Diserang hacker, operator pipa bahan bakar terbesar di AS berhenti beroperasi



KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Operator pipa bahan bakar Amerika Serikat (AS), Colonial Pipeline, harus menutup seluruh jaringannya setelah mendapatkan serangan hacker sejak Jumat (7/5). 

Mengutip Reuters, Colonial Pipeline yang mengirim hampir setengah dari pasokan bahan bakar di wilayah East Cost terpaksa menutup seluruh jaringannya setelah adanya serangan siber yang melibatkan virus ransomware yang membuat sistem perusahaan yang mati. 

Insiden ini menjadi salah satu ancaman siber paling mengganggu yang pernah dilaporkan dan telah menarik perhatian betapa rentannya infrastruktur energi AS terhadap peretas. 


Penghentian saluran yang berkepanjangan akan menyebabkan harga melonjak di pompa bensin menjelang puncak musim mengemudi yang biasa terjadi pada musim panas. Hal ini berpotensi menjadi pukulan bagi konsumen dan ekonomi Negeri Paman Sam.

"Ini sedekat yang bisa Anda dapatkan trehadap sistem infrastruktur di Amerika Serikat," kata Amy Myers Jaffe, profesor riset dan direktur pelaksana  Climate Policy Lab. 

Selama ini, Colonial mengangkut 2,5 juta barel bensin per hari, dan bahan bakar lainnya melalui jalur pipa sepanjang 5.500 mil (8.850 km) yang menghubungkan penyulingan di Pantai Teluk ke wilayah bagian timur dan selatan AS.  Perusahaan ini juga melayani beberapa bandara terbesar di negara itu, termasuk Bandara Hartsfield Jackson Atlanta, yang tersibuk di dunia menurut lalu lintas penumpang.

Baca Juga: Prancis sepakat menjual 30 unit jet tempur Rafale ke Mesir senilai US$ 4,5 miliar

Perusahaan mengatakan menutup operasinya setelah mengetahui adanya serangan dunia maya pada hari Jumat yang menggunakan ransomware.

"Colonial Pipeline mengambil langkah-langkah untuk memahami dan menyelesaikan masalah ini. Saat ini, fokus utama kami adalah pemulihan layanan kami secara aman dan efisien dan upaya kami untuk kembali ke operasi normal," jelas perusahaan dalam pernyataannya.

Sementara itu, penyelidikan pemerintah AS baru memasuki tahap awal, seorang mantan pejabat dan dua sumber industri mengatakan para peretas kemungkinan adalah kelompok penjahat dunia maya profesional.

Mantan pejabat itu mengatakan para penyelidik sedang melihat kelompok yang dijuluki "DarkSide," yang dikenal sering menyebarkan ransomware dan memeras korban sambil menghindari sasaran di negara-negara pasca-Soviet. 

Ransomware adalah jenis malware yang dirancang untuk mengunci sistem dengan mengenkripsi data dan menuntut pembayaran untuk mendapatkan kembali akses.

Colonial mengatakan telah melibatkan firma keamanan siber untuk membantu penyelidikan dan menghubungi penegak hukum dan agen federal.

Sumber industri keamanan siber menambahkan, perusahaan keamanan siber FireEye didatangkan untuk menanggapi serangan itu. Namun hingga berita ini ditulis, FireEye menolak berkomentar.

Badan-badan pemerintah AS, termasuk FBI, mengatakan, mereka mengetahui situasi tersebut tetapi belum memiliki rincian siapa yang berada di balik serangan itu.

Selanjutnya: Kematian akibat Covid-19 terus melonjak, India akan berlakukan penguncian lebih ketat

Editor: Anna Suci Perwitasari