Ditopang KEK Kendal, Jababeka (KIJA) Yakin Target Marketing Sales 2026 Tercapai



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Jababeka Tbk (KIJA) optimistis prospek bisnis perusahaan tetap terjaga hingga akhir tahun. 

Di tengah berbagai perhatian terhadap kondisi industri dan investasi, KIJA tetap mempertahankan target marketing sales 2026 sebesar Rp 3,75 triliun.

Corporate Secretary KIJA, Mulyadi Suganda menyatakan, hingga saat ini, realisasi marketing sales tercatat mencapai Rp 540 miliar atau sekitar 14% dari target tahunan.


"Walaupun ini bicara secara persen baru 14%, tapi itu tidak menjadi satu patokan. Karena kita lihat historical juga seperti itu," ujarnya, Rabu (3/6/2026).  Ia menekankan bahwa pencapaian kuartalan tidak dapat dijadikan satu-satunya acuan. Sebab, keputusan investasi, khususnya investor asing, sangat dipengaruhi kondisi global dan keputusan principal di negara asal. Dari sisi investor, permintaan kawasan industri Jababeka ditopang oleh investor asing, khususnya dari China dan kawasan Asia lainnya. Sedangkan untuk sektor yang mendominasi meliputi consumer goods, tekstil, data center, baterai, hingga bahan bangunan.

Baca Juga: Jababeka (KIJA) Kantongi Pinjaman Rp 1,2 Triliun dari BRI, Ekspansi Kawasan Kendal Adapun, terkait komposisi penjualan lahan, mayoritas akan berasal dari kawasan industri Kendal dengan kontribusi sekitar Rp 2,5 triliun, sedangkan sisanya berasal dari Cikarang.

Menurut Mulyadi, yang menjadi kekuatan utama kawasan industri Kendal saat ini terletak pada ekosistem industri yang telah terbentuk sehingga mampu menarik investor lanjutan maupun supply chain industri yang sudah ada.

Optimisme tersebut juga ditopang pipeline investor yang dinilai masih cukup solid meski kondisi global masih diliputi ketidakpastian.

Perkuat Bisnis Infrastruktur

Selain mengandalkan penjualan lahan, perusahaan juga terus memperbesar bisnis infrastruktur sebagai sumber pertumbuhan baru.

Baca Juga: Jababeka dan Singapura Perluas KEK Kendal, Investasi Tembus Rp 189 Triliun

Saat ini, dari total 139 tenant yang telah membeli lahan di Kendal, baru sekitar 50 tenant yang sudah beroperasi. Artinya, masih terdapat potensi tambahan permintaan utilitas dari tenant yang belum mulai beroperasi.

Ke depan, perusahaan juga semakin menekankan transformasi menuju bisnis berbasis pendapatan berulang.

Di sisi kinerja keuangan, pendapatan KIJA terpantau turun tipis menjadi Rp 1,19 triliun per kuartal I-2026, dibandingkan Rp 1,29 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Perlambatan tersebut lebih dipengaruhi faktor waktu pengakuan pendapatan atau timing difference dari proses handover proyek dibanding pelemahan fundamental bisnis.

Untuk perolehan laba, KIJA tercatat meraup laba neto yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 57,78 miliar, meningkat dari laba bersih pada kuartal I-2025 yang senilai Rp 43,24 miliar.

Baca Juga: KIJA Serah Terima Jababeka Bizpark Tahap I, Penjualan Fase Kedua Sudah Terserap 90%

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News