Dolar AS Berfluktuasi Selasa (13/1) Pagi, Dibayangi Sentimen Independensi The Fed



KONTAN.CO.ID - Nilai tukar dolar Amerika Serikat bergerak tidak stabil pada perdagangan Selasa (13/1/2026), bertahan di zona pelemahan setelah pemerintahan Presiden Donald Trump membuka penyelidikan pidana terhadap Ketua Federal Reserve Jerome Powell.

Langkah tersebut memicu kekhawatiran pasar terhadap independensi bank sentral AS serta kepercayaan investor terhadap aset-aset Amerika Serikat.

Pelaku pasar masih mencerna dampak dari kabar penyelidikan yang terungkap pada Minggu malam waktu setempat.


Baca Juga: Pasca Penembakan Warga, Minnesota dan Illinois Gugat Kebijakan Imigrasi Trump

Langkah ini menuai kecaman dari sejumlah mantan pimpinan The Fed dan dipandang sebagai eskalasi signifikan dalam upaya Trump menekan bank sentral agar memangkas suku bunga lebih agresif.

Respons pasar terlihat melalui aksi jual dolar AS dan obligasi pemerintah AS (US Treasuries). Selain itu, sebagian investor beralih ke aset lindung nilai seperti emas.

Meski demikian, tekanan pasar kali ini dinilai lebih terbatas dibandingkan gejolak besar yang terjadi setelah Trump mengumumkan tarif impor besar-besaran pada April lalu.

“Kejadian ini relatif ringan, dengan pelemahan dolar dan obligasi AS yang terbatas. Pasar kemungkinan menilai ini lebih sebagai ancaman politik yang akan mereda,” ujar Vishnu Varathan, Kepala Riset Makro Asia ex-Jepang di Mizuho.

Di pasar Asia pagi hari, euro tercatat stabil di level US$1,1663 setelah sempat menguat hingga 0,5% pada sesi sebelumnya.

Baca Juga: Nasib Diplomasi Iran-AS: Komunikasi Diam-diam di Tengah Ancaman Trump

Pound sterling juga relatif datar di US$1,3463, mempertahankan kenaikan 0,47% pada Senin.

Sementara itu, franc Swiss kembali diburu sebagai aset aman dan menguat tipis ke 0,7974 per dolar AS.

Indeks dolar tercatat di level 98,92, setelah membukukan penurunan harian terburuk dalam tiga pekan terakhir.

“Prospek dolar saat ini cenderung campuran,” kata Sim Moh Siong, analis valas OCBC.

Ia menilai, dari sisi data ekonomi, The Fed seharusnya lebih berhati-hati dalam memangkas suku bunga karena ketahanan ekonomi AS masih terlihat.

Namun, tekanan politik yang meningkat dapat memengaruhi arah kebijakan moneter.

Baca Juga: Tegas! Pejabat Kelas Atas China Jadi Buruan Xi Jinping

“Jika tekanan politik terhadap The Fed semakin kuat, bank sentral bisa berubah lebih dovish dan memangkas suku bunga lebih dalam dari yang seharusnya didasarkan pada kondisi ekonomi,” ujarnya.

Meski langkah terbaru pemerintahan Trump belum mengubah ekspektasi pasar terhadap dua kali pemangkasan suku bunga The Fed tahun ini, isu independensi bank sentral kembali mencuat.

Lembaga pemeringkat Fitch Ratings menegaskan bahwa independensi The Fed merupakan faktor penting penopang peringkat kredit AA+ Amerika Serikat.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun turun tipis ke level 4,1713%, sementara yield obligasi tenor dua tahun bertahan di sekitar 3,5323%, mendekati level tertinggi tiga pekan terakhir.

Baca Juga: Ancaman Dakwaan DOJ ke The Fed: Investor Emas Wajib Waspada Risiko Ini

Yen Jepang Tertekan

Di pasar mata uang lain, yen Jepang terus melemah akibat spekulasi politik domestik. Yen menyentuh level terendah dalam satu tahun di kisaran 158,285 per dolar AS, seiring meningkatnya kemungkinan pemilu dini di Jepang.

Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi dikabarkan mempertimbangkan pemilu umum lebih awal pada Februari mendatang. Spekulasi tersebut mendorong aksi jual yen dan obligasi pemerintah Jepang.

Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama menyatakan bahwa dirinya dan Menteri Keuangan AS Scott Bessent sama-sama mencermati pelemahan yen yang dinilainya bergerak satu arah.

Baca Juga: Ancaman Trump: Negara Mitra Dagang Iran Bakal Kena Tarif 25% dari AS

“Pasar kemungkinan memperkirakan koalisi pimpinan Takaichi akan memperkuat posisinya di parlemen, yang membuka ruang pelonggaran kebijakan fiskal dan berpotensi kebijakan moneter,” kata Carol Kong, analis mata uang Commonwealth Bank of Australia.

Di kawasan Asia-Pasifik, dolar Australia bergerak mendatar di US$0,6710, sementara dolar Selandia Baru menguat tipis 0,05% ke US$0,5775.

Survei swasta menunjukkan sentimen konsumen Australia melemah pada Januari, seiring kekhawatiran suku bunga dan ketidakpastian ekonomi. Sebaliknya, kepercayaan bisnis Selandia Baru tercatat meningkat ke level tertinggi sejak Maret 2014.

Selanjutnya: Promo HokBen Eastvara BSD: 4 Promo Besar Beruntun, Gratis Payung & Tumbler Menanti

Menarik Dibaca: Promo HokBen Eastvara BSD: 4 Promo Besar Beruntun, Gratis Payung & Tumbler Menanti