Disokong Sinyal Dovish The Fed, Rupiah Menguat Tipis dalam Sepekan



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pergerakan nilai tukar rupiah cenderung menguat dalam sepekan terakhir, ditopang meredanya spekulasi kenaikan suku bunga Bank Sentral Amerika Serikat (AS) The Fed serta masuknya arus modal asing ke pasar domestik.

Mengutip data Bloomberg pada Jumat (4/9/2026), rupiah ditutup menguat 0,21% atau 37 poin ke level Rp 17.642 per dolar AS dari hari sebelumnya.

Secara mingguan, nilai tukar mata uang Garuda juga menguat 0,28% atau 50 poin dibandingkan posisi Jumat (28/8) yang berada di level Rp 17.692 per dolar AS.


Sementara itu, mengutip kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia, rupiah pada Jumat (4/9) berada di level Rp 17.636 per dolar AS, menguat 0,30% atau 53 poin dari posisi hari sebelumnya di Rp 17.689 per dolar AS.

Baca Juga: Rupiah Ditutup Menguat ke Rp 17.642 Per Dolar AS Hari Ini (4/9), Mayoritas Asia Naik

Jika dibandingkan dengan perdagangan Jumat (28/8) yang sebesar Rp 17.703 per dolar AS, rupiah JISDOR secara mingguan tercatat menguat 0,38% atau 67 poin.

Research & Development ICDX Muhammad Amru Syifa menjelaskan bahwa dinamika pergerakan rupiah sepanjang pekan dipengaruhi sinyal kebijakan The Fed, rilis data ekonomi AS, dan risiko geopolitik.

Tekanan sempat membayangi mata uang emerging market di awal pekan akibat pernyataan hawkish pejabat The Fed, sebelum akhirnya berbalik menguat menjelang akhir pekan.

"Komentar Gubernur The Fed, Christopher Waller, yang membuka ruang untuk mempertahankan suku bunga jika inflasi terus mereda kembali menekan dolar AS dan mendukung mata uang Asia, termasuk rupiah," ujar Amru kepada Kontan, Jumat (4/9).

Dari sisi internal, kondisi ekonomi domestik memberikan penahan bagi pergerakan mata uang Garuda. Inflasi Agustus naik menjadi 3,19% secara tahunan (yoy), tetapi masih dalam rentang sasaran Bank Indonesia.

Baca Juga: Rupiah Dibuka Menguat ke Rp 17.631 Per Dolar AS Hari Ini (4/9), Paling Kuat di Asia

Neraca perdagangan Juli juga mencatatkan surplus sekitar US$ 130 juta, kendati pertumbuhan impor yang mencapai 27,02% yoy membayangi kebutuhan valas di dalam negeri.

Selain itu, indeks manajer pembelian (PMI) manufaktur turun ke zona kontraksi di level 49,8.

Secara terpisah, Research & Education Coordinator Valbury Asia Futures. Nanang Wahyudin. menilai sentimen positif rupiah turut ditopang kepastian kepemimpinan di Bank Indonesia pascapelantikan Gubernur BI Destry Damayanti untuk periode 2026–2031.

Langkah tersebut memberi kepastian pasar terkait komitmen untuk menjaga independensi serta stabilitas nilai tukar.

"Data terbaru menunjukkan aliran dana asing kembali mendukung aset Indonesia; cadangan devisa juga dilaporkan meningkat menjadi sekitar US$ 146 miliar pada Agustus. Ini menjadi bantalan positif bagi rupiah," kata Nanang.

Meski demikian, penguatan rupiah sepanjang pekan sempat tertahan  eskalasi geopolitik di Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga minyak global, serta lonjakan imbal hasil (yield) US Treasury di awal pekan yang sempat meningkatkan daya tarik dolar AS.

Baca Juga: Rupiah Fluktuatif di Tengah Kenaikan Harga Minyak, Simak Prospeknya Hingga Akhir 2026

Memasuki pekan depan (4–11 September), fokus utama pasar akan tertuju pada rilis data tenaga kerja (Non-Farm Payrolls) dan inflasi AS, pergerakan yield US Treasury, serta perkembangan geopolitik global.

Untuk rentang pergerakan sepekan ke depan, Amru memproyeksikan rupiah bergerak pada kisaran Rp 17.500–Rp 17.850 per dolar AS dengan kecenderungan stabil hingga menguat terbatas.

Sementara itu, Nanang memperkirakan rupiah bergerak dalam rentang Rp 17.550–Rp 17.800 per dolar AS.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News