Ditopang Sentimen Global, Reli Kripto Berpotensi Berlanjut Bertahap



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga aset kripto melanjutkan tren penguatan dalam beberapa hari terakhir, didorong membaiknya sentimen global, dukungan kebijakan, serta arus dana institusional yang tetap solid. 

Meski demikian, pelaku pasar tetap diminta mewaspadai potensi koreksi jangka pendek di tengah kondisi pasar yang masih sensitif.

Berdasarkan data CoinMarketCap per Rabu (22/4) pukul 18.47 WIB, Bitcoin naik 2,21% secara harian ke level US$ 78.308. Ethereum menguat 3,13% ke US$ 2.394, sementara Solana naik 2,68% ke US$ 88,23.


Vice President Indodax, Antony Kusuma, mengatakan peluang koreksi jangka pendek tetap terbuka seiring posisi harga yang saat ini berada di area sensitif.

Baca Juga: Empat Reformasi Diakui MSCI, BEI Coret Saham HSC dari Indeks Unggulan

"Beberapa indikator yang dapat menjadi perhatian antara lain perkembangan situasi geopolitik global, khususnya terkait hubungan AS-Iran yang apabila kembali memanas dapat memicu perubahan sentimen pasar secara cepat," ujar Antony kepada Kontan, Rabu (22/4).

Ia menambahkan, kenaikan harga yang belum sepenuhnya diikuti oleh peningkatan volume perdagangan mengindikasikan sebagian pelaku pasar masih bersikap wait and see

Dalam kondisi tersebut, pergerakan harga cenderung berada dalam fase konsolidasi sambil menunggu kejelasan arah sentimen global dan faktor eksternal lainnya.

Di sisi lain, Antony menilai, momentum bullish masih berpotensi berlanjut, meskipun kemungkinan besar terjadi dalam pola konsolidasi naik (gradual uptrend), bukan reli agresif dalam waktu singkat.

"Saat ini, pasar berada dalam fase transisi, dengan momentum jangka pendek yang cenderung positif, sementara dalam jangka menengah masih dalam tahap konsolidasi pasca koreksi besar di awal 2026," kata Antony.

Menurutnya, selama sentimen dan partisipasi pasar tetap terjaga, tren penguatan berpeluang berlanjut secara bertahap.

Dari sisi fundamental, tren ini didukung oleh arus dana institusional, termasuk melalui spot Bitcoin ETF yang masih solid serta ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter The Fed pada paruh kedua 2026. 

Namun, pasar kripto tetap sensitif terhadap perubahan sentimen makro, terutama dinamika geopolitik global.

Baca Juga: Rugi Fast Food (FAST) Menyusut 54,05% pada Tahun 2025, Intip Prospeknya ke Depan

Di sisi lain, meredanya kekhawatiran geopolitik turut menjadi katalis positif, setelah muncul kabar bahwa delegasi Iran akan melanjutkan perundingan damai. 

Hal ini membuka ruang bagi kembalinya sentimen risk-on di pasar global.

Selain itu, pernyataan calon Ketua The Fed Kevin Warsh yang mengakui aset digital sebagai bagian dari sistem keuangan modern turut memperkuat kepercayaan jangka panjang terhadap kripto.

Peran investor institusional juga semakin signifikan. Hal ini tercermin dari arus dana masuk ke spot Bitcoin ETF sejak Jumat (17/4) hingga Rabu (22/4) yang mencapai US$ 250,22 juta. 

Kondisi ini menunjukkan permintaan terhadap aset kripto masih relatif terjaga di tengah dinamika pasar.

Untuk kuartal II-2026, Antony menilai pergerakan aset kripto seperti Bitcoin, Ethereum, dan Solana masih dipengaruhi oleh kebijakan moneter global, dinamika geopolitik, serta likuiditas pasar.

Baca Juga: Rupiah Diprediksi Tetap Loyo dan Tertahan di Rp 17.000-an, Ini Obat Perkasa

"Selama sentimen global tetap kondusif dan arus dana institusional terjaga, tren penguatan berpotensi berlanjut secara bertahap, meskipun tidak berlangsung secara linier," kata Antony.

Bitcoin diperkirakan tetap menjadi pendorong utama arah pasar. Sementara itu, Ethereum dan Solana berpotensi mengikuti, terutama jika minat terhadap ekosistem dan utilitas masing-masing jaringan terus meningkat. 

Namun, pergerakan altcoin cenderung lebih sensitif terhadap perubahan sentimen, sehingga volatilitasnya berpotensi lebih tinggi dibandingkan Bitcoin.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News