KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek kinerja PT Pakuwon Jati Tbk (PWON) diperkirakan masih tetap menarik sepanjang tahun 2026 di tengah langkah ekspansi yang terus dilakukan perseroan. Perlu diketahui, manajemen PWON mengalokasikan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar Rp 2,2 triliun pada tahun ini. Sebanyak 49% dana tersebut akan difokuskan untuk pengembangan lanjutan proyek superblock, sedangkan sisanya sekitar 51% dialokasikan untuk memperkuat basis aset perseroan melalui akuisisi lahan dan aset operasional.
Analis Kiwoom Sekuritas, Adrian Djie, menilai model bisnis perseroan yang ditopang oleh pendapatan berulang (recurring income) menjadi kekuatan utama PWON dalam menghadapi tantangan ekonomi.
Baca Juga: Begini Strategi Erajaya Hadapi Kondisi Pelemahan Nilai Tukar Rupiah Tercatat, pendapatan berulang kuartal I-2026 naik 8% yoy menjadi Rp 1,43 triliun. Secara keseluruhan, 75%-80% pendapatan PWON diprediksi berasal dari recurring income pada 2026. “Kami memproyeksikan kinerja PWON akan tetap atraktif sepanjang 2026. Model bisnis perseroan yang bertumpu pada porsi pendapatan berulang memberikan bantalan yang tangguh dalam menghadapi volatilitas makroekonomi dan ketidakpastian global,” ujar Adrian kepada Kontan, Rabu (13/5/2026). Analis UBS Sekuritas Indonesia, Igor Putra, dalam riset 29 April 2026 juga sependapat. Menurutnya kekuatan pendapatan berulang PWON ini mencerminkan karakter pendapatan perusahaan yang defensid dan dinilai positif untuk menopang kinerja sepanjang 2026. Meski demikian, rasio net gearing tetap rendah di level 2%, sementara pembayaran kas kepada pemasok tetap berjalan. Dari kinerja keuangan, PWON membukukan pendapatan Rp 1,64 triliun sepanjang kuartal I 2026. Ini naik 5,83% secara tahunan dari Rp 1,55 triliun di kuartal I 2026. PWON pun mengantongi laba bersih Rp 389,99 miliar per akhir Maret 2026, naik 29,31% YoY. Menurut Adrian, prospek perseroan tahun ini juga didukung sejumlah sentimen positif. Salah satunya adalah perpanjangan insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) hingga akhir 2027 yang dinilai dapat menjaga minat masyarakat terhadap sektor properti. Selain itu, tren suku bunga yang lebih akomodatif juga berpotensi meningkatkan daya beli masyarakat dan mendorong permintaan properti. Di sisi lain, Adrian mengingatkan masih terdapat sejumlah risiko yang perlu dicermati investor. Ketidakpastian geopolitik global dinilai dapat memengaruhi arah kebijakan moneter dan pada akhirnya menekan laju pertumbuhan ekonomi. “Risiko downside berasal dari ketidakpastian geopolitik global yang berpotensi memengaruhi arah kebijakan moneter dan menekan laju perekonomian,” jelasnya. Ada pun Analis Maybank Sekuritas Indonesia, Kevin Halim, menyebut pertumbuhan pendapatan dari pengembangan properti diperkirakan mulai mendorong pertumbuhan laba pada 2027-2028, terutama dari serah terima proyek Lancaster dan Clayson Tower di Pakuwon Mall Surabaya. "Hal tersebut diproyeksikan mendorong pertumbuhan laba masing-masing sebesar 5%, 7%, dan 9% pada periode 2026-2028," jelas Kevin dalam riset 5 Mei 2026. Selain itu, Kevin juga mencatat kontribusi proyek baru Eluna Tower di Kota Kasablanka (KoKas) senantiasa turut menopang. PWON membukukan pra-penjualan Rp 82 miliar atau sekitar 26% dari total pra-penjualan. Sejak diluncurkan pada Oktober 2025, Eluna Tower telah mencatat tingkat penjualan (take-up rate) sebesar 7%. Angka ini dinilai masih sehat dan berada di jalur yang tepat menuju ambang batas impas sekitar 50%, dengan asumsi masa konstruksi normal selama empat tahun. Melihat faktor di atas, Kevin memprediksi pendapatan atau revenue PWON pada tahun 2026 diperkirakan mencapai Rp 7,39 triliun. Angka tersebut meningkat sekitar 3,99% dibandingkan estimasi pendapatan tahun 2025 yang sebesar Rp 7,11 triliun. Dari sisi profitabilitas, laba bersih inti (core net profit) PWON diproyeksikan mencapai Rp 2,45 triliun pada 2026. Nilai ini tumbuh sekitar 5,33% dibandingkan estimasi tahun sebelumnya sebesar Rp 2,33 triliun.
Dari sisi rekomendasi saham, Adrian memproyeksikan target harga jangka pendek PWON di level Rp 326 per saham. Namun, di tengah kondisi pasar yang masih dibayangi ketidakpastian, investor disarankan menerapkan strategi wait and see sambil menunggu arah pergerakan pasar yang lebih jelas. Kemudian Kevin merekomendasikan investor untuk beli saham PWON dengan target harga Rp 580 per saham. Igor juga memberikan rekomendasi beli PWON dengan target harga Rp 485 per saham.
Baca Juga: Honda Pantau Dampaknya Pelemahan Rupiah ke Pasar Otomotif Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News