KONTAN.CO.ID - Dolar Amerika Serikat (AS) bertahan di dekat level tertinggi dalam empat pekan pada perdagangan Selasa (28/7/2026). Pelaku pasar masih mencermati peluang kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed) pekan ini, meski penurunan harga minyak mulai meredakan kekhawatiran terhadap inflasi.
Baca Juga: Zidane Resmi Jadi Pelatih Timnas Prancis, Gantikan Didier Deschamps Mengutip
Reuters, indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback terhadap sekeranjang mata uang utama, termasuk euro dan yen Jepang, bergerak stabil di 101,50, setelah sebelumnya menyentuh level tertinggi sejak 1 Juli. Euro menguat tipis 0,05% ke US$ 1,1370, sementara dolar AS diperdagangkan di 163,745 yen. Di sisi lain, pound sterling naik 0,1% menjadi US$ 1,330. Penguatan dolar dalam beberapa bulan terakhir didorong oleh perubahan ekspektasi pasar terhadap kebijakan The Fed. Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS terus meningkat sejak April setelah konflik AS-Iran memicu kekhawatiran inflasi. Selain itu, sikap hawkish Ketua The Fed, Kevin Warsh, juga memperkuat ekspektasi bahwa suku bunga akan tetap tinggi.
Baca Juga: India Bidik 25% Impor LPG dari AS demi Kurangi Ketergantungan Timur Tengah Meskipun harga minyak turun setelah AS menghentikan sementara serangan terhadap Iran pada akhir pekan, imbal hasil obligasi masih bertahan di dekat level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir. "Pergerakan imbal hasil obligasi AS menjadi faktor yang sangat kuat dalam menjelaskan penguatan dolar," ujar Dominic Bunning, Head of G10 FX Strategy Nomura di London. Namun, ia mengingatkan bahwa pasar mungkin sudah terlalu yakin terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga dalam waktu dekat. Jika hasil rapat The Fed justru bernada lebih dovish, investor berpotensi melepas posisi beli dolar AS. Data regulator AS menunjukkan posisi beli bersih (net long) terhadap dolar telah mencapai level tertinggi sejak 2015.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Anjlok ke Level Terendah Sepekan, Ini Pemicunya The Fed akan mengakhiri rapat kebijakan moneternya pada Rabu (29/7). Sejumlah lembaga keuangan besar kini memperingatkan bahwa bank sentral AS berpeluang menaikkan suku bunga menyusul lonjakan harga minyak sepanjang bulan ini. Berdasarkan data LSEG, pasar memperkirakan peluang hampir 40% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan pekan ini, meningkat dari sekitar 20% sepekan sebelumnya. Sementara itu, probabilitas kenaikan suku bunga pada pertemuan September telah mencapai hampir 95%. Investor juga akan mencermati sejumlah data ekonomi penting AS pekan ini, termasuk pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) kuartal II serta inflasi inti Personal Consumption Expenditures (PCE) yang menjadi acuan utama The Fed. Di kawasan Asia-Pasifik, dolar Australia melemah 0,3% ke US$ 0,697 setelah Gubernur Reserve Bank of Australia (RBA) Michele Bullock menyatakan inflasi inti masih terlalu tinggi sehingga perlambatan permintaan domestik mungkin masih diperlukan untuk menekan kenaikan harga. Sementara itu, dolar Selandia Baru diperdagangkan di US$ 0,5772.
Baca Juga: Penjualan Unilever Melesat, Proyeksi 2026 Naik Berkat Permintaan Dove hingga Vaseline Pekan sibuk bank sentral Selain The Fed, pelaku pasar juga menantikan keputusan kebijakan moneter Bank of England (BoE) dan Bank of Japan (BoJ) yang dijadwalkan pada Kamis dan Jumat. Kedua bank sentral tersebut diperkirakan akan mempertahankan suku bunga, namun tetap berhati-hati terhadap risiko inflasi. Yen Jepang masih berada di bawah tekanan setelah pekan lalu sempat menyentuh level terlemah dalam 40 tahun di 163,99 per dolar AS. BoJ diperkirakan tetap membuka peluang kenaikan suku bunga lebih lanjut guna mendukung penguatan yen, meski belum akan memberikan kepastian mengenai waktu maupun besaran pengetatan kebijakan.
Baca Juga: BYD Luncurkan Mobil Listrik Mini Racco di Jepang, Bidik Dongkrak Penjualan Menurut Bunning, koordinasi antara BoJ dan Kementerian Keuangan Jepang dapat meningkatkan efektivitas intervensi di pasar valuta asing. "Kami melihat pola serupa pada Juli 2024. Kombinasi pesan yang lebih hawkish dari BoJ dan intervensi pemerintah bisa menjadi momen yang paling efektif," ujarnya. Menteri Keuangan Jepang, Satsuki Katayama, dalam wawancara Reuters NEXT pada Selasa menegaskan bahwa pemerintah tetap siap merespons pergerakan nilai tukar bila diperlukan dan meyakini Amerika Serikat memiliki pandangan yang sama. Sementara itu, di pasar aset kripto, Bitcoin turun 2,3% ke US$ 63.414,16, sedangkan Ether melemah 3,4% menjadi US$ 1.879,71, penurunan harian terbesar dalam satu bulan.