Dolar AS Bertahan Melemah Rabu (7/10) Pagi, Pasar Tunggu Sinyal Suku Bunga The Fed



KONTAN.CO.ID - Dolar Amerika Serikat (AS) bertahan melemah pada perdagangan Rabu (7/10/2026). Pasar menunggu risalah pertemuan Federal Reserve (The Fed) serta pernyataan sejumlah pejabat bank sentral AS untuk mencari petunjuk mengenai arah suku bunga selanjutnya.

Meredanya tekanan di pasar obligasi Eropa turut membebani dolar AS. Pada perdagangan sebelumnya, euro melonjak paling tinggi dalam tujuh pekan setelah imbal hasil obligasi Prancis turun menyusul rencana kandidat terdepan dalam pemilihan presiden tahun depan untuk memangkas belanja pemerintah.

Di sisi lain, yen Jepang melemah meski salah satu anggota dewan Bank of Japan (BOJ) yang cenderung dovish menyatakan dukungan terhadap kenaikan suku bunga.


Baca Juga: Harga Minyak Dunia Naik Rabu (7/10), Badai AS dan Serangan Houthi Ancam Pasokan

The Fed dijadwalkan merilis risalah pertemuan kebijakan 15-16 September pada Rabu waktu AS. Dalam pertemuan tersebut, The Fed menaikkan suku bunga untuk meredam inflasi.

Namun, pernyataan sejumlah pejabat The Fed belakangan cenderung kurang hawkish setelah data personal consumption expenditures (PCE) dan laporan ketenagakerjaan AS yang lebih lemah dari perkiraan pada pekan lalu.

"Ada sedikit urgensi bagi The Fed untuk menaikkan suku bunga setelah data PCE dan nonfarm payrolls yang lebih lemah baru-baru ini," ujar Gavin Friend, senior markets strategist National Australia Bank, dalam sebuah podcast.

Melansir Reuters, Indeks dolar, yang mengukur kinerja greenback terhadap sejumlah mata uang utama, naik tipis 0,03% menjadi 101,94 setelah merosot 0,27% pada perdagangan sebelumnya.

Sementara itu, euro melemah 0,08% menjadi US$ 1,1249. Yen Jepang turun 0,19% terhadap dolar AS menjadi 158,43 yen per dolar. Pound sterling juga turun 0,08% menjadi US$ 1,3262.

Baca Juga: Harga Emas Spot Stabil Rabu (7/10) Pagi, Pasar Menanti Risalah The Fed

Imbal hasil obligasi di berbagai negara telah meningkat dalam beberapa pekan terakhir karena ekspektasi kenaikan suku bunga bank sentral serta kekhawatiran terhadap kondisi fiskal pemerintah.

Tekanan terhadap obligasi Prancis meningkat ketika para politikus kesulitan memangkas defisit anggaran menjelang pemilu 2027 yang diperkirakan berlangsung sengit. Pemilu cepat di Spanyol juga menambah tekanan terhadap euro.

Euro menguat tajam pada Selasa setelah kandidat presiden Prancis dari sayap kanan, Marine Le Pen, menaikkan target pemangkasan belanja menjadi €140 miliar atau sekitar US$158 miliar dari rencana sebelumnya sebesar €125 miliar jika memenangkan pemilu 2027.

Dari Jepang, anggota baru dewan kebijakan BOJ Ayano Sato mengatakan kepada kantor berita Kyodo pada Rabu bahwa dirinya mendukung kenaikan suku bunga secara bertahap.

BOJ juga berpotensi memberikan sinyal pada bulan ini bahwa inflasi yang mendasari telah mendekati target 2%.

Tiga sumber yang mengetahui pemikiran bank sentral Jepang mengatakan hal tersebut dapat memperkuat kesiapan BOJ untuk kembali menaikkan suku bunga.

Baca Juga: Francis Halzen Raih Nobel Fisika 2026, Ungkap Rahasia Kosmos dari Es Antarktika

Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga The Fed Oktober Menurun

Ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada akhir Oktober terus menurun. Meski demikian, pasar masih memperkirakan adanya kenaikan suku bunga pada akhir tahun ini maupun tahun depan.

Presiden Federal Reserve Bank of Kansas City Jeff Schmid pada Selasa mengatakan The Fed masih perlu menaikkan suku bunga lebih lanjut untuk menekan inflasi.

Pernyataan tersebut muncul meski kenaikan imbal hasil obligasi jangka panjang mulai menekan aktivitas ekonomi di sejumlah sektor.

Berdasarkan CME FedWatch, probabilitas kenaikan suku bunga minimal 25 basis poin pada Oktober kini berada di 20,5%, turun dari sekitar 51% sepekan sebelumnya. Namun, pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan Desember mencapai 84,5%.

"Karena minimnya panduan ke depan dari Ketua (Kevin) Warsh, pasar bereaksi tajam terhadap setiap rilis data ekonomi AS dan pernyataan pejabat The Fed," ujar Samara Hammoud, currency strategist Commonwealth Bank of Australia.

Baca Juga: IEA Akan Memutuskan Rincian Pelepasan Cadangan Diesel Pekan Depan

"Kami memperkirakan The Fed akan menunggu hingga Desember sebelum kembali menaikkan suku bunga," lanjutnya.

Sejumlah pejabat The Fed, yakni Christopher Waller, Neel Kashkari dan Alberto Musalem, dijadwalkan menyampaikan pidato pada Rabu.

Bank sentral AS juga akan merilis data kredit konsumen. Data tersebut diperkirakan menunjukkan penurunan kredit menjadi US$15 miliar pada Agustus dari US$18,06 miliar pada Juli.

Di pasar valuta asing lainnya, dolar Australia melemah 0,04% menjadi US$0,6979, sedangkan dolar Selandia Baru turun 0,07% menjadi US$0,5617.

Sementara itu, harga Bitcoin turun 0,22% menjadi US$85.438,59. Ethereum juga melemah 0,12% menjadi US$2.695,22.