Dividen Interim vs SBN Ritel, Mana Lebih Menarik?



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Musim pembagian dividen interim mulai berlangsung. Beberapa emiten menawarkan imbal hasil dividen cukup menarik, bahkan di atas kupon yang Surat Berharga Negara (SBN) ritel yang ditawarkan pemerintah.

Salah satunya, PT Golden Energy Mines Tbk (GEMS) berencana membayarkan dividen interim sebesar Rp 611,93 per saham. Dengan harga penutupan Rabu (7/10) sebesar Rp 8.675 per saham, estimasi dividend yield GEMS mencapai 7,05%.

Disusul,PT Teladan Prima Agro Tbk (TLDN) yang berencana membayarkan dividen interim sebesar Rp 20 per saham. Dengan harga penutupan Rp 600 per saham, estimasi dividend yield TLDN mencapai 3,33%.


Kemudian yang paling baru, ada PT Plaza Indonesia Realty Tbk (PLIN) yang dividen interim sebesar Rp 76 per saham. Dengan harga penutupan Rp 2.510 per saham, estimasi dividend yield PLIN mencapai 3,03%.

Padahal, pemerintah menawarkan Savings Bond Ritel seri SBR015 dengan kupon 6,75% untuk tenor dua tahun dan 6,85% untuk tenor empat tahun dengan skema kupon mengambang dan batas bawah alias floating with floor. 

Baca Juga: Musim Dividen Interim Dimulai, Tiga Saham Ini Tawarkan Yield Menarik

Chief Economist & Head of Research Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto mengatakan dividend yield sejumlah emiten mulai terlihat menarik, terutama GEMS yang menawarkan yield sekitar 7%, meski sebagian emiten lainnya moderat.

Dia menilai perbandingan berdasarkan yield semata belum cukup untuk menentukan pilihan investasi. SBN ritel masih kompetitif karena menawarkan kupon sekaligus pokok yang dijamin pemerintah, berbeda dengan saham.

“Jadi kalau hanya membandingkan yield, SBN ritel sebenarnya masih cukup kompetitif. Terlebih lagi, risiko keduanya berbeda. Kupon dan pokok SBN dijamin pemerintah, sementara pada saham investor tetap menghadapi volatilitas harga,” katanya kepada Kontan, Rabu (7/10/2026). 

Menurut Rully, investor juga perlu memperhatikan keberlanjutan dividen, termasuk kemampuan arus kas, rasio pembayaran dividen, kondisi neraca, prospek industri, serta keberlanjutan kinerja laba perusahaan secara menyeluruh.

Dia mengingatkan dividend yield sebesar 7% juga tidak otomatis menghasilkan total return 7%. Setelah pembayaran dividen, harga saham dapat menyesuaikan dan selanjutnya bergerak mengikuti fundamental serta sentimen pasar.

Di sisi lain, setelah koreksi pasar cukup dalam sejak puncak September, Rully melihat risiko dan imbal hasil saham mulai membaik. Investor dapat melakukan akumulasi bertahap pada saham berfundamental dan valuasi menarik.

Baca Juga: SR025 Sukses Himpun Rp 29,7 T, Selanjutnya 2 SBN Ritel Akan Terbit, Kupon Makin Naik?

Dia menilai strategi window dressing sebaiknya bukan menjadi alasan utama investor masuk pasar. Tekanan aliran dana asing, pelemahan rupiah, tingginya imbal hasil Treasury Amerika Serikat, dan ketidakpastian global tetap perlu diperhatikan.

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Nico Demus menambahkan dividend yield tinggi baru menarik jika didukung kondisi pasar dan sentimen yang memungkinkan harga saham kembali pulih setelah pembagian dividen.

“Kalau misalkan pasar mendukung, sentimen globalnya mendukung, dalam negerinya mendukung, kami pikir dividend yield yang tinggi tentu akan menjadi sebuah salah satu kesempatan,” ucapnya. 

Nico memperkirakan investor SBN ritel belum tentu beralih ke saham dengan dividend yield tinggi. Menurutnya, perbedaan profil risiko dan volatilitas pasar membuat instrumen pendapatan tetap tetap menarik bagi investor ritel.

Dia menilai kenaikan imbal hasil obligasi, termasuk tingginya imbal hasil Treasury Amerika Serikat, turut membuat instrumen obligasi semakin kompetitif. Kondisi tersebut berpotensi menahan minat investor SBN ritel berpindah ke saham.

Baca Juga: Penjualan SBN Ritel pada Tahun 2026 Telah Mencapai Rp 94,54 Triliun

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

TAG: