KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Taspen (Persero) mencatat, hasil investasi menjadi penopang utama perolehan laba sepanjang 2025. Direktur Utama PT Taspen Rony Hanityo Aprianto menerangkan, Taspen mencatat laba sebesar Rp 1,04 triliun pada 2025. Capaian laba tersebut tercatat melampaui target yang dicanangkan menjadi sebesar 123,84%. Adapun laba yang dicatat berdasarkan hasil pengelolaan program Tabungan Hari Tua (THT), Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK), dan Jaminan Kematian (JKM).
Rony menyebut ada sejumlah faktor yang mempengaruhi capaian laba Taspen sepanjang 2025. Dia bilang salah satunya ditopang hasil investasi yang mencapai Rp 9,87 triliun pada 2025. Dia menerangkan perolehan hasil investasi yang tinggi tak terlepas dari return yang didapatkan dari pengelolaan investasi.
Baca Juga: PNM Tidak Tepat Digabung dalam Merger Asset Management BUMN, Ini Alasannya Jika ditelaah secara rinci, nilai perolehan laba lebih tinggi dibandingkan capaian iuran dan premi sepanjang 2025 yang sebesar Rp 7,74 triliun. Dengan demikian, iuran yang dibukukan menjadi penopang kedua laba Taspen, kemudian ditopang juga pendapatan lain yang dibukukan sebesar Rp 1,86 triliun pada 2025. Adapun beban klaim yang dibukukan sepanjang 2025 mencapai 14,90 triliun. "Hal yang menolong
bottom line Taspen tetap positif itu adalah hasil investasi. Jadi, kalau melihat iuran itu Rp 7,7 triliun dan klaim Rp 14,9 triliun. Artinya, tidak
matching. Dengan demikian, yang ganjil adalah hasil investasi, makanya saat ini Taspen masih bisa membukukan keuntungan," ujarnya saat Rapat Dengar Pendapat di Komisi VI DPR RI, Rabu (8/7/2026). Rony menambahkan, sebagai bentuk kehati-hatian dan konservatif dalam mengelola Taspen, ada satu pos yang mengurangi laba cukup tinggi, yaitu pos
impairment yang sebesar Rp 1,82 triliun pada 2025. Dia bilang
impairment sebenarnya adalah cadangan jika terjadi suatu hal yang tak terduga. Rony menjelaskan portofolio investasi perusahaan masuk ke beberapa obligasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) karya dan kondisi sekarang lagi menantang, sehingga pos
impairment bisa digunakan nantinya. "Namun, kalau
impairment nantinya obligasi tersebut jatuh tempo, itu bisa dibalikkan yang tadinya beban menjadi balik ke atas sebagai pendapatan. Kalau misalnya ada perbaikan rating, itu juga bisa di-
reverse. Jadi,
impairment tidak selama-lamanya berdiri sebagai beban," tuturnya. Rony mengungkapkan langkah tersebut menjadi salah satu cara Taspen untuk konservatif dalam melakukan pembukuan. Jika tak ada impairment, dia bilang untung Taspen bisa mencapai Rp 2 triliun.
Baca Juga: Fintech dan Perbankan Jadi Mitra Strategis dalam Ekosistem Keuangan Digital "Cuma kami memilih untuk lebih konservatif. Mending dicadangkan sekarang, kalau kondisi membaik bisa di
-reverse," kata Rony.
Jika menelaah paparan secara rinci, iuran dan premi yang dibukukan Taspen tercatat menurun 11,03
Year on Year (YoY), dari Rp 8,7 triliun pada 2024 menjadi sebesar Rp 7,74 triliun pada 2025. Adapun hasil investasi tercatat meningkat 9,54% YoY, dari Rp 9,01 triliun pada 2024 menjadi Rp 9,87 triliun pada 2025. Selanjutnya, pendapatan lain meningkat 8,14% YoY, dari Rp 1,72 triliun pada 2024 menjadi Rp 1,86 triliun pada 2025. Sementara itu, beban klaim tercatat menurun 1,45 YoY, dari sebesar Rp 15,12 triliun pada 2024 menjadi Rp 14,90 triliun pada 2025. Adapun laba yang dibukukan menurun 16,13% YoY, dari Rp 1,24 triliun menjadi sebesar Rp 1,04 triliun pada 2025. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News