Ditopang Data PDB, Rupiah Berpeluang Menguat di Rp 17.900 per Dolar Kamis (6/8)



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Laju nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) berpeluang melanjutkan tren positif di tengah meredanya tekanan eksternal dan kuatnya fondasi domestik.

Mengutip data Bloomberg pada Rabu (5/8/2026), rupiah di pasar spot ditutup menguat 0,52% ke posisi Rp 17.933 per dolar AS.

Sementara berdasarkan data Trading Economics, rupiah parkir di level Rp 17.919,6 per dolar AS (menguat 0,28%), dan mengacu pada Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia, mata uang Garuda mencatatkan penguatan sebesar 0,55% ke level Rp 17.937 per dolar AS dari posisi hari sebelumnya.


Baca Juga: IHSG Berpeluang Lanjutkan Penguatan pada Kamis (6/8), Ini Rekomendasi Analis

Ekonom Universitas Andalas Syafruddin Karimi menilai bahwa pergerakan rupiah didorong oleh melemahnya permintaan terhadap dolar AS setelah pasar melihat peluang deeskalasi konflik AS–Iran serta pembukaan kembali Selat Hormuz.

Prospek normalisasi jalur energi tersebut sukses menurunkan harga minyak mentah dan menurunkan imbal hasil (yield) Treasury AS tenor 10 tahun menuju level 4,60%.

Kondisi ini memberikan keuntungan bagi Indonesia karena meredakan risiko inflasi impor, menekan kebutuhan valas untuk energi, serta meringankan beban subsidi, sementara Indeks Dolar (DXY) ikut melandai ke 99,814.

Dari dalam negeri, sentimen positif turut ditopang oleh rilis Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal II-2026 sebesar 5,29%.

Angka tersebut melampaui konsensus Reuters di level 5,10%, meski melambat dari 5,61% pada kuartal sebelumnya.

Penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebesar 0,56% serta penurunan yield SBN 10 tahun dari 7,36% menjadi 7,277% turut memperkuat masuknya aliran modal asing berbasis risiko ke pasar domestik.

Kendati demikian, para pelaku pasar tetap mencermati sejumlah dinamika ke depan.

Pergerakan rupiah akan sangat dipengaruhi oleh kelanjutan perundingan diplomasi AS–Iran, kepastian pembukaan Selat Hormuz, serta rilis data ketenagakerjaan AS seperti laporan ADP dan Nonfarm Payrolls (NFP) yang menentukan arah suku bunga The Fed.

Baca Juga: Indeks Dolar AS Melemah Tipis, Begini Masa Depan Safe Haven Sang Greenback

Selain itu, pasar juga memantau kualitas pertumbuhan PDB domestik di tengah perlambatan konsumsi rumah tangga ke level 5,06%, tingkat arus modal asing, serta langkah stabilisasi lanjutan dari Bank Indonesia.

Untuk perdagangan Kamis (6/8/2026), Syafruddin memproyeksikan rupiah berpeluang bergerak pada kisaran Rp 17.900–Rp 17.980 per dolar AS.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News