KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Penguatan dolar Amerika Serikat (AS) yang terjadi bersamaan dengan mata uang
safe haven seperti yen Jepang (JPY) dan franc Swiss (CHF) dinilai mencerminkan tingginya kecemasan pasar global terhadap risiko geopolitik dan arah kebijakan suku bunga AS. Melansir Trading Economics pada Senin (25/5) pukul 18.15 WIB, indeks dolar AS atau DXY berada di level 98,995. Sejalan dengan itu, mata uang yen Jepang berada di kisaran 158,9 per dolar AS atau menguat 0,25% dalam sebulan, begitu pula mata uang franc Swiss juga menguat sebulan terakhir sekitar 0,46% menjadi 0,782 per dolar AS. Presiden Komisaris HFX International Berjangka, Sutopo Widodo, mengatakan kondisi tersebut menunjukkan adanya dikotomi sentimen yang sangat kuat di pasar keuangan global.
Baca Juga: IHSG Diprediksi Menguat Terbatas Selasa (26/5), Ini Rekomendasi Analis Di satu sisi, dolar AS menguat karena ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed, sementara di sisi lain investor juga mulai memburu aset safe haven untuk menjaga nilai aset mereka. “Kondisi ini bukan sekadar menunjukkan bahwa safe haven mulai dicari lagi, melainkan sebuah konfirmasi bahwa pasar sedang berada dalam fase kecemasan tinggi akibat risiko geopolitik di Selat Hormuz yang memicu lonjakan harga minyak hingga 50% di atas level pra-pengorbanan,” ujar Sutopo kepada Kontan, Senin (25/5/2026). Menurut dia, ketegangan geopolitik di kawasan Selat Hormuz yang memicu kenaikan harga minyak dunia menjadi salah satu faktor utama yang mendorong pelaku pasar mengalihkan dana dari aset berisiko menuju instrumen yang lebih defensif. Di saat yang sama, ekspektasi pasar terhadap potensi kenaikan suku bunga lanjutan oleh bank sentral AS juga menopang penguatan dolar AS. Sutopo bilang, divergensi kebijakan moneter antara AS dan negara lain masih menjadi faktor dominan bagi pergerakan pasar valuta asing tahun ini. Ia menilai dolar AS masih menjadi aset investasi utama untuk memanfaatkan potensi kenaikan suku bunga The Fed. Apalagi, peluang kenaikan suku bunga AS sebesar 25 basis poin pada akhir tahun berpotensi memperlebar selisih imbal hasil dengan mata uang lainnya. Sementara itu, yen Jepang diperkirakan masih lebih berfungsi sebagai instrumen lindung nilai terhadap gejolak energi global ketimbang sebagai aset berburu imbal hasil. Hal itu terjadi karena ruang pengetatan kebijakan moneter Bank of Japan (BoJ) dinilai masih terbatas.
Baca Juga: ASII Incar Pertumbuhan Kinerja lewat 3 Bisnis Utama, Cek Rekomendasi Sahamnya Adapun franc Swiss dinilai tetap memiliki prospek kuat sebagai aset safe haven jangka panjang. Dukungan inflasi rendah dan surplus neraca berjalan Swiss yang solid membuat CHF diperkirakan terus menjadi tujuan aliran dana defensif investor global. Meski demikian, bagi investor yang mengincar imbal hasil lebih optimal di tengah rezim suku bunga tinggi, Sutopo menilai dolar AS masih menawarkan struktur risk-reward yang lebih menarik dibanding mata uang safe haven lainnya.
Untuk proyeksi hingga semester I 2026, Sutopo memperkirakan indeks dolar AS (DXY) bergerak stabil pada rentang 99,00–100,50. Sementara pasangan USD/JPY diproyeksikan bergerak pada kisaran 156,50–159,50. Level psikologis 160 disebut menjadi batas penting yang berpotensi memicu intervensi agresif otoritas Jepang di pasar valuta asing. Di sisi lain, pasangan USD/CHF diperkirakan bergerak di area 0,7780–0,7900. Proyeksi tersebut mencerminkan kekuatan struktural franc Swiss yang dinilai masih konsisten menyerap aliran dana safe haven sepanjang paruh pertama 2026. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News