Dolar AS Bertahan di Level Tertinggi 2 Bulan Rabu (23/9), Cermati Kenaikan Suku Bunga



KONTAN.CO.ID - Dolar Amerika Serikat (AS) bertahan di dekat level tertinggi dalam dua bulan pada Rabu (23/9/2026), didukung ekspektasi kenaikan suku bunga dalam waktu dekat.

Di sisi lain, penurunan harga minyak di tengah harapan diplomasi untuk mengakhiri perang di Timur Tengah membuat investor tetap berhati-hati.

Melansir Reuters pada perdagangan awal, euro berada di US$ 1,1446, mendekati level terlemah sejak akhir Juli.


Baca Juga: Disebut Donald Trump Negara Gagal, Delegasi Kuba Walk Out Saat Sidang Umum PBB

Pound sterling berada di US$ 1,3337, sedangkan indeks dolar yang mengukur kinerja greenback terhadap enam mata uang utama berada di level 100,56.

Pergerakan dolar belakangan ini banyak dipengaruhi oleh perubahan ekspektasi kebijakan moneter bank sentral utama dunia.

Serangkaian kenaikan suku bunga serta pernyataan hawkish dari sejumlah bank sentral menjadi perhatian pasar valuta asing, terutama ketika konflik AS-Israel dengan Iran mendorong harga minyak dan meningkatkan kekhawatiran inflasi.

Pelaku pasar kini memperkirakan bank-bank sentral masih akan memperketat kebijakan moneter. Sejumlah pejabat Federal Reserve bahkan membuka kemungkinan kenaikan suku bunga tambahan jika inflasi belum menunjukkan penurunan yang cukup.

"Dukungan dolar dari suku bunga terlihat bertahan, tetapi kontrak berjangka sudah memperhitungkan pengetatan yang lebih besar dibandingkan proyeksi The Fed sendiri. Karena itu, dolar kini membutuhkan data ekonomi untuk mengonfirmasi ekspektasi tersebut," kata Kieran Williams, Head of Asia FX di Intouch Capital Markets.

Baca Juga: Jelang Xi Jinping-Trump Bertemu, China Tegaskan 4 Garis Merah kepada AS

Harga minyak dan diplomasi Iran

Pergerakan harga minyak juga menjadi perhatian pasar valuta asing. Harga Brent berada di sekitar US$ 99,22 per barel pada Rabu, setelah harapan terhadap jalur diplomasi di Sidang Umum PBB mendorong optimisme bahwa konflik di Timur Tengah dapat menemukan jalan keluar.

Meski demikian, harga Brent masih mencatat kenaikan sekitar 37% sejak konflik pecah pada akhir Februari.

Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengancam akan menghancurkan Iran jika tidak tercapai kesepakatan untuk mengakhiri perang.

Namun, Trump juga menyebut kesepakatan masih mungkin tercapai dalam waktu dekat seiring berlangsungnya upaya diplomasi di PBB.

"Berita baiknya, harga minyak telah sedikit moderat dari level tertingginya. Namun, arah ke depan masih belum jelas karena belum ada kepastian mengenai kemungkinan penyelesaian konflik," ujar Michael Wan, analis valuta asing MUFG.

Baca Juga: Harga Minyak Brent Turun di Bawah US$100 Rabu (23/9), Pasokan Teluk Mulai Pulih

Yen Jepang jadi perhatian

Investor juga mencermati pertemuan antara Trump dan Presiden China Xi Jinping. Pertemuan tersebut diharapkan dapat menjaga stabilitas hubungan AS-China yang masih menghadapi sejumlah persoalan, termasuk perdagangan dan geopolitik.

Sementara itu, yen Jepang berada di level 157,55 per dolar AS. Pelaku pasar masih mewaspadai kemungkinan intervensi otoritas Jepang di tengah pelemahan yen.

Kenaikan suku bunga Bank of Japan (BOJ) ke level tertinggi dalam 31 tahun pada pekan lalu dinilai belum cukup hawkish untuk mempersempit selisih imbal hasil dengan AS.

Dua suara berbeda dalam keputusan BOJ serta tidak adanya sinyal hawkish yang tegas membuat pasar meragukan seberapa cepat bank sentral Jepang akan melanjutkan pengetatan kebijakan, terutama setelah The Fed juga menaikkan suku bunga pada pekan lalu dan membuka peluang kenaikan lanjutan.

Baca Juga: Sekjen PBB: Solusi Dua Negara Palestina-Israel Tak Punya Alternatif

Pasar Jepang tutup karena hari libur pada Rabu. Kondisi likuiditas yang lebih rendah dinilai analis dapat menjadi periode yang memungkinkan bagi otoritas Jepang melakukan intervensi jika diperlukan.

"Kenaikan suku bunga BOJ tidak mempersempit kesenjangan imbal hasil karena The Fed menaikkan suku bunga dengan besaran yang sama dua hari sebelumnya. Jadi, kecenderungannya masih mengarah lebih tinggi," kata Williams.

Menurutnya, level 160 yen per dolar AS masih menjadi risiko. Namun, otoritas Jepang dilaporkan mulai mengurangi pemberian sinyal mengenai intervensi dan tidak lagi menetapkan level tertentu sebagai batas.

Dengan demikian, respons terhadap pelemahan yen bisa dilakukan lebih awal dan dalam bentuk yang berbeda.