KONTAN.CO.ID - Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) tertekan terhadap yen Jepang di tengah lonjakan harga minyak dunia yang kembali menembus level US$ 100 per barel. Pergerakan pasar valuta asing juga dibayangi perubahan ekspektasi kebijakan bank sentral AS dan Jepang pekan depan. Pada perdagangan Rabu (9/9/2026), dolar melemah 0,23% menjadi 153,65 yen. Posisi tersebut masih berada di dekat level terendah dalam tujuh bulan yang tercatat pada Selasa di 152,89 yen.
Baca Juga: Harga Emas Naik 1,4% ke US$ 4.414, Pasar Tunggu Data Inflasi AS Penguatan yen dalam sepekan terakhir menjadi salah satu faktor utama yang menekan dolar. Investor mulai meningkatkan posisi menjelang keputusan kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed) dan Bank of Japan (BOJ) yang akan digelar pekan depan. "Premi kebijakan AS membatasi penguatan dolar, sementara yen menguat dengan dukungan dari Departemen Keuangan AS," kata Kevin Ford, FX & Macro Strategist Convera. Tekanan terhadap dolar terjadi bersamaan dengan meningkatnya harga energi. Harga minyak mentah Brent naik 3,36% dan ditutup pada US$ 101,21 per barel, level tertinggi sejak Mei. Kenaikan harga minyak terjadi setelah eskalasi konflik di Timur Tengah meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan energi global. Kondisi tersebut menambah tantangan bagi bank sentral karena kenaikan harga energi berpotensi kembali mendorong inflasi.
Baca Juga: Brent Tembus US$ 100, Pasokan Minyak Timur Tengah Makin Tertekan Perkembangan harga minyak menjadi perhatian investor menjelang rilis data inflasi AS pada Jumat. Data tersebut akan menjadi salah satu indikator penting bagi arah kebijakan The Fed dalam pertemuan pekan depan. Strategis OCBC menilai eskalasi konflik Timur Tengah membuat dampak kenaikan harga energi terhadap kebijakan The Fed kembali menjadi perhatian pasar. Kondisi ini terjadi setelah data tenaga kerja AS yang kuat pada pekan lalu kembali meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga. Yen Menguat, Carry Trade Tertekan Yen menjadi salah satu mata uang yang mencatat penguatan paling signifikan sepanjang September. Mata uang Jepang tersebut telah menguat sekitar 4% terhadap dolar AS sejak awal bulan. Penguatan yen juga terjadi terhadap sejumlah mata uang utama lainnya, termasuk euro dan poundsterling, serta mata uang yang populer dalam strategi carry trade seperti peso Meksiko dan lira Turki.
Baca Juga: Pergeseran Tren Investasi Kalangan Superkaya Asia: Emas, Kripto & Malaysia Dipilih Kondisi tersebut mulai menekan daya tarik strategi
carry trade. Dalam strategi ini, investor biasanya meminjam dana dalam mata uang dengan suku bunga rendah seperti yen untuk kemudian menginvestasikannya pada aset berimbal hasil lebih tinggi. Penguatan yen didorong oleh meningkatnya ekspektasi bahwa BOJ akan mempercepat pengetatan kebijakan moneter. Pasar saat ini secara luas memperkirakan BOJ menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin dalam pertemuan 17-18 September. Selain kebijakan BOJ, penguatan yen juga didorong potensi repatriasi dana investor Jepang serta tekanan dari pemerintah AS agar yen berada pada level yang lebih kuat. Menteri Keuangan AS Scott Bessent bahkan pada Selasa (8/9) memperingatkan investor agar tidak mengambil posisi melawan yen. Analis Scotiabank yang dipimpin Shaun Osborne menilai pernyataan tersebut memiliki bobot signifikan karena sikap Departemen Keuangan AS terhadap intervensi yen telah berubah. "Pandangan Departemen Keuangan AS telah berkembang," tulis analis Scotiabank dalam catatan kepada investor.
Baca Juga: Investor ETF Amerika Lebih Pilih Obligasi Tenor Pendek, Mengapa? Pergerakan yen selanjutnya akan sangat bergantung pada sinyal yang diberikan Gubernur BOJ Kazuo Ueda.
Jika Ueda memberikan sinyal kebijakan yang lebih hawkish, ruang penguatan yen diperkirakan masih terbuka. Sementara itu, indeks dolar yang mengukur kinerja greenback terhadap enam mata uang utama bergerak datar di level 98,83, mendekati posisi terendah dalam hampir dua pekan. Euro menguat tipis 0,05% menjadi US$ 1,1628 menjelang keputusan Bank Sentral Eropa (ECB) yang diperkirakan menaikkan suku bunga pada Kamis. Di pasar Amerika Utara, dolar Kanada melemah 0,18% menjadi C$ 1,3808 per dolar AS setelah hubungan dagang kedua negara kembali memanas. Sementara dolar Australia menguat 0,04% menjadi US$ 0,7216.