Dolar AS di Level Terendah Lima Pekan, Rupiah Masih Melemah Simak Proyeksi (5/11)



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah masih dibayangi ketidakpastian dari pasar global dan domestik. Meski pelemahan indeks dolar Amerika Serikat (AS) memberikan ruang bagi penguatan rupiah, sejumlah sentimen dalam negeri serta penantian data ekonomi membuat pergerakan mata uang Garuda diperkirakan masih terbatas.

Melansir Bloomberg, rupiah di pasar spot pada perdagangan Rabu (4/11/2026) ditutup melemah 0,04% ke level Rp 18.168 per dolar AS.

Sementara itu, berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia (BI), rupiah justru menguat 0,04% ke level Rp 18.140 per dolar AS. Posisi tersebut menguat Rp 8 dibandingkan kurs JISDOR pada Selasa (3/11/2026) yang berada di Rp 18.148 per dolar AS.


Baca Juga: Cetak Laba Tiga Kuartal Beruntun, GOTO Memperkuat Strategi Pengelolaan Modal

Presiden Komisaris HFX International Berjangka, Sutopo Widodo mengatakan, pergerakan rupiah masih menghadapi tekanan dari dalam negeri maupun perkembangan pasar global.

"Pergerakan nilai tukar rupiah pada hari ini digerakkan oleh kombinasi sentimen eksternal dan domestik yang saling tarik-menarik," ujar Sutopo kepada Kontan, Rabu (4/11/2026).

Dari sisi eksternal, rupiah memperoleh sedikit dukungan dari pelemahan indeks dolar AS (DXY) ke level terendah dalam lima pekan. Kondisi tersebut dipengaruhi sikap hati-hati pelaku pasar dalam mencermati dinamika politik dan pemilu sela (midterm election) di AS.

Namun, sentimen positif tersebut tertahan oleh sejumlah faktor domestik. Di antaranya revisi proyeksi pertumbuhan ekonomi 2026 oleh pemerintah serta kekhawatiran terhadap kenaikan harga minyak dan biaya impor. Selain itu, tingginya permintaan tenaga kerja AS turut meningkatkan peluang The Fed mempertahankan suku bunga acuannya.

Sutopo bilang, perhatian pasar dalam waktu dekat akan tertuju pada sejumlah agenda ekonomi dan perkembangan global yang berpotensi memengaruhi pergerakan rupiah.

Baca Juga: Pendapatan SSIA Tumbuh 44,7% hingga Kuartal III-2026, Ini Pendorongnya

"Sentimen utama yang akan sangat memengaruhi pergerakan rupiah pada hari Kamis (5/11) esok hari adalah rilis resmi data Produk Domestik Bruto (PDB) atau pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal III-2026 oleh BPS," jelasnya.

Pasar akan mencermati realisasi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III-2026, terutama apakah hasilnya sesuai dengan ekspektasi konsensus yang memperkirakan perlambatan ke kisaran 5,0%-5,4%. Selain itu, perkembangan hasil pemilu sela AS dan respons pasar terhadap kebijakan devisa hasil ekspor (DHE) di dalam negeri juga akan menjadi perhatian investor.

Di tengah berbagai sentimen tersebut, rupiah pada perdagangan Kamis (5/11/2026) diproyeksikan bergerak konsolidatif dalam rentang Rp 18.050-Rp 18.200 per dolar AS. Kehati-hatian investor menjelang rilis data ekonomi domestik diperkirakan membatasi ruang penguatan rupiah. Sementara itu, intervensi aktif BI melalui instrumen non-deliverable forward (NDF) dan kehadirannya di pasar diharapkan mampu meredam volatilitas berlebihan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News