KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Elnusa Tbk (ELSA) menjajaki peluang bisnis di luar negeri, termasuk di Irak, agar tidak terus bergantung pada Grup Pertamina. Langkah ini bisa menjadi sumber pertumbuhan baru sekaligus menjadi tantangan apakah penjajakan itu benar-benar berujung kontrak dan keuntungan perusahaan dapat tetap terjaga. Pada semester I-2026, pendapatan ELSA dari pelanggan di luar Grup Pertamina (non-captive) mencapai 22% dari total pendapatan sebesar Rp 7,58 triliun, atau sekitar Rp 1,67 triliun. Angka ini menunjukkan perseroan mulai menggaet pelanggan baru di luar grup. Namun porsinya belum dominan, sehingga upaya diversifikasi pelanggan masih perlu diperkuat. Branch Manager Panin Sekuritas Pondok, Indah Elandry Pratama, menilai ekspansi ke pasar internasional membuka peluang kontrak baru dan basis pelanggan yang lebih luas karena kebutuhan jasa penunjang migas di sana besar. Meski begitu, ia mengingatkan bahwa peluang ini belum bisa dianggap sebagai pendorong laba sebelum ada kontrak dan pendapatan yang terukur. Baca Juga: Deretan Emiten Ini Bakal Bagikan Dividen Interim Bagi Investor, Mana yang Menarik? Menurutnya, keberhasilan ELSA bergantung pada kemampuan memenangkan tender, memenuhi standar teknis, menjaga kualitas operasional, dan menggandeng mitra lokal. ELSA juga harus bersaing dengan penyedia jasa migas global dan menghadapi risiko geopolitik di negara tujuan. Pandangan serupa disampaikan Senior Market Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta. Ia melihat Irak sebagai pasar yang menarik karena merupakan salah satu produsen minyak utama yang membutuhkan banyak jasa penunjang hulu migas, seperti survei seismik, pengeboran, pemeliharaan sumur, dan dukungan operasional.
Diversifikasi Elnusa (ELSA) Bidik Pasar Irak, Bisnis Non-Pertamina Berkontribusi 22%
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Elnusa Tbk (ELSA) menjajaki peluang bisnis di luar negeri, termasuk di Irak, agar tidak terus bergantung pada Grup Pertamina. Langkah ini bisa menjadi sumber pertumbuhan baru sekaligus menjadi tantangan apakah penjajakan itu benar-benar berujung kontrak dan keuntungan perusahaan dapat tetap terjaga. Pada semester I-2026, pendapatan ELSA dari pelanggan di luar Grup Pertamina (non-captive) mencapai 22% dari total pendapatan sebesar Rp 7,58 triliun, atau sekitar Rp 1,67 triliun. Angka ini menunjukkan perseroan mulai menggaet pelanggan baru di luar grup. Namun porsinya belum dominan, sehingga upaya diversifikasi pelanggan masih perlu diperkuat. Branch Manager Panin Sekuritas Pondok, Indah Elandry Pratama, menilai ekspansi ke pasar internasional membuka peluang kontrak baru dan basis pelanggan yang lebih luas karena kebutuhan jasa penunjang migas di sana besar. Meski begitu, ia mengingatkan bahwa peluang ini belum bisa dianggap sebagai pendorong laba sebelum ada kontrak dan pendapatan yang terukur. Baca Juga: Deretan Emiten Ini Bakal Bagikan Dividen Interim Bagi Investor, Mana yang Menarik? Menurutnya, keberhasilan ELSA bergantung pada kemampuan memenangkan tender, memenuhi standar teknis, menjaga kualitas operasional, dan menggandeng mitra lokal. ELSA juga harus bersaing dengan penyedia jasa migas global dan menghadapi risiko geopolitik di negara tujuan. Pandangan serupa disampaikan Senior Market Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta. Ia melihat Irak sebagai pasar yang menarik karena merupakan salah satu produsen minyak utama yang membutuhkan banyak jasa penunjang hulu migas, seperti survei seismik, pengeboran, pemeliharaan sumur, dan dukungan operasional.