Ditopang Sejumlah Katalis, Cek Rekomendasi Saham Migas: ELSA, ENRG, MEDC dan PGAS



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Sejumlah emiten sektor minyak dan gas bumi (migas) mencatatkan pertumbuhan kinerja positif hingga kuartal III-2026.

Kenaikan pendapatan dan laba bersih ditopang peningkatan aktivitas operasional, produksi migas, serta kontribusi bisnis distribusi dan transmisi gas.

Memasuki sisa tahun ini, prospek emiten migas juga didukung oleh sejumlah katalis, mulai dari pertumbuhan permintaan energi, pengembangan proyek baru, hingga penguatan portofolio pasokan gas jangka panjang.


Baca Juga: IHSG Ambles 16,7% pada Oktober, Cek Rekomendasi Saham untuk Senin (2/11)

Sejumlah analis pun merekomendasikan saham emiten migas seperti ELSA, ENRG, MEDC, dan PGAS berikut. 

1. PT Elnusa Tbk (ELSA)

Hingga sembilan bulan pertama 2026, perusahaan jasa energi terintegrasi yang tergabung dalam Subholding Upstream Pertamina ini meraih pendapatan Rp 12,1 triliun, meningkat 16% YoY.

Kontribusi pendapatan Elnusa berasal dari tiga lini bisnis utama, yaitu Penjualan Barang dan Jasa Distribusi & Logistik Energi sebesar 62%, Jasa Hulu Migas Terintegrasi sebesar 30%, serta Jasa Penunjang Migas sebesar 8%.

Pertumbuhan itu diikuti kenaikan laba bersih sebesar 29% YoY menjadi Rp 681,5 miliar.Segmen distribusi dan logistik energi tetap menjadi mesin pertumbuhan utama.

Permintaan diperkirakan tetap mendukung kinerja pada semester II-2026, didorong oleh peningkatan konsumsi bahan bakar di luar Jawa, permintaan dari sektor pertambangan di Kalimantan dan Sumatra, serta rencana penambahan 48 unit truk tangki atas permintaan Patra Niaga.

Baca Juga: Cek Rekomendasi Saham MTEL, ERAA, dan LSIP untuk Perdagangan Rabu (28/10)

Segmen jasa penunjang minyak dan gas bumi (migas) masih mencatatkan kinerja di bawah ekspektasi. Pelemahan tersebut kemungkinan mencerminkan perlambatan aktivitas proyek dan berkurangnya kontribusi pekerjaan dari kontrak yang sedang berjalan, termasuk proyek terkait OCTG (oil country tubular goods).

Rekomendasi: Buy

Target harga: Rp

Analis Sinarmas Sekuritas, Inav Haria Chandra

2. PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) 

ENRG membukukan penjualan bersih sebesar US$ 426,06 juta, naik 17,9% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar US$ 361,38 juta selama sembilan bulan pertama 2026. Laba bersih ENRG meningkat 30,8% secara tahunan menjadi US$ 72,81 juta dari US$ 55,65 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya. Sejalan dengan itu, laba usaha ENRG melonjak 44% menjadi US$ 157,58 juta dari US$ 109,50 juta.

Dari sisi operasional, produksi minyak kotor ENRG meningkat 6% menjadi 8.894 barel per hari pada Januari hingga September 2026, dibandingkan 8.387 barel per hari pada periode yang sama tahun lalu.

Investasi preferen senilai US$ 200 juta oleh HighPeak Energy (HPK), dengan dividen tunai kumulatif sebesar 6% dan diperkirakan rampung pada kuartal IV-2026, berpotensi memberikan tambahan pendapatan sebesar US$ 12 juta per tahun.

Risiko utama yang berpotensi menekan kinerja ENRG yakni harga minyak mentah Indonesia (ICP) yang lebih rendah berpotensi menekan penjualan minyak mentah pada kuartal IV-2026.

Rekomendasi: Buy

Target harga: Rp 1.200

Equity Research Analyst Samuel Sekuritas Indonesia Juan Oktavianus Harahap

Baca Juga: IHSG Diproyeksi Lanjut Terkoreksi, Cek Rekomendasi Saham dari MNC Sekuritas (27/10)

 
ENRG Chart by TradingView

3. PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC)

MEDC menaikkan panduan belanja modal atau capital expenditure (capex) migas untuk 2026 menjadi US$ 450-US$ 475 juta, dari sebelumnya US$415 juta.

Selain itu, capex segmen kelistrikan menjadi US$ 50 juta, dari sebelumnya US$ 15 juta. Bertambahnya belanja modal itu untuk mempercepat pengembangan Blok Sakakemang dan ekspansi pembangkit listrik Dalle Energy Batam.

MEDC kembali menegaskan minatnya untuk mengakuisisi aset minyak dan gas (migas) berskala besar dengan tingkat produksi tinggi di kawasan ASEAN dan Timur Tengah.

Baca Juga: IHSG Masih Rawan Koreksi, Cek Rekomendasi Saham dari BNI Sekuritas Kamis (29/10)

Akuisisi tersebut diarahkan pada aset yang berpotensi menghasilkan sinergi operasional. Selain itu, MEDC memaparkan sejumlah proyek dalam pipeline pengembangannya.

Proyek Sambar dengan kapasitas produksi sekitar 108 juta kaki kubik gas per hari (mmscfd) ditargetkan mulai beroperasi sebagian pada kuartal IV-2026.

Selanjutnya, proyek Bualuang dengan produksi sekitar 2.000 barel setara minyak per hari (boepd) ditargetkan beroperasi pada kuartal II-2027, sedangkan proyek Sakakemang dengan kapasitas sekitar 85 mmscfd ditargetkan mulai beroperasi pada kuartal III-2027.

Rekomendasi: Buy

Target harga: Rp 2.270

Analis CGS International Sekuritas Bob Setiadi

4. PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGAS) 

PGAS atau PGN tercatat membukukan laba bersih senilai US$ 292,95 juta hingga kuartal III-2026. Capaian itu naik 23,14% YoY dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$ 237,89 juta.

Kinerja positif subholding gas Grup Pertamina ini juga ditopang oleh pertumbuhan pendapatan yang naik 3,29% YoY menjadi US$ 3,01 miliar hingga kuartal III-2026.

Secara rinci, segmen niaga dan transmisi menjadi kontributor terbesar dengan pendapatan US$ 2,76 miliar atau naik dari US$ 2,72 miliar tahun lalu.

PGAS berpotensi memperkuat portofolio pasokan gas jangka panjang melalui tiga kesepakatan jual beli gas bumi dan gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG).

Total nilai transaksi dari ketiga kesepakatan tersebut mencapai sekitar US$ 9,07 miliar, dengan periode pasokan yang berlangsung mulai 2027 hingga 2048.

PGAS menyepakati potensi transaksi LNG South Hub dengan sejumlah penjual, termasuk PT Pertamina (Persero) dan beberapa entitas terkait, dengan estimasi nilai transaksi sebesar US$ 996,46 juta untuk periode pengiriman 1 Januari 2027 hingga 31 Desember 2032.

Selain itu, PGAS menyepakati perjanjian jual beli gas dengan Medco E&P Sakakemang B.V. dengan estimasi nilai transaksi US$ 725,55 juta. Pasokan gas dari Wilayah Kerja Sakakemang tersebut diperkirakan berlangsung mulai 1 September 2027 hingga 31 Desember 2037.

Rekomendasi: Buy

Target harga: Rp 2.150

Research Analyst MNC Sekuritas, Christian Sitorus  

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News