mereka hanya bertahan dengan kesabaran dan doa serta sisa beras yang harus diirit," ujar Syamsuddin.

Sumber: https://internasional.kompas.com/read/2026/10/04/150000570/5-bulan-disandera-bajak-laut-somalia-4-wni-akhirnya-bebas?page=all#page2. 

 

WAWANCARA EKSKLUSIF PROF FAN GANG: Ekonomi di Ujung Tanduk, Kemana Arah Investasi China?
© 2026 Konten oleh Kontan
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

TAG: