KONTAN.CO.ID - SAN FRANCISCO. Saham SpaceX ditutup naik tipis 0,15% pada Jumat, menjelang masuknya perusahaan milik Elon Musk tersebut ke dalam indeks Russell, yang memicu pembelian besar-besaran oleh dana pasif senilai miliaran dolar AS. Dana yang dikelola secara pasif dan mengikuti indeks Russell U.S. Indexes diwajibkan menyesuaikan portofolio mereka dengan menambahkan saham SpaceX, yang diperkirakan bernilai miliaran dolar. Volume perdagangan saham SpaceX mencapai sekitar US$ 19 miliar pada hari itu, dengan hampir setengahnya terjadi pada menit-menit akhir perdagangan.
Baca Juga: Aramco Kirim Minyak Lagi Setelah Empat Bulan, Jalur Hormuz Mulai Stabil Setelah penawaran umum perdana (IPO) besar-besaran bulan ini, saham SpaceX mengalami pergerakan yang sangat fluktuatif. Saham tersebut sempat melonjak 67% hingga mencapai level intraday tertinggi US$ 225,64 pada 16 Juni, sebelum turun ke penutupan Jumat di US$ 153,23. Meski demikian, harga saham masih berada di atas harga IPO sebesar US$ 135, di tengah upaya investor menilai ulang valuasi perusahaan yang masih merugi US$ 4,9 miliar tahun lalu, namun diperkirakan akan mendominasi pasar internet satelit, kecerdasan buatan (AI), dan peluncuran antariksa komersial di masa depan. FTSE Russell akan memasukkan SpaceX ke dalam indeks Russell setelah penutupan perdagangan Jumat sebagai bagian dari rebalancing semi-tahunan. Langkah ini membuat dana ETF yang mengikuti indeks, seperti iShares yang melacak Russell 1000, harus membeli saham SpaceX sebelum perdagangan hari Senin. Analis kuantitatif Stephens, Melissa Roberts, memperkirakan dana pasif perlu membeli lebih dari 4 miliar dolar AS saham SpaceX untuk menyesuaikan portofolio mereka. Selain itu, SpaceX juga akan dimasukkan ke dalam indeks teknologi besar Nasdaq 100 pada 7 Juli. Hal ini akan memicu pembelian tambahan dari ETF besar seperti Invesco yang melacak indeks tersebut.
Baca Juga: AS Kembali Serang Iran Jumat (26/6), Eskalasi Konflik Selat Hormuz Memanas Setelah tekanan dalam beberapa sesi terakhir, SpaceX diperdagangkan pada valuasi sekitar 107 kali penjualan tahun 2025, jauh di atas perusahaan teknologi besar lain seperti Nvidia yang diperdagangkan sekitar 21 kali penjualan. Sementara itu, lembaga pemeringkat indeks S&P Global menolak memasukkan SpaceX ke dalam indeks S&P 500 karena perusahaan belum memenuhi syarat profitabilitas, yaitu harus mencatat laba pada kuartal terakhir dan secara kumulatif dalam empat kuartal terakhir. Aturan tersebut menjadi hambatan bagi perusahaan teknologi besar yang baru IPO untuk langsung masuk ke indeks utama AS.