Dolar AS Bertahan Menguat Rabu (16/9) Jelang Keputusan Suku Bunga The Fed



KONTAN.CO.ID - Dolar Amerika Serikat (AS) bertahan di dekat level tertinggi dalam beberapa pekan terhadap sejumlah mata uang utama pada Rabu (16/9/2026).

Penguatan dolar ditopang ekspektasi pasar bahwa Federal Reserve (The Fed) akan memasuki siklus kenaikan suku bunga.

Pelaku pasar memperkirakan The Fed akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada keputusan kebijakan yang akan diumumkan hari ini.


Baca Juga: Selain Di Indonesia, Korupsi Haji Juga Terjadi Di Negeri Tetangga, Kerugian Rp 3,7 T

Pasar juga mencermati kemungkinan kenaikan suku bunga lanjutan dalam beberapa pertemuan berikutnya.

"Jika kenaikan 25 basis poin sudah dihargai sekitar 90%, dolar akan mendapat dorongan moderat jika The Fed menaikkan suku bunga," kata Carol Kong, currency strategist Commonwealth Bank of Australia di Sydney.

Menurut dia, dolar berpotensi melemah jika The Fed menaikkan suku bunga tetapi Ketua The Fed Kevin Warsh memberikan sinyal bahwa kenaikan lanjutan tidak diperlukan.

Sebaliknya, jika The Fed tidak menaikkan suku bunga, dolar diperkirakan dapat anjlok lebih dari 1%.

Penguatan dolar juga terjadi seiring kenaikan imbal hasil obligasi AS pada perdagangan sebelumnya. Dolar mencatat penguatan terbesar terhadap yen Jepang dan dolar Selandia Baru.

Dolar Selandia Baru atau kiwi sempat menyentuh level terendah dua bulan di US$0,5749 dalam perdagangan Asia. Sementara itu, yen melemah ke level 155,43 per dolar AS, terendah dalam sepekan.

Euro berada di US$1,1535, tidak jauh dari level terendah satu bulan US$1,1523 yang tercatat pada Senin. Poundsterling berada di US$1,3470, sedikit di atas level terendah enam pekan US$1,3464.

Sementara itu, dolar Australia relatif stabil di US$0,7126.

Baca Juga: Marak Penipuan Saham, Investor Ritel Korea Selatan Kehilangan US$250 Juta

Pasar menanti arah The Fed

Pergerakan pasar valuta asing relatif terbatas dalam beberapa pekan terakhir meski imbal hasil obligasi global meningkat secara bersamaan.

Kondisi tersebut terjadi karena imbal hasil obligasi negara bergerak searah sehingga perbedaan tingkat imbal hasil antarnegara tidak banyak berubah.

Namun, dolar mulai mendapatkan momentum dalam beberapa sesi terakhir karena pasar menilai The Fed kemungkinan perlu menaikkan suku bunga beberapa kali untuk menunjukkan komitmen dalam menekan inflasi.

Ekspektasi tersebut muncul meski Warsh ditunjuk Presiden AS Donald Trump dengan mandat untuk menurunkan suku bunga. Tekanan inflasi juga meningkat akibat perang dengan Iran dan lonjakan harga energi.

"Terutama karena The Fed sedikit kehilangan kredibilitas di mata pasar, kami cukup skeptis bahwa satu atau bahkan dua kali kenaikan suku bunga akan cukup untuk memulihkan kredibilitas tersebut," kata Calvin Tse, Head of US Strategy and Economics BNP Paribas.

Baca Juga: Harga Emas Spot Tertekan Rabu (16/9) Jelang Keputusan Suku Bunga The Fed

Yen jadi perhatian

Selain dolar AS, keputusan The Fed juga menjadi perhatian penting bagi pergerakan yen. Mata uang Jepang tersebut tengah mencatat penguatan paling menjanjikan dalam beberapa bulan terakhir.

Penguatan yen didorong oleh perubahan ekspektasi terhadap kebijakan Bank of Japan (BOJ) yang semakin hawkish, potensi intervensi bersama Jepang dan AS, serta spekulasi mengenai repatriasi modal oleh investor Jepang.

Data LSEG menunjukkan pasar memperkirakan peluang sekitar 80% bagi BOJ untuk menaikkan suku bunga pada Jumat. Pasar juga telah memperhitungkan dua kali kenaikan sebesar 25 basis poin hingga akhir Januari.

"Pergerakan yen akan terus sangat bergantung pada perbedaan suku bunga," kata David A. Meier, ekonom Julius Baer.

Julius Baer baru-baru ini merevisi proyeksi USD/JPY menjadi 155 karena meragukan kemampuan bank sentral memenuhi laju pengetatan kebijakan yang saat ini sudah diperhitungkan pasar.

Baca Juga: CEO Nvidia Dikabarkan Turut Serta Dalam Jamuan Makan Malam Trump untuk Xi Jinping

"Masih banyak ketidakpastian, termasuk preferensi politik terhadap suku bunga rendah di tengah ekspansi fiskal yang berlanjut," ujarnya.

Di Asia, won Korea Selatan dan yuan China juga menjadi mata uang yang mencatat pergerakan menonjol. Won telah menguat lebih dari 15% terhadap dolar sejak akhir Juni, didorong arus repatriasi modal dan keuntungan yang dihasilkan perusahaan-perusahaan raksasa pembuat chip.

Sementara itu, reli panjang yuan mulai kehilangan momentum di sekitar level 6,71 per dolar AS. Meski demikian, yuan masih mampu mempertahankan penguatannya meskipun kesenjangan antara imbal hasil rendah China dan suku bunga negara-negara lain semakin lebar.