Ditanya Proses IPO, Begini Respons Pertamina Geothermal Energy



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kabar penawaran umum saham perdana alias initial public offering (IPO), PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) kembali mencuat. Diharapkan anak usaha PT Pertamina (Persero) ini dapat melantai tahun ini atau awal tahun depan. 

Saat dikonfirmasi Kontan.co.id, Sekretaris Perusahaan Pertamina Geothermal Energy Muhammad Baron menyebut perusahaan masih fokus untuk pengembangan energi panas bumi dan mendukung program pemerintah. 

"Terkait hal lainnya kami selalu mengikuti arahan shareholder dan berkoordinasi agar semua bisa berjalan lancar," jelas Baron saat dihubungi Kontan.co.id, Jumat (14/10).


Baca Juga: BEI Kantongi 40 Perusahaan dalam Pipeline IPO, Berikut Tiga Sektor yang Mendominasi

Sampai saat ini, lanjut Baron, Pertamina Geothermal Energy masih terus mengembangkan potensi yang ada di area perusahaan. Asal tahu saja, anak usaha Pertamina ini mengelola 13 Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP). 

Sebelumnya, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Inarno Djajadi berharap penawaran umum perdana alias initial public offering (IPO) BUMN akan ada di tahun ini. Dia juga berharap IPO PGE bisa terlaksana 2022 ini atau awal 2023. 

"Pertamina Geothermal Energy, juga masih dalam proses. Mudah-mudahan akhir tahun ini atau awal tahun depan," ucap Inarno dalam konferensi pers Prioritas Kebijakan dan Penguatan Pengawasan Pasar Modal, Jumat (14/10). 

Deputi Komisioner Pengawas Pasar Modal II OJK Yunita Linda Sari menambahkan, IPO Pertamina Geothermal Energy masih dalam proses untuk penyesuaian akan kebutuhan dari perusahaan. 

Baca Juga: Kementerian BUMN Pacu Pertamina Lanjutkan 8 Inisitaif Strategi Transisi Energi

Dalam pemberitaan Kontan.co.id sebelumnya, anak usaha usaha PT Pertamina (Persero) ini dikabarkan akan melaksanakan IPO pada Oktober 2022. Adapun valuasi PGE mencapai US$ 2,2 miliar atau setara Rp 32 triliun. 

PGE sempat dikabarkan bakal melepas 25% dari modal ditempatkan dan disetor ke publik. Adapun nilai emisi IPO yang akan didapat perusahaan berpotensi capai Rp 8 triliun. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Herlina Kartika Dewi