KONTAN.CO.ID - SINGAPURA. Dolar AS melemah dan futures saham Amerika Serikat (AS) turun pada Senin (12/1/2026), setelah Ketua Federal Reserve Jerome Powell mengatakan pemerintahan Trump mengancamnya dengan dakwaan pidana, yang memicu kekhawatiran tentang independensi bank sentral. Kontrak berjangka S&P 500 turun 0,5% dan emas mencapai rekor tertinggi baru sebagai reaksi langsung terhadap eskalasi perseteruan antara Presiden AS Donald Trump dan The Fed. Sementara, Franc Swiss menguat 0,4% menjadi 0,7979 per dolar AS dan euro menguat 0,17% menjadi US$ 1,1656. Para trader mengatakan berita tersebut mengkhawatirkan, meskipun implikasi langsungnya terhadap suku bunga belum jelas.
Baca Juga: Jaksa Selidiki Jerome Powell, Independensi The Fed Terancam Tekanan Politik Kontrak berjangka dana Fed telah menambahkan sekitar tiga basis poin lagi dalam pemotongan suku bunga tahun ini, yang "kecil tetapi menunjukkan risiko bahwa The Fed akan terdorong untuk menjadi lebih agresif." Harga emas mencapai rekor tertinggi lebih dari US$ 4.600 per ons, juga didorong oleh ketegangan geopolitik karena kerusuhan di Iran mengangkat harga logam mulia dan mendukung harga minyak. Kontrak berjangka saham Eropa sedikit turun meskipun saham Asia naik pada hari Senin dipimpin oleh sektor teknologi setelah data pada hari Jumat menunjukkan pasar tenaga kerja AS tidak memburuk dengan cepat meskipun pertumbuhan lapangan kerja melambat. Pasar Jepang tutup karena hari libur.
Trump vs Powell
Pada hari Minggu (11/1/2026), Powell mengatakan, pemerintahan Trump telah mengancamnya dengan dakwaan pidana dan mengirimkan surat panggilan juri agung terkait kesaksian Kongres yang dia berikan musim panas lalu mengenai proyek renovasi gedung Fed, tindakan yang dia sebut sebagai "dalih" yang bertujuan untuk menekan bank sentral agar memangkas suku bunga. Perkembangan ini menunjukkan peningkatan dramatis dalam perseteruan antara Powell dan Trump, yang bermula sejak tahun-tahun pertama Powell menjabat sebagai ketua pada tahun 2018. "Trump sedang mengobrak-abrik independensi bank sentral," kata Andrew Lilley, kepala strategi suku bunga di Barrenjoey, sebuah bank investasi yang berbasis di Sydney.
Baca Juga: Trump Berniat Hubungi Musk Terkait Pemulihan Layanan Internet di Iran Ia bilang, Satu-satunya alasan Trump mengambil langkah-langkah ini adalah karena dia tahu bahwa dia tidak akan mengambil kendali atas The Fed, jadi dia ingin memberikan tekanan yang tidak semestinya sebanyak mungkin. "Investor tidak akan senang dengan hal ini, tetapi ini menunjukkan bahwa Trump sebenarnya tidak memiliki cara lain untuk bertindak. Suku bunga acuan akan tetap seperti yang diinginkan mayoritas FOMC," kata Lilley.
Dolar Tertekan
Dolar AS mengalami reaksi paling tajam, bahkan jatuh terhadap mata uang yang biasanya sensitif terhadap risiko seperti dolar Australia dan Selandia Baru. Indeks dolar turun 0,3% dan berada di jalur penurunan satu hari terbesar sejak pertengahan Desember. Dolar mengalami tahun 2025 yang buruk, turun lebih dari 9% terhadap mata uang utama lainnya karena menyusutnya perbedaan suku bunga seiring dengan penurunan suku bunga oleh The Fed dan kekhawatiran tentang defisit fiskal AS dan ketidakpastian politik yang terus berlanjut.
"Perang terbuka antara The Fed dan pemerintahan AS ini... jelas bukan pertanda baik bagi dolar AS," kata kepala strategi mata uang National Australia Bank, Ray Attrill.
Baca Juga: Won Korea dan Rupiah Lesu Senin (12/1) Pagi, Mayoritas Mata Uang Asia Menguat