Dolar AS Dekati Puncak 2026 Kamis (12/3), Minyak Naik Picu Tekanan Inflasi



KONTAN.CO.ID - Dolar AS tetap berada dekat level terkuatnya tahun ini pada Kamis (12/3/2026), seiring kenaikan harga minyak yang memicu kekhawatiran inflasi dan meningkatkan ekspektasi pengetatan kebijakan moneter oleh bank sentral global.

Euro melemah 0,1% menjadi US$1,1549, mendekati level terendah sejak November 2025, sementara yen Jepang sempat melemah ke 159,23 per dolar, level terlemah sejak Juli 2024.

Baca Juga: Bursa Korea Selatan Memerah Kamis (12/3) Pagi, Chipmaker Menjadi Pemicu Penurunan


Dolar Australia turun 0,1% ke US$0,7148 dan dolar Selandia Baru melemah ke US$0,5907. Pound Inggris turun 0,2% menjadi US$1,3385.

Kenaikan harga minyak terjadi setelah Iran menyerang kapal dagang dan arus lalu lintas melalui Selat Hormuz menurun drastis.

Brent crude naik 6,9% ke US$98,30 di awal perdagangan Asia, meski Badan Energi Internasional (IEA) menyetujui pelepasan 400 juta barel minyak dari cadangan strategis global untuk menahan lonjakan harga.

“Strait of Hormuz bukan hanya soal minyak, tapi juga LNG dan pupuk. Semakin lama tidak ada pasokan, tekanan harga akan terus meningkat,” kata Rodrigo Catril, ahli strategi mata uang di National Australia Bank, Sydney.

Sentimen risiko global juga tertekan setelah pemerintah AS meluncurkan penyelidikan perdagangan baru terhadap kapasitas industri berlebih di 16 mitra dagang utama, setelah Mahkamah Agung AS membatalkan program tarif utama Trump bulan lalu.

Baca Juga: Singapura Waspadai Kenaikan Harga Listrik Akibat Konflik Timur Tengah

Di pasar keuangan, kontrak swap dan ekspektasi inflasi menunjukkan trader memperkirakan bank sentral akan mengetatkan kebijakan lebih cepat dari perkiraan sebelumnya.

Bank Sentral Eropa diperkirakan bisa menaikkan suku bunga secepat Juni, sedangkan Reserve Bank of Australia berpotensi melakukan kenaikan berturut-turut pada pertemuannya bulan ini dan Mei.

Di pasar kripto, Bitcoin turun 0,6% ke US$70.231,21 dan Ether turun 0,8% menjadi US$2.053,31.