Dituduh terkait konspirasi, Twitter hapus QAnon, siapa itu?



KONTAN.CO.ID - New York. Platform media sosial Twitter telah mengumumkan tindakan keras terhadap teori konspirasi QAnon. Twitter menghapus ribuan akun dan memblokir alamat web yang terhubung ke video serta situs web yang menyebarkan ide-ide aneh QAnon.

QAnon bisa diidentifikasi sebagai gerakan pinggiran yang menarik perhatian online terutama di Amerika Serikat (AS). Lebih dari 7.000 akun telah dihapus dalam beberapa pekan terakhir menurut Twitter. 

Baca juga: Inilah cara calon Presiden AS Joe Biden selamatkan ekonomi AS pasca pandemi corona


pa itu QAnon dan bagaimana permulaannya? Melansir BBC, QAnon adalah teori konspirasi yang beredar luas dan tidak berdasar yang mengatakan bahwa Presiden AS Donald Trump mengobarkan perang rahasia melawan para paedofil pemuja elit Setan di pemerintahan, bisnis dan media.

QAnon percaya bahwa orang berspekulasi pertarungan tersebut akan mengarah pada hari pembalasan di mana orang-orang terkemuka layaknya Hillary Clinton akan ditangkap dan dieksekusi.

Itu adalah cerita dasarnya, namun ada begitu banyak cabang, kabar simpang siur dan debat internal sehingga banyak klaim QAnon yang sangat besar dan seringkali bertentangan. Penganut QAnon menarik data dari berita peristiwa, fakta sejarah dan numerologi untuk mengembangkan kesimpulan masing-masing yang dibuat-buat.

Mula konspirasi ini terjadi pada Oktober 2017, seorang pengguna anonim menaruh serangkaian unggahan di 4chan. Pengguna itu keluar dari akunnya dengan inisial 'Q' yang diklaim memiliki tingkat persetujuan keamanan AS yang dikenal dengan 'Q clearance'.

Baca juga: Ada hadiah US$ 2 juta atau Rp 29 miliar jika bisa bantu tangkap hacker ini

Pesan-pesan ini menjadi terkenal dengan istilah 'Q drops' atau 'breadcrumbs' dan sering ditulis dalam bahasa samar yang dibumbui dengan tema slogan serta janji-janji pro-Trump.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Twitter Blokir QAnon, Siapa Mereka?", 

Penulis : Miranti Kencana Wirawan Editor : Miranti Kencana Wirawan

Editor: Adi Wikanto