KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Tekanan terhadap rupiah berisiko semakin dalam jika paparan sentimen negatif dari usulan perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia oleh
Morgan Stanley Capital International (MSCI) memicu arus keluar modal asing yang berkelanjutan. Tak hanya pasar saham dan nilai tukar, tekanan juga perlu diwaspadai merembet ke pasar surat berharga negara (SBN) melalui kenaikan premi risiko Indonesia. Asal tahu saja, MSCI mengusulkan perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market. Usulan tersebut berdasarkan hasil penilaian MSCI terhadap transparansi dan tata kelola pasar saham Indonesia, yang belum menunjukkan perbaikan memadai sejak Februari 2026.
Baca Juga: Pasar Saham Kacau Balau, Investor Ritel Harus Apa? Tamparan tersebut telah berdampak ke rupiah yang ambruk signifikan hari ini. Rupiah melemah tajam pada perdagangan Jumat (16/10) menjadi Rp 18.027 per dolar Amerika Serikat (AS), melemah atau 0,50% secara harian. Dalam sepekan, kurs rupiah spot melemah 0,71%. Ekonom Universitas Andalas, Syafruddin Karimi, mengatakan tekanan rupiah saat ini lebih serius karena terjadi akibat kombinasi guncangan global dan faktor spesifik domestik. Reuters mencatat, aksi jual bersih investor asing di pasar saham Indonesia mencapai sekitar US$ 4,7 miliar sepanjang 2026. Di tengah tekanan tersebut, rupiah sempat menyentuh Rp 18.070 per dolar Amerika Serikat (AS), mendekati rekor pelemahan di level Rp 18.190 per dolar AS. “Meski begitu, pelemahan rupiah belum otomatis berarti krisis eksternal. Level Rp 18.190 menjadi batas psikologis pertama,” jelas Syafruddin kepada Kontan, Jumat (16/10/2026). Ia memperkirakan bila sentimen MSCI bertahan, indeks dolar AS (DXY) dan imbal hasil obligasi pemerintah AS tetap tinggi, serta arus keluar modal asing berlanjut, rupiah berisiko bergerak ke kisaran Rp 18.200-Rp 18.500 per dolar AS. Dalam skenario yang lebih buruk, rupiah bahkan berpotensi tertekan hingga kisaran Rp 18.500-Rp 18.800 per dolar AS. Namun, skenario tersebut membutuhkan tekanan tambahan, seperti lonjakan harga minyak, kenaikan imbal hasil global, serta pelebaran
credit default swap (CDS) Indonesia. Syafruddin juga bilang, sentimen MSCI ini secara tak langsung bisa menyasar pasar obligasi negara. Ketika arus keluar asing dari pasar saham meningkatkan permintaan dolar AS, pelemahan rupiah dapat membuat investor obligasi meminta kompensasi lebih tinggi atas risiko nilai tukar. Jika tekanan kurs bertahan, ruang pelonggaran kebijakan moneter Bank Indonesia (BI) juga dapat menyempit. Imbal hasil atau yield SBN tenor 10 tahun saat ini berada di sekitar 7,17%. Menurut Syafruddin, zona 7,3%-7,5% perlu dipantau sebagai indikasi bahwa tekanan yang bermula dari pasar saham mulai menjalar ke pasar obligasi. Risiko akan semakin besar apabila CDS tenor lima tahun kembali melebar di atas 100 basis poin dan investor asing turut menjual SBN. Untuk meredam tekanan itu, Syafruddin menyebut respons otoritas perlu dibagi antara upaya stabilisasi pasar dan pemulihan kredibilitas pasar modal. BI perlu menjaga likuiditas valuta asing dan meredam pergerakan rupiah yang berlebihan melalui intervensi di pasar s
pot, domestic non-deliverable forward (DNDF),
offshore NDF,
foreign exchange swap, serta pengelolaan SBN. Sementara itu, Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) perlu berfokus pada perbaikan transparansi kepemilikan manfaat atau
beneficial ownership, free float efektif, kualitas pembentukan harga saham, pengawasan transaksi, serta penegakan aturan terhadap manipulasi pasar. “Pemerintah juga perlu menjaga konsistensi kebijakan fiskal dan komunikasi agar shock MSCI tidak berkembang menjadi keraguan yang lebih luas terhadap
policy credibility,” tandasnya. Di tengah volatilitas rupiah, Syafruddin mengingatkan investor untuk lebih berfokus pada manajemen risiko daripada menebak arah pergerakan kurs dalam jangka pendek. Investor perlu memetakan eksposur dolar AS, termasuk kebutuhan impor, utang valas, pendapatan dalam dolar AS, dan horizon investasi. Perbedaan karakteristik tersebut menentukan kebutuhan lindung nilai atau hedging masing-masing investor.
Sementara itu, investor portofolio perlu mengurangi penggunaan leverage, menjaga kecukupan kas, dan menghindari konsentrasi pada aset yang sensitif terhadap pelemahan rupiah sekaligus kenaikan yield. Diversifikasi ke aset berpendapatan dolar AS juga dapat membantu mengurangi ketidaksesuaian antara pendapatan dan kewajiban valas. Meski begitu, keputusan investasi tetap perlu mempertimbangkan valuasi dan likuiditas aset.
Baca Juga: IHSG Anjlok 11,4%, Usulan Penurunan Status MSCI Picu Risiko Dana Asing Keluar Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News