Ditopang Harga Timah, TINS Raih Pendapatan Rp 11,55 Triliun pada 2025



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Timah Tbk (TINS) mengumumkan Laporan Keuangan Konsolidasian untuk tahun yang berakhir 31 Desember 2025 yang telah diaudit.

Sepanjang tahun 2025, harga logam timah global tercatat naik dibandingkan tahun sebelumnya yang didukung oleh meningkatnya permintaan untuk semikonduktor, panel fotovoltaik dan teknologi transisi energi lainnya. 

Harga rata-rata logam timah Cash Settlement Price London Metal Exchange (LME) tahun 2025 tercatat sebesar US$ 34.119,96 per ton atau naik 13% dibandingkan dengan tahun sebelumnya yakni sebesar US$ 30.177,45 per ton. Persediaan timah di gudang LME pada akhir Desember 2025 berada di posisi 5.420 ton, naik 14% dari awal tahun 2025 di posisi 4.760 ton.


Baca Juga: IHSG Ambruk 1,27% ke 7.445 Sesi I, Top Losers LQ45: BREN, DSSA, & BRPT, Kamis (23/4)

Berdasarkan CRU Tin Monitor, pada 2025 produksi logam timah global diperkirakan sebesar 371.369 ton, sedangkan konsumsi logam timah global diperkirakan sebesar 389.404 ton.

Seiring dengan itu, TINS membukukan pendapatan sebesar Rp 11,55 triliun pada 2025 atau meningkat 6,41% year on year (YoY) dari Rp 10,86 triliun yang dicapai tahun 2024.

Beban pokok pendapatan TINS juga naik 8,41% yoy dari Rp 8,11 triliun pada 2024 menjadi Rp 8,79 triliun pada 2025. 

TINS membukukan laba usaha sebesar Rp 1,91 triliun dengan pencapaian EBITDA sebesar Rp 2,76 triliun pada 2025.

Pada akhir tahun 2025, nilai aset TINS naik 6,75% yoy menjadi Rp 13,64 triliun dari Rp 12,78 triliun yang tercatat pada akhir tahun 2024. Hal ini dikarenakan peningkatan piutang usaha yang belum jatuh tempo pada akhir tahun 2025.

Posisi liabilitas TINS ada di level Rp 5,23 triliun pada 2025 atau naik 0,80% yoy dibandingkan posisi akhir tahun 2024 sebesar Rp 5,19 triliun.

Posisi ekuitas TINS pada 2025 tercatat sebesar Rp 8,41 triliun atau mengalami kenaikan 10,83% yoy dibandingkan posisi akhir tahun 2024 sebesar Rp 7,59 triliun, seiring dengan dibukukannya laba pada tahun 2025.

 
TINS Chart by TradingView

Direktur Utama Timah Restu Widiyantoro mengatakan, pada tahun 2025 TINS turut membukukan laba bersih sebesar Rp 1,31 triliun atau mencapai 119% dari target yang telah ditetapkan dalam RKAP 2025. Hasil ini juga lebih tinggi 4,8% yoy dibandingkan tahun sebelumnya yakni Rp 1,25 triliun.

"Perseroan fokus ke penguatan tata kelola pertimahan, optimalisasi kinerja operasi, pemasaran, dan keuangan,“ ujar dia dalam keterangan resmi, Kamis (23/4/2026).

Kinerja keuangan TINS juga menunjukkan hasil yang baik. Hal ini terlihat dari beberapa rasio keuangan penting di antaranya Quick Ratio sebesar 60,6%, Current Ratio sebesar 242,8%, Debt to Asset Ratio sebesar 11,5%, dan Debt to Equity Ratio sebesar 18,7%.

Sepanjang tahun 2025, TINS terus melakukan upaya efisiensi dan optimalisasi biaya. Di antaranya dalam bentuk penurunan fixed cost melalui pengeluaran investasi yang selektif ke investasi penunjang operasi untuk memitigasi kenaikan beban depresiasi dan menjaga stabilitas arus kas.

Selain itu, TINS juga melakukan penurunan interest bearing debt sebagai bagian dari strategi pengelolaan liabilitas, sehingga dapat menekan beban bunga, antara lain melalui pelaksanaan buyback atas MTN.

Dari sisi operasional, TINS mampu mencatat produksi bijih timah sebesar 18.635 ton Sn pada tahun 2025, turun 4% yoy dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 19.437 ton Sn.

Hal tersebut disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain masih masifnya penambangan ilegal terutama pada lokasi pesisir oleh Ponton Isap Produksi (PIP) maupun tambang darat dan adanya penolakan masyarakat pada lokasi penambangan baru. 

Baca Juga: Pefindo Turunkan Peringkat Adhi Commuter Properti (ADCP), Prospek Negatif

Seiring dengan menurunnya produksi bijih timah, produksi logam timah TINS juga mengalami penurunan sebesar 6% yoy menjadi 17.815 metrik ton dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 18.915 metrik ton.

Adapun penjualan logam timah TINS turun 5% yoy menjadi 16.634 metrik ton dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 17.507 metrik ton. 

Di sisi lain, harga jual rata-rata logam timah TINS tercatat sebesar US$ 35.240 per metrik ton, naik 13% yoy dibandingkan tahun sebelumnya sebesar US$ 31.181 per metrik ton.

Pada tahun 2025, TINS mencatatkan penjualan logam timah domestik sebesar 5% dan ekspor logam timah sebesar 95% dengan 6 besar negara tujuan ekspor meliputi Singapura 23%, Korea Selatan 21%, Jepang 17%; Belanda 7%, Italia 3%, dan China 3%. 

Kontribusi penjualan ekspor TINS mencapai sekitar 24% dari total ekspor timah Indonesia sebesar 53.050 metrik ton, serta menyumbang sekitar 3% dari total ekspor timah global sebesar 371.369 metrik ton.

Sepanjang tahun 2025, TINS secara konsisten menjalankan berbagai upaya untuk memperkuat kinerja operasional dan produksi. Untuk penambangan darat, TINS melakukan peningkatan jumlah titik operasi tambang serta memperkuat kegiatan eksplorasi operasional melalui pelaksanaan bor pandu guna memastikan arah penggalian yang lebih presisi dan selaras dengan blok Rencana Kerja yang telah ditetapkan. 

Pada penambangan laut, TINS melakukan optimalisasi kinerja operasional dengan Kapal Isap Produksi (KIP) serta peningkatan efektivitas proses pengolahan melalui fasilitas SHP KIP dan PIP.

Baca Juga: Sentimen Geopolitik, Rupiah Anjlok ke Rp 17.305 per Dolar AS Siang Ini, Kamis (23/4)

Selain itu, TINS juga mengoperasikan satu unit kapal bor pandu di beberapa area produksi utama guna meningkatkan confidence level terhadap potensi sumber daya serta mendukung pengambilan keputusan operasional yang lebih akurat berbasis data.

Berdasarkan data Bloomberg hingga 12 Maret 2026, perkiraan harga timah pada tahun 2026 berkisar antara US$ 33.500 perton hingga US$ 48.750 per ton. Aktivitas manufaktur elektronik yang merupakan pendorong utama permintaan timah diperkirakan akan menguat pada tahun 2026.

Di sisi fundamental, pengetatan pasar timah didorong oleh terbatasnya pasokan dari Indonesia, Myanmar, MSC dan DRC yang diperparah oleh regulasi, konflik dan pemeliharaan produksi. 

Berdasarkan World Bank yang dirilis 29 Oktober 2025, diperkirakan harga rata-rata logam timah pada tahun 2026 sebesar US$ 34.000 per ton. Perkiraan harga logam di tahun ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain peningkatan penggunaan elektronik, semikonduktor, chips serta digitalisasi dan Artificial Intellegence.

Pada tahun 2026, TINS akan berfokus pada pemulihan kapasitas produksi secara agresif dan penguatan nilai tambah melalui hilirisasi.

Sebagai bagian dari Holding Pertambangan Indonesia (MIND ID), TINS memposisikan diri untuk memanfaatkan momentum harga timah global yang tinggi dan penertiban tambang ilegal di Indonesia yang cukup mempengaruhi aliran pasokan logam timah secara global. 

Strategi utama TINS pada tahun 2026 antara lain meliputi akselerasi produksi dan optimalisasi cadangan, ekspansi hilirisasi dan diversifikasi produk, transformasi digital dan keberlanjutan (ESG), optimalisasi dan efisiensi berkelanjutan di seluruh lini bisnis, serta optimalisasi kinerja anak perusahaan, aset non operasi dan sinergi lainnya dalam mendukung keberlanjutan perusahaan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News