KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Kinerja PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (
AADI) pada kuartal I-2026 diproyeksi masih stabil ditopang penjualan batubara dan diversifikasi pasar ekspor. Equity Analyst Indo Premier Sekuritas (IPOT), David Kurniawan melihat kuota produksi AADI masih cukup besar sehingga volume penjualan tetap terjaga, meski kontribusi laba kemungkinan terbatas akibat harga batubara global yang belum pulih signifikan. “Di tengah rencana pemotongan rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB), kinerja PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) diperkirakan relatif stabil pada kuartal I-2026,” ucap David kepada Kontan, Selasa (24/2/2026).
Baca Juga: OJK Segera Atur Influencer Saham, Pompom Bisa Disanksi Berat David mengatakan, tantangan terbesar AADI berasal dari tekanan harga batubara global yang masih oversupply. Serta potensi penyesuaian kebijakan RKAB dan DMO yang dapat menekan fleksibilitas penjualan ekspor dan margin. Menurutnya, investor perlu mencermati pergerakan harga batubara, kebijakan pemerintah terkait RKAB/DMO, serta arus kas dan kebijakan dividen yang tetap menjadi daya tarik AADI di tengah siklus komoditas yang melemah. Hasan Barakwan, Analis Maybank Sekuritas menyoroti AADI yang notabene merupakan produsen batubara terintegrasi dengan profil imbal hasil yang kuat. AADI menawarkan eksposur langka ke bisnis batubara termal yang terfokus dan terintegrasi secara vertikal dengan biaya tunai kuartil pertama dan tanpa hambatan belanja modal energi hijau. “Didukung oleh cadangan 917 juta ton dan logistik yang efisien, perusahaan ini memberikan margin yang tangguh bahkan ketika harga melunak,” ujar Hasan dalam risetnya pada 12 Januari 2026. Dengan kebijakan pembayaran dividen 45%, Hasan memperkirakan imbal hasil dividen sebesar 8,5% -8,6% untuk tahun fiskal 2025-2027. Didukung oleh arus kas bebas yang kuat dan neraca keuangan yang ramping. Ini menjadikan AADI sebagai perusahaan batubara murni dengan imbal hasil tinggi dan menghasilkan kas yang besar.
Baca Juga: Harga Emas Antam Kembali Menyentuh Rp 3 Juta Per Gram, Saatnya Profit Taking? Menurut Hasan, AADI diuntungkan dari umur cadangan sekitar 14 tahun dengan potensi pertumbuhan dari tambang Pari dan Ratah yang akan datang. Volume penjualan diproyeksikan stabil di sekitar 69 juta – 72 juta ton per tahun pada tahun 2025 - 2027. Campuran ekspornya terdiversifikasi dengan baik. Antara lain ke China, ASEAN, Korea, India, dan Jepang. Ini mengurangi risiko pasar sekaligus mematuhi DMO 25%. Grup ini telah dengan lancar menambah rezim Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) dan mempertahankan kredibilitas Environmental, Social, and Governance (ESG) yang kuat. Hal itu memposisikan AADI dengan baik untuk keberlanjutan jangka panjang dan pilihan pembiayaan hijau di masa depan. Sementara itu, tim riset Phintraco Sekuritas melihat tekanan penurunan harga batubara tetap ada karena peningkatan pasokan dari negara-negara produsen utama, penurunan konsumsi batubara di negara-negara maju, dan normalisasi harga gas. “Impor batubara China diproyeksikan lebih rendah, berkisar antara 470 juta ton sampai 500 juta ton hingga akhir tahun 2025, karena penurunan harga batubara domestik,” ujar Tim riset dalam risetnya pada 4 Desember 2025. Phintraco Sekuritas memperkirakan penjualan ekspor AADI akan melemah. Terutama karena penurunan harga jual rata-rata batubara (ASP), yang mengakibatkan penurunan pendapatan sebesar 3,8% yoy menjadi US$ 5,12 miliar pada tahun 2025.
Baca Juga: Harga Emas Antam Naik Jadi Rp 3.068.000 per Gram, Ini Proyeksi untuk Semester I 2026 Hasan memperkirakan pendapatan dan laba bersih AADI tahun 2025 masing – masing sebesar US$ 4,82 miliar dan US$ 756 juta. Tahun 2026, pendapatan dan laba bersih AADI diproyeksi mencapai US$ 4,89 miliar dan US$ 761 juta. Adapun pada tahun 2024, AADI mengantongi pendapatan US$ 5,31 miliar dan laba bersih US$ 1,21 miliar.
Hasan, David, dan tim riset Phintraco Sekuritas merekomendasikan Buy saham AADI dengan target harga masing – masing Rp 10.000 per saham, Rp 9.500 per saham, dan Rp 10.200 per saham.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News