Dolar AS Berpotensi Menguat Pekan Depan, Harga Minyak Berisiko Terkoreksi



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pergerakan indeks dolar Amerika Serikat (AS), harga minyak mentah, dan harga emas pada perdagangan pekan depan diperkirakan masih akan dipengaruhi oleh dinamika geopolitik di Timur Tengah serta arah kebijakan suku bunga bank-bank sentral utama dunia.

Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi memperkirakan indeks dolar AS masih memiliki peluang untuk melanjutkan penguatan. Secara teknikal, ia memproyeksikan indeks dolar bergerak pada kisaran level support 99,10 dan resistance 100,70.

"Masih ada indikasi bahwa indeks dolar AS akan kembali menguat menuju level 100,700," ujar Ibrahim dalam rilis resminya, Minggu (14/6/2026).


Di sisi lain, harga minyak mentah diperkirakan berpotensi mengalami koreksi dengan area support di level 77,40 dan resistance di 94,60. Menurut Ibrahim, peluang penurunan harga minyak masih terbuka apabila ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah mulai mereda dalam beberapa waktu ke depan.

Sementara itu, harga emas dunia pada akhir pekan ditutup di level US$ 4.219 per ons troi. Adapun harga emas batangan bersertifikat Antam di pasar domestik tercatat berada di level Rp 2.711.000 per gram.

Baca Juga: Emiten Sektor Rumah Sakit Dinilai Tetap Tumbuh Meski Dibayangi Sejumlah Tantangan

Secara teknikal, jika harga emas mengalami koreksi, level support pertama diperkirakan berada di US$ 4.058 per ons troi yang dapat mendorong harga emas Antam turun menjadi sekitar Rp 2.610.000 per gram. Apabila tekanan jual berlanjut, support berikutnya berada di level US$ 3.929 per ons troi dengan proyeksi harga emas domestik turun hingga sekitar Rp 2.500.000 per gram.

Sebaliknya, jika tren penguatan masih berlanjut, resistance pertama diperkirakan berada di level US$ 4.394 per ons troi dengan potensi harga emas Antam naik menjadi Rp 2.740.000 per gram. Sementara resistance kedua berada di US$ 4.571 per ons troi yang dapat membawa harga emas batangan mencapai sekitar Rp 2.880.000 per gram.

Geopolitik dan Kebijakan Bank Sentral Jadi Sorotan

Dari sisi fundamental, Ibrahim menilai terdapat dua faktor utama yang akan menjadi perhatian pelaku pasar pada pekan depan, yakni perkembangan situasi geopolitik di Timur Tengah dan keputusan kebijakan moneter dari bank sentral utama dunia.

Menurutnya, pelaku pasar kini mencermati perkembangan hubungan antara Amerika Serikat dan Iran, khususnya terkait harapan tercapainya kesepakatan yang mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz.

"Indikasi perdamaian ini membuat harga minyak mentah berpotensi turun," kata Ibrahim.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa pasar masih menunggu realisasi dari kesepakatan tersebut mengingat risiko konflik di kawasan Timur Tengah masih tetap membayangi.

Baca Juga: Solusi Bangun Indonesia Operasikan Fasilitas Ekspor di Tuban, Bidik 450.000 Ton Semen

Selain perkembangan geopolitik, perhatian investor juga akan tertuju pada agenda pertemuan sejumlah bank sentral besar dunia pada pekan depan, mulai dari Federal Reserve (The Fed), Bank Sentral Eropa (ECB), Bank of England (BoE), hingga Bank of Japan (BoJ).

Ibrahim menilai The Fed berpeluang mempertahankan suku bunga acuannya pada pertemuan mendatang. Namun, arah kebijakan moneter selanjutnya dinilai akan sangat bergantung pada perkembangan inflasi dan pergerakan harga energi global.

Menurutnya, lonjakan harga minyak sebelumnya sempat meningkatkan tekanan inflasi global. Namun apabila harga minyak kembali melemah seiring meredanya tensi geopolitik, ruang bagi bank-bank sentral untuk kembali melonggarkan kebijakan moneternya akan semakin terbuka.

Dalam kondisi tersebut, Ibrahim menilai emas tetap memiliki prospek menarik sebagai aset lindung nilai atau safe haven bagi investor.

"Apabila Selat Hormuz kembali dibuka dan tekanan geopolitik mereda, itu bisa menjadi momentum bagi harga emas dunia maupun emas batangan untuk kembali menguat," ujar Ibrahim.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News