Dolar AS Bertahan di Level Tertinggi Sepekan Jumat (11/9), Minyak Tembus US$100



KONTAN.CO.ID - Dolar Amerika Serikat (AS) bertahan di level tertinggi dalam sepekan pada perdagangan Jumat (11/9/2026), sementara yen Jepang melemah untuk hari kedua.

Pergerakan tersebut terjadi ketika meningkatnya risiko gangguan pasokan energi di Timur Tengah mendorong harga minyak dan imbal hasil obligasi AS.

Melansir Reuters, Indeks dolar yang mengukur kinerja greenback terhadap enam mata uang utama berada di level 99,081. Posisi tersebut relatif stabil setelah menguat 0,3% pada perdagangan Kamis dan mencapai level tertinggi sejak 7 September 2026.


Baca Juga: Bukan Indonesia, 3 Negara Tetangga Ini Masuk 10 Negara Terbaik untuk Pensiunan 2026

Penguatan dolar terjadi setelah data menunjukkan harga produsen AS meningkat 0,4% pada Agustus, sesuai dengan ekspektasi pasar. Kenaikan tersebut terjadi seiring dengan kembali meningkatnya harga energi.

"Permintaan terhadap dolar AS sebagai aset safe haven meningkat akibat arus penghindaran risiko. Kenaikan harga energi juga meningkatkan peluang kenaikan suku bunga The Fed pekan depan menjadi 70%," ujar Tony Sycamore, analis pasar di IG, Sydney.

Harga energi melanjutkan kenaikan untuk hari keenam berturut-turut. Harga minyak mentah Brent naik 1,2% menjadi US$108,96 per barel pada perdagangan Asia.

Kedua harga minyak acuan utama tersebut telah menembus level US$100 per barel pada pekan ini. Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) bahkan kembali melewati level tersebut pada Kamis untuk pertama kalinya sejak 21 Mei.

Kenaikan harga minyak terjadi di tengah meningkatnya risiko gangguan pasokan energi akibat eskalasi konflik di Timur Tengah.

Baca Juga: Skandal Pelanggaran Chelsea Kembali Mencuat, 12 Trofi Bisa Berpindah ke Rival

Kondisi tersebut meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap tekanan inflasi global karena biaya energi yang lebih tinggi berpotensi meningkatkan harga barang dan jasa.

Di pasar valuta asing, dolar AS sempat menguat 0,1% menjadi 154,615 yen. Euro juga naik 0,1% menjadi 179,49 yen setelah Bank Sentral Eropa (ECB) menaikkan suku bunga pada Kamis, yang menjadi kenaikan kedua sepanjang tahun ini.

Namun, yen kemudian menguat setelah data Jepang menunjukkan inflasi harga grosir meningkat 7,6% secara tahunan pada Agustus. Data tersebut memperkuat ekspektasi bahwa Bank of Japan (BOJ) dapat kembali menaikkan suku bunga bulan ini.

Sementara itu, dolar Australia bergerak datar di US$0,7160. Dolar Selandia Baru naik 0,1% menjadi US$0,5805. Euro dan poundsterling masing-masing relatif stabil terhadap dolar AS di US$1,1613 dan US$1,3510.

Baca Juga: AS Siapkan Sanksi terhadap Bank Besar, Tekanan ke Iran Makin Meluas

Tekanan terhadap The Fed

Perhatian investor kini tertuju pada data inflasi konsumen atau CPI AS yang akan dirilis Jumat. Data tersebut menjadi salah satu indikator ekonomi penting terakhir sebelum Federal Reserve menggelar pertemuan kebijakan moneter pekan depan.

Pasar semakin memperkirakan kenaikan suku bunga The Fed. Kontrak futures dana federal menunjukkan probabilitas kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan yang berakhir 16 September mencapai 71,3%, naik dari 61,2% pada sesi sebelumnya, berdasarkan CME FedWatch.

Kenaikan harga energi menjadi tantangan bagi The Fed karena dapat memperkuat tekanan inflasi ketika bank sentral tengah mempertimbangkan arah kebijakan suku bunga.

Di pasar obligasi, yield US Treasury juga kembali meningkat. Yield obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun naik 2,3 basis poin menjadi 4,965%, atau semakin mendekati level 5%.

Barclays menilai pasar obligasi masih menghadapi ketidakpastian karena investor kembali menyesuaikan ekspektasi terhadap arah kebijakan The Fed.

Baca Juga: Harga BBM Malaysia Naik untuk 10-16 Sept 2026, Tapi Tetap Lebih Murah Dari Indonesia

"Yield US Treasury 10 tahun berada dalam jarak dekat dengan 5% karena pasar menilai kembali jalur kenaikan The Fed," tulis analis Barclays.

Kenaikan yield tersebut juga mencerminkan meningkatnya premi risiko di pasar obligasi, sementara investor masih melihat belum ada katalis kuat yang dapat mendorong reli harga obligasi dalam waktu dekat.

Di pasar aset kripto, bitcoin turun 0,8% menjadi US$76.624,32. Ethereum juga melemah sekitar 0,8% ke level US$2.443,18.