KONTAN.CO.ID -Â WASHINGTON. Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali menyulut hubungan panas dengan Kuba. Trump menyebut Kuba adalah negara gagal dan kebebasan akan hadir di negara kepulauan tersebut. Pernyataan soal Kuba ini disampaikan Trump dalam pidatonya di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Selasa (22/9/2026) waktu AS, sebuah pernyataan yang meningkatkan ketegangan dengan pemerintah komunis di Kuba.
Washington secara terbuka menyatakan tujuannya untuk mengubah pemerintahan Kuba, dan blokade minyak yang diberlakukan AS sejak awal tahun ini telah memberikan tekanan berat bagi negara tersebut di tengah masalah kekurangan bahan bakar dan pemadaman listrik yang diperparah oleh infrastruktur yang rusak. "Pemerintahan saya juga mengupayakan perubahan mendasar dalam situasi di Kuba, di mana rezim komunis berada di bawah tekanan hebat—tekanan terbesar yang pernah mereka alami. Itu benar-benar negara gagal, kondisinya memburuk lebih parah dari sebelumnya, dan rezim itu akan runtuh," ujar Trump dalam pidatonya di hadapan Majelis Umum PBB seperti dilansir
Reuters. "Komunisme tidak akan pernah masuk ke Amerika, tetapi kebebasan akan hadir di Kuba."
Baca Juga: Sekjen PBB: Solusi Dua Negara Palestina-Israel Tak Punya Alternatif Delegasi Kuba meninggalkan ruang sidang Majelis Umum PBB saat Trump sedang berpidato. Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel kemudian menyatakan melalui unggahan di situs media sosial X bahwa Kuba akan mempertahankan kedaulatannya, serta menuduh Trump menggambarkan negaranya sebagai ancaman demi membenarkan tindakan keras yang diambil AS.
AS telah memberlakukan embargo perdagangan terhadap Kuba selama lebih dari 60 tahun, dan pemerintahan Trump terus meningkatkan tekanan setelah sebelumnya menggunakan militer pada bulan Januari untuk menyingkirkan Presiden Venezuela Nicolas Maduro. Trump pernah menyebut Kuba sebagai negara gagal di masa lalu, termasuk pada bulan Juni, saat ia mengatakan bahwa AS memiliki rencana yang sangat baik untuk Kuba dan akan mengurus negara tersebut. Kuba telah menjadi pihak yang berseberangan dengan AS selama beberapa dekade, sejak revolusi Fidel Castro pada tahun 1959. Trump mendapat dukungan kuat dari warga Amerika keturunan Kuba berhaluan keras di Florida, yang selama puluhan tahun mendesak dilakukannya pergantian rezim yang diprakarsai oleh AS.
Baca Juga: Sekjen PBB: Solusi Dua Negara Palestina-Israel Tak Punya Alternatif