DMO batubara berlaku, kinerja positif Indocement (INTP) diproyeksikan berlanjut



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Meski pandemi masih membayangi, PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) berhasil mencetak kinerja positif sepanjang sembilan bulan pertama 2021.

Produsen semen merk Tiga Roda ini membukukan laba bersih senilai Rp 1,21 triliun, naik 8,24% dari laba bersih di periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 1,11 triliun. Naiknya laba bersih INTP dibarengi dengan kenaikan pendapatannya. Konstituen Indeks Kompas100 ini mengantongi pendapatan senilai Rp 10,61 triliun atau naik 4,5% dari pendapatan per akhir kuartal ketiga 2020 sebesar Rp 10,15 triliun.

Direktur dan Sekretaris Perusahaan Indocement Antonius Marcos menilai, pencapaian penjualan dan laba bersih INTP per akhir kuartal ketiga 2021 cukup baik. Volume penjualan tumbuh hampir mencapai 7%. Bahkan penjualan ekspor mencapai hampir 300%.


Baca Juga: Begini dampak penetapan harga batubara US$ 90 per ton bagi emiten semen

“Kami meyakini tren kinerja  positif ini akan terus berlangsung sampai akhir tahun dengan catatan pelaksanaan harga domestic market obligation (DMO) di lapangan dapat berjalan sesuai peraturan pemerintah,” terang Marcos kepada Kontan.co.id, Rabu (10/11).

Asal tahu, melejitnya harga batubara membuat pemerintah melakukan intervensi di sektor semen dan pupuk sebagai industri pengguna batubara.

Melalui Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor 206.K/HK.02/MEM.B/2021, pemerintah menetapkan harga jual sebesar maksimal US$ 90 per ton. Peraturan harga khusus ini resmi berlaku per 1 November 2021 hingga 31 Maret 2022 mendatang.

Baca Juga: Volume penjualan semen diproyeksi lebih baik tahun depan, ini faktor pendorongnya

Indocement menyambut baik kebijakan tersebut, mengingat batubara merupakan salah satu komponen biaya energi untuk industri semen yang sangat signifikan. Batubara adalah bagian dari biaya energi yang menyusun sekitar 4%0-50% dari biaya produksi semen.

INTP juga sangat mengapresiasi kebijakan pemerintah ini. Peraturan ini digulirkan saat pabrikan semen sedang sulit mendapatkan batubara dengan harga yang lebih wajar.

Namun, Marcos berharap, jangan sampai kebijakan ini justru menambah sulit produsen semen untuk mendapatkan pasokan batubara yang cukup, disebabkan para penambang batubara lebih memilih untuk menjual ke pasar ekspor daripada memenuhi kebutuhan batubara industri dalam negeri.

Baca Juga: Penetapan harga batubara US$ 90 per ton bisa jaga margin profitabilitas emiten semen

Dalam risetnya yang dipublikasikan Selasa (9/11), Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Mimi Halimin menilai, intervensi harga ini akan membantu meningkatkan margin profitabilitas perusahaan semen tahun depan. Tentunya, asumsi ini dengan menimbang adanya faktor-faktor lain, seperti efisiensi biaya lebih lanjut di tingkat operasional, potensi pemulihan volume, dan potensi harga jual rerata atau average selling price (ASP) yang juga lebih tinggi.

Mimi memperkirakan total volume penjualan semen INTP di tahun ini dan tahun depan masing-masing akan mencapai sekitar 18,0 juta ton dan 19,2 juta ton. Proyeksi ini didukung oleh potensi dimulainya kembali kegiatan ekonomi.

Baca Juga: Empat emiten semen kompak catatkan kenaikan volume penjualan hingga kuartal ketiga

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Wahyu T.Rahmawati