Dokumen Bersejarah Vatikan: Paus Leo XIV Sebut AI Bisa Picu Perang Tanpa Akhir



KONTAN.CO.ID - Pemimpin Gereja Katolik selama 135 tahun terakhir telah berulang kali mendesak para pemimpin dunia untuk menangani isu keadilan sosial melalui sekitar dua lusin dokumen penting yang dikenal luas oleh 1,4 miliar umat Katolik hanya lewat judul singkat dua atau tiga kata.

Misalnya saja, ensiklik “Rerum Novarum” yang diterbitkan Paus Leo XIII pada 1891 menyerukan perbaikan kondisi pekerja di era Revolusi Industri. “Pacem in Terris” karya Paus Yohanes XXIII pada 1963 mendorong perlucutan senjata nuklir di tengah Perang Dingin. Sementara “Laudato Si’” dari Paus Fransiskus pada 2015 mendesak tindakan cepat menghadapi perubahan iklim.

Kini, Pope Leo XIV menambahkan namanya dalam deretan tersebut lewat manifesto terbaru berjudul “Magnifica Humanitas” (Kemanusiaan yang Agung), yang dirilis Senin (25/5/2026). Dalam dokumen itu, ia meminta pemerintah dunia memperlambat pengembangan sistem kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).


“Seperti paus-paus sebelumnya, Paus Leo sedang merespons salah satu isu sosial paling mendesak di zamannya,” ujar jurnalis senior Vatikan John Thavis kepada Reuters.

Menurut Thavis, Paus Leo ingin ikut membentuk arah perdebatan soal teknologi dan AI dengan menekankan aspek moral dan etika yang menempatkan manusia sebagai pusat perhatian.

Setahun setelah masa kepemimpinannya dimulai, Paus Leo secara resmi menandatangani dokumen tersebut pada 15 Mei 2026, bertepatan dengan 135 tahun penerbitan “Rerum Novarum” oleh pendahulunya. Langkah ini memperkuat keterkaitan antara dokumen terbaru Vatikan tentang AI dengan tradisi lama Gereja dalam menyoroti isu sosial global.

Baca Juga: AS Tolak Iran Tinggal Selama Piala Dunia, Timnas Iran Bermarkas di Meksiko

Akademisi sekaligus penasihat Gereja asal Inggris, Anna Rowlands, mengatakan selama lebih dari satu abad para paus telah mengingatkan bahwa dunia “tidak akan diselamatkan oleh pasar.”

“Hari ini, Paus Leo memperingatkan bahwa kita juga tidak akan ‘diselamatkan’ oleh AI,” katanya dalam acara peluncuran dokumen di Vatikan.

Ensiklik merupakan salah satu bentuk ajaran tertinggi dari seorang paus kepada anggota Gereja Katolik. Tema ensiklik biasanya dipilih dengan sangat hati-hati karena mencerminkan prioritas utama kepemimpinan seorang paus. Dokumen semacam ini juga sering kali membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk disusun.

Mendiang Pope Francis, yang memimpin Gereja Katolik selama 12 tahun, hanya menerbitkan empat ensiklik sepanjang masa kepemimpinannya.

Dalam beberapa bulan terakhir, Paus Leo mengadopsi nada yang lebih tegas dan bahkan menuai kritik dari Donald Trump setelah mengkritik perang Iran.

Dalam ensikliknya, Paus Leo memperingatkan bahwa AI dapat menyebarkan disinformasi, memprioritaskan konflik, serta membawa dunia menuju perang tanpa akhir. Pada acara Vatikan Senin lalu, ia juga menyoroti kekhawatiran terhadap perkembangan sistem senjata otonom yang dinilai sudah “hampir melampaui kemampuan manusia untuk mengendalikannya.”

Namun, sejarah menunjukkan bahwa ensiklik kepausan memiliki rekam jejak yang beragam dalam menghasilkan perubahan nyata.

“Pacem in Terris”, yang diterbitkan beberapa bulan setelah krisis misil Kuba 1962, dianggap sejumlah sejarawan memberikan dukungan moral bagi negosiasi antara Presiden AS saat itu John F. Kennedy dan pemimpin Soviet Nikita Khrushchev yang kemudian menghasilkan Perjanjian Larangan Uji Coba Nuklir Parsial.

Sementara itu, Paus Fransiskus, melalui “Laudato Si’”, menjadi paus pertama yang secara terbuka mendukung konsensus ilmiah bahwa gas rumah kaca memanaskan atmosfer bumi. Namun, ia kerap mengeluhkan minimnya tindakan pemerintah dalam mengatasi perubahan iklim.

Tonton: Kapal China dan Taiwan Saling Hadang di Laut China Selatan

Menurut Thavis, dampak sebuah ensiklik biasanya sulit dinilai dalam jangka pendek karena dokumen panjang tersebut memerlukan waktu untuk dipahami masyarakat dunia.

“Ide-idenya biasanya muncul perlahan di ruang publik, media, dan gerakan akar rumput,” ujarnya. “Saya menduga ensiklik ini akan menjadi titik referensi penting dalam perdebatan global mengenai kecerdasan buatan.”

Dokumen tersebut kini telah tersedia di situs resmi Vatican dalam berbagai bahasa dan juga akan didistribusikan dalam bentuk buku kecil untuk dibaca dan didiskusikan.

Chris Olah, salah satu pendiri perusahaan AI Anthropic, turut hadir dalam acara peluncuran dokumen tersebut di Vatikan. Ia berterima kasih kepada Paus Leo karena mengangkat persoalan yang muncul akibat perkembangan teknologi AI yang sangat disruptif.

Menurut Olah, perusahaan AI seperti miliknya menghadapi tekanan komersial yang sangat besar sehingga membutuhkan pengawasan dari pihak luar.

Dalam dokumen itu, Paus Leo juga menyerukan regulasi internasional yang kuat untuk mengawasi pengembangan AI serta menegaskan bahwa kepemilikan data AI tidak boleh sepenuhnya berada di tangan swasta.

Tabel: Daftar Ensiklik Penting Vatikan dan Isu Global yang Diangkat

Tahun Paus Nama Ensiklik Fokus Utama Dampak/Isu Global
1891 Pope Leo XIII Rerum Novarum Hak pekerja dan keadilan sosial Respons Gereja terhadap Revolusi Industri
1963 Pope John XXIII Pacem in Terris Perdamaian dunia dan perlucutan nuklir Dorongan moral di era Perang Dingin
2015 Pope Francis Laudato Si’ Perubahan iklim dan lingkungan Desakan aksi global atasi krisis iklim
2026 Pope Leo XIV Magnifica Humanitas Risiko AI dan etika teknologi Seruan perlambatan pengembangan AI dan regulasi global