KONTAN.CO.ID - Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) bergerak stabil di dekat level terendah dalam dua pekan pada perdagangan Senin (6/7/2026), setelah pelaku pasar mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) tahun ini. Sementara itu, yen Jepang tetap berada di dekat level terlemah dalam 40 tahun terakhir, sehingga memicu spekulasi mengenai kemungkinan intervensi pemerintah Jepang di pasar valuta asing.
Baca Juga: Prospek Suku Bunga AS Melunak, Harga Emas Bertahan di Dekat Puncak Dua Pekan Mengutip
Reuters, euro diperdagangkan di level US$ 1,1435, tidak jauh dari posisi tertinggi dalam dua pekan terakhir. Pound sterling berada di US$ 1,3351, sedangkan indeks dolar AS (DXY), yang mengukur pergerakan dolar terhadap enam mata uang utama, bertahan di level 100,9. Di sisi lain, yen berada di kisaran 161,57 per dolar AS, hanya sedikit lebih kuat dibandingkan level 162,84 yang disentuh pekan lalu, merupakan posisi terlemah sejak 1986. Pelaku pasar masih mewaspadai potensi intervensi pemerintah Jepang setelah lonjakan pembelian yen secara tiba-tiba sempat mengangkat nilai tukar mata uang tersebut pada Kamis lalu. Sementara itu, won Korea Selatan menguat tipis ke 1.534 per dolar AS pada hari pertama implementasi perdagangan spot dolar-won domestik selama 24 jam.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Turun Senin (6/7), OPEC+ Sepakati Kenaikan Produksi Data tenaga kerja AS tekan dolar Dolar AS mencatat penurunan mingguan terbesar sejak April setelah data ketenagakerjaan AS menunjukkan pertumbuhan lapangan kerja pada Juni melambat tajam. Data tersebut mendorong pasar mengurangi ekspektasi bahwa The Fed akan kembali menaikkan suku bunga dalam waktu dekat. Meski demikian, analis OCBC menilai tingkat pengangguran yang masih rendah menunjukkan pasar tenaga kerja AS tetap solid sehingga peluang kebijakan moneter ketat belum sepenuhnya hilang. "Kami tetap mempertahankan pandangan bahwa dolar AS masih memiliki prospek yang konstruktif, dengan potensi penguatan sekitar 2% hingga 3% pada paruh kedua 2026," tulis analis OCBC. Penurunan harga minyak juga membantu meredakan kekhawatiran terhadap inflasi sehingga perhatian investor kini tertuju pada risalah rapat The Fed bulan Juni yang akan dirilis pekan ini. Analis Commonwealth Bank of Australia (CBA) memperkirakan risalah tersebut kemungkinan tidak akan memberikan banyak petunjuk baru mengenai arah kebijakan suku bunga karena Ketua The Fed, Kevin Warsh, sebelumnya menyatakan bank sentral telah memberikan terlalu banyak panduan kepada pasar.
Baca Juga: Brasil Tersingkir dari Piala Dunia 2026, Neymar Isyaratkan Pensiun dari Timnas Yen tetap dibayangi risiko intervensi Yen masih menjadi perhatian utama pasar karena berada di dekat level terlemah dalam empat dekade. Analis menilai risiko intervensi pemerintah Jepang dapat memicu volatilitas jangka pendek, tetapi belum tentu mampu membalikkan tren pelemahan yen terhadap dolar AS.
Menurut OCBC, tanpa perubahan fundamental ekonomi yang signifikan, peringatan verbal maupun intervensi langsung dari pemerintah Jepang kemungkinan hanya akan memicu koreksi sementara.
Baca Juga: Gelombang Lock-up IPO Terbesar Menghampiri Hong Kong, Investor Diminta Waspada Sementara itu, Kepala Strategi Pasar Bannockburn Global Forex Marc Chandler mengatakan, pelaku pasar menyadari risiko intervensi semakin besar. Ia menambahkan, pasar opsi menunjukkan adanya peningkatan pembelian kontrak opsi jual (put option) dolar AS berjangka pendek sebagai langkah lindung nilai apabila pemerintah Jepang benar-benar melakukan intervensi di pasar valuta asing.