Dolar AS Dekati Level Tertinggi 2 Bulan Selasa (29/9) Pagi, Pasar Tunggu Data The Fed



KONTAN.CO.ID - Dolar Amerika Serikat (AS) bertahan di dekat level tertinggi dalam dua bulan pada perdagangan Selasa (29/9/2026).

Penguatan dolar ditopang kenaikan imbal hasil atau yield US Treasury serta volatilitas harga minyak.

Namun, penguatan dolar masih terbatas karena investor menunggu sejumlah data ekonomi AS yang akan dirilis pekan ini untuk mendapatkan petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed).


Baca Juga: Taiwan Terus Negosiasi Senjata dengan AS, Pesanan F-16V Jadi Sorotan

Mengutip Reuters, indeks dolar AS yang mengukur greenback terhadap sejumlah mata uang utama berada di level 101,2.

Indeks tersebut berada di jalur kenaikan sekitar 1,8% sepanjang September, yang akan menjadi penguatan bulanan terbaik sejak Juni.

Dolar juga mendapat dukungan dari kenaikan yield US Treasury. Aksi jual obligasi pemerintah AS mendorong yield tenor 10 tahun ke level tertinggi sejak 2007, sementara yield 30 tahun mencapai level tertinggi sejak 2004.

Yield US Treasury tenor dua tahun yang sensitif terhadap kebijakan moneter juga meningkat ke level tertinggi dalam lebih dari dua tahun dan mendekati 5%.

Kepala valuta asing Commonwealth Bank of Australia Joseph Capurso mengatakan kenaikan dolar untuk sementara masih terbatas karena investor menunggu data ekonomi AS.

Menurut dia, pasar juga mulai terbiasa dengan pergerakan harga minyak, sementara aksi jual obligasi global mengurangi dampak positif kenaikan yield US Treasury terhadap dolar.

Baca Juga: Zelenskiy Sebut Korea Utara Siapkan 10.000 Pasukan Tambahan ke Rusia

"Kami kemungkinan akan mendapatkan data ekonomi AS yang lebih kuat yang menunjukkan bahwa ekonomi AS masih unggul. Hal itu akan membantu mendorong suku bunga AS lebih tinggi dibandingkan negara lain dan menopang dolar AS," ujar Capurso.

Perhatian pasar selanjutnya tertuju pada data indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi atau personal consumption expenditures (PCE) AS yang dijadwalkan rilis Rabu (30/9/2026). Selain itu, data ketenagakerjaan melalui nonfarm payrolls akan dirilis pada Jumat (2/10/2026).

Kedua data tersebut akan menjadi perhatian investor karena dapat memengaruhi ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga The Fed.

Berdasarkan CME Group FedWatch, pasar kini memperkirakan peluang lebih dari 70% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga pada akhir Oktober. Ekspektasi tersebut meningkat dari sekitar 57% sepekan sebelumnya.

Sementara itu, harga minyak kembali bergerak naik dengan kontrak Brent berada di sekitar US$ 106 per barel. Pasar masih meragukan prospek upaya terbaru untuk mengakhiri perang Iran setelah Presiden AS Donald Trump menolak proposal gencatan senjata dari Teheran.

Baca Juga: Bursa Australia Melemah Selasa (29/9), Jelang Keputusan Suku Bunga RBA

Pergerakan mata uang utama lainnya cenderung beragam. Euro berada di dekat level terendah dalam tiga bulan di US$ 1,1367 setelah kepala Bank Sentral Eropa (ECB) mengisyaratkan langkah terukur untuk meredam inflasi. Poundsterling stabil di US$ 1,3248 dan juga berada tidak jauh dari level terendah tiga bulan.

Di kawasan Asia Pasifik, dolar Australia dan dolar Selandia Baru masing-masing melemah 0,1% menjadi US$ 0,7013 dan US$ 0,5660. Reserve Bank of Australia (RBA) diperkirakan menaikkan suku bunga acuan pada Selasa.

Yen Jepang juga melemah tipis ke 157,40 per dolar AS, setelah sebelumnya menguat pada perdagangan Senin.

Pergerakan yen masih dibayangi risiko intervensi setelah pejabat tinggi valuta asing Jepang Atsushi Mimura mengatakan pelaku pasar perlu memperhatikan peringatan tegas yang disampaikan Tokyo dan Washington terkait pergerakan yen.

Sementara itu, yuan China di pasar offshore relatif stabil di 6,71 per dolar AS setelah pertemuan tiga hari antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping pekan lalu hanya menghasilkan sejumlah kesepakatan terbatas.

Baca Juga: OpenAI Batalkan Peluncuran GPT-6.1 Astra karena Masalah Keamanan