KONTAN.CO.ID - Mata uang dolar Amerika Serikat (AS) bergerak sedikit defensif pada perdagangan hari Senin (29/6/2026) ini, namun tetap berada dalam jalur untuk mencatatkan kenaikan bulanan terbesar dalam hampir satu tahun terakhir. Keperkasaan greenback ditopang oleh ketegangan geopolitik di Teluk Arab serta sikap pelaku pasar yang menanti rilis data ketenagakerjaan AS, yang diprediksi akan memengaruhi arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed).
Baca Juga: Survei Invesco: SWF dan Bank Sentral Dunia Mulai Ragukan Masa Depan Dolar AS AS dan Iran sempat kembali saling melontarkan ancaman pada akhir pekan, sebelum akhirnya kedua belah pihak sepakat untuk menghentikan aksi saling serang dan mengadakan pertemuan di Qatar pada hari Selasa esok. Kondisi ini membuat para investor tetap waspada terhadap rapuhnya gencatan senjata interim tersebut. Di sisi lain, harga minyak mentah bergerak naik pada hari Senin menyusul insiden serangan yang kembali memperlambat jalur pengiriman energi di Selat Hormuz. Hal ini memicu lonjakan permintaan terhadap dolar AS sebagai aset aman (
safe-haven).
Baca Juga: Pasar Global Galau! Gencatan Senjata AS-Iran Belum Mampu Redam Kekhawatiran Investor Pergerakan Mata Uang Global terhadap Dolar AS
- Euro: Bergerak stagnan di level $1,1387 per dolar AS setelah sempat menyentuh level terendah dalam 13 bulan pada pekan lalu. Mata uang tunggal Eropa ini berada di jalur penurunan bulanan sebesar 2,3%.
- Poundsterling: Melemah tipis 0,1% ke posisi $1,3198 dan mencatatkan penurunan sekitar 2% sepanjang bulan Juni.
- Dolar Australia & Selandia Baru: Dolar Australia yang sensitif terhadap risiko melemah 0,1% ke posisi $0,6885, bersiap menutup bulan dengan koreksi 4,1%. Sementara itu, dolar Selandia Baru bergerak mendatar di level $0,5635, ambles hingga 5,9% secara bulanan.
- Yen Jepang: Diperdagangkan di level 161,75 per dolar AS, terus mendekati rekor terendah dalam 40 tahun terakhir.
Baca Juga: PBOC Luncurkan Reverse Repo Overnight Perdana, Suntik Likuiditas 300 Miliar Yuan Indeks Dolar AS, yang mengukur kekuatan mata uang eksklusif Negeri Paman Sam terhadap enam mata uang utama dunia, merangkak naik ke posisi 101,36. Sepanjang bulan Juni, indeks ini berada dalam jalur penguatan sebesar 2,5%, yang menandai lompatan bulanan terbesar sejak Juli tahun lalu. Faktor Pendorong Kuatnya Dolar AS Konflik yang melibatkan Iran dinilai terus memicu tekanan inflasi global. Di waktu yang sama, debut mengejutkan yang bernuansa ketat (hawkish) dari Kevin Warsh sebagai Ketua Federal Reserve yang baru pada awal bulan ini telah membalikkan ekspektasi pasar. Investor yang semula memproyeksikan adanya pemangkasan suku bunga acuan AS tahun ini kini harus mengalkulasi ulang strategi mereka. Selain sentimen suku bunga, aksi jual massal saham-saham sektor teknologi secara global ikut mendorong aliran modal masuk (inflow) ke mata uang dolar AS sebagai tempat berlindung dari volatilitas pasar ekuitas. Kini, perhatian pasar tertuju pada data ketenagakerjaan AS (non-farm payroll) dan tingkat pengangguran yang akan dirilis pekan ini. Data tersebut diharapkan mampu memberikan petunjuk baru mengenai kekuatan pasar tenaga kerja dan prospek kebijakan moneter The Fed ke depan.
Baca Juga: Bukan Main! Korsel Bangun Mega Klaster AI, Nilai Investasi Tembus 1.000 Triliun Won "Kami memperkirakan prospek USD akan terus merangkak naik dalam beberapa minggu mendatang karena narasi 'US exceptionalism' (keunggulan ekonomi AS dibanding negara maju lainnya)," ungkap Joseph Capurso, Head of Foreign Exchange di Commonwealth Bank of Australia. Pasar tenaga kerja yang kuat dan terus membaik merupakan katalis kuat bagi bertahannya suku bunga tinggi dan penguatan dolar, tambahnya. Di Eropa, forum tahunan Bank Sentral Eropa (ECB) pekan ini juga menjadi fokus pengamatan. Presiden ECB Christine Lagarde dijadwalkan membuka forum tersebut pada hari Senin, diikuti oleh panel kebijakan utama pada hari Rabu yang juga akan menghadirkan Ketua The Fed Kevin Warsh. Pelaku pasar berharap bisa membaca arah kebijakan makroekonomi lebih jelas dari pemimpin baru bank sentral AS tersebut.