KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia berencana mencari pasokan alternatif untuk impor BBM, terutama jenis RON 90, dengan sasaran India dan China. Rencana diversifikasi ini merespons masih tingginya ketergantungan Indonesia terhadap pasokan BBM impor dari negara tentangga. Anggota Dewan Energi Nasional (DEN), Muhammad Kholid Syeirazi menyampaikan, ketergantungan pasokan BBM dari luar negeri masih cukup tinggi. "Ketergantungan Indonesia terhadap impor BBM masih cukup tinggi. Hingga Juli 2026, impor BBM mencakup 33,87% dari total kebutuhan. Khusus bensin, rasio impor bahkan mencapai 68,5% dari kebutuhan," ujarnya kepada Kontan.co.id, Kamis (29/10/2026).
Kholid mengungkapkan, impor BBM Indonesia sejauh ini masih sangat terkonsentrasi pada dua negara tetangga yakni Singapura dan Malaysia.
Baca Juga: Produksi Pupuk dan Non Pupuk Petrokimia Gresik Tembus 6,59 Juta "Sumber impor BBM kita adalah Singapura (57,82%) dan Malaysia (33,82%). Kedua negara ini menguasai 91,64% pasokan impor BBM Indonesia. Konsentrasi ini menimbulkan risiko terhadap ketahanan pasokan. Diversifikasi
sourcing negara pemasok mutlak harus dilakukan," ungkapnya. Mengenai peluang pasokan ke China dan India, Kholid menilai kedua negara memiliki kapasitas industri kilang yang memadai. Menurutnya, kerja sama tidak hanya terbatas pada komoditas bensin RON 90 saja, melainkan jenis BBM lainnya. "India dan China memiliki potensi menjadi alternatif pemasok karena keduanya mempunyai industri pengolahan minyak berskala besar. Peluangnya tidak terbatas pada bensin RON 90, tetapi juga produk BBM lain seperti avtur, sepanjang memenuhi spesifikasi teknis dan standar mutu," terangnya. Lebih lanjut, Kholid menambahkan, kedua negara tersebut sebenarnya sudah masuk dalam rantai pasok impor Indonesia meski porsinya terbatas. Menurutnya, pemindahan porsi impor harus memperhitungkan jaminan pasokan, kesesuaian spesifikasi, efisiensi harga, biaya logistik, serta kepastian pengiriman di lapangan. "Saat ini, China dan India sudah menjadi bagian dari rantai pasok impor BBM Indonesia, meskipun porsinya masih kecil, masing-masing 1,28% dan 0,63% dari total impor BBM. Khusus avtur, kontribusi China mencapai 13,22% dan India 6,78%," tandasnya. Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia bakal mencari sumber pasokan minyak mentah dan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis RON 90 dari berbagai negara.
Baca Juga: PTPP Rampungkan Pembangunan RS Adhyaksa Mojokerto Senilai Rp 214,31 Miliar Hal tersebut dilakukan usai pemerintah memangkas pasokan gas pipa ke Singapura sebesar 31 BBTU, di mana sejauh ini Indonesia diketahui masih melakukan impor BBM RON 90 dari negeri singa tersebut. Bahlil mengatakan, pihaknya berupaya melakukan diversifikasi negara asal impor untuk mendapatkan kepastian pasokan serta menjajaki peluang kerja sama pengadaan bahan bakar minyak dalam jangka panjang. "Kita juga mengimpor BBM RON 90 dari negara tetangga. Dan mulai besok saya akan berangkat ke beberapa negara termasuk India, China, dan beberapa negara untuk mendapatkan kepastian pasokan," ujarnya di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Senin (26/10/2026). Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News