Distribusi dan Produksi Energi Diperkuat



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Stok bahan bakar minyak (BBM) nasional dipastikan masih aman di tengah gejolak global. Pemerintah memperkuat distribusi dan meningkatkan produksi domestik untuk menjaga ketahanan energi.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyebut, stok BBM nasional saat ini cukup untuk 16–18 hari. Pemerintah juga mempercepat penyaluran agar kebutuhan masyarakat di berbagai daerah terpenuhi. “Jadi stok BBM nasional, insya Allah, itu aman,” ujar Bahlil dalam keterangannya dikutip Senin (19/2025).

Untuk memperlancar distribusi, Kementerian ESDM meminta Pertamina menambah kapal pengangkut BBM, terutama untuk jalur Jawa Timur–Bali dan wilayah yang mengandalkan transportasi laut. Stok BBM RON 90 juga ditargetkan kembali cukup untuk 20 hari dalam sepekan, seiring kenaikan permintaan akibat peralihan konsumen dari bensin beroktan lebih tinggi.


Sementara itu, Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) melaporkan penyaluran BBM di sejumlah SPBU di Mojokerto, Jawa Timur, kembali normal. Dalam keterangan pada Sabtu (17/10/2026), BPH Migas menyebut pasokan telah kembali disalurkan dari Terminal BBM Surabaya.

Baca Juga: Buntut Kelangkaan BBM Bali, Bahlil Instruksikan Pertamina Naikkan HOP Jadi 15 Hari

Sebelumnya, distribusi menggunakan jalur alternatif dari Boyolali dengan waktu tempuh sekitar sembilan jam. Pemantauan dilakukan untuk memastikan pasokan BBM bagi masyarakat tetap terjaga.

Pemerintah memperkuat pasokan energi domestik melalui penambahan produksi LPG, peningkatan produksi minyak dari sumur rakyat, dan pengembangan bioetanol untuk mengurangi ketergantungan impor.

Menteri ESDM telah meresmikan pengoperasian Kilang LPG Cilamaya di Karawang, Jawa Barat, pada 15 Oktober 2026. Fasilitas milik PT Energi Nusantara Perkasa itu mampu menghasilkan sekitar 160 ton LPG per hari, dengan kapasitas pengolahan gas mencapai 40 juta standar kaki kubik per hari. 

Kementerian ESDM mencatat, kebutuhan LPG nasional mencapai sekitar 9 juta ton per tahun. Sementara itu, produksi domestik baru sekitar 1,9 juta ton atau 21% dari kebutuhan nasional. Pemerintah juga menyiapkan gas alam terkompresi (CNG) sebagai alternatif LPG.

Baca Juga: Ini Catatan DEN Agar Gangguan Distribusi BBM dan Blackout Listrik Tak Berulang

Di sektor hulu, pemerintah mendorong peningkatan produksi minyak melalui pengelolaan sumur rakyat. ESDM pada 12 Oktober 2026 menyebut sejumlah sumur berizin di Sumatera dan Jawa telah berproduksi. Pemerintah juga telah menandatangani izin pengelolaan sumur rakyat di Aceh.

Upaya mengurangi impor energi turut dilakukan melalui pengembangan bioetanol sebagai campuran bensin. Konsumsi bensin nasional mencapai sekitar 40 juta kiloliter per tahun, sedangkan produksi domestik berkisar 18 juta–19 juta kiloliter.

Pemerintah menyiapkan penerapan campuran etanol secara bertahap hingga E50, dengan target pengembangan menuju 2028. Untuk tahap E20, kebutuhan etanol diperkirakan mencapai 8 juta kiloliter.

Bahan baku bioetanol akan dikembangkan di Jawa, Sumatera, dan Papua, antara lain dari singkong, tebu, dan jagung. Bahlil menegaskan, pengembangan bioetanol harus didukung produksi dalam negeri agar tidak menambah ketergantungan impor. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

TAG: