KONTAN.CO.ID - Dolar Amerika Serikat (AS) bergerak tidak stabil pada perdagangan Kamis (11/6/2026) seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan ketidakpastian arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed). Sentimen pasar kembali tertekan setelah militer AS melancarkan serangan baru ke sejumlah target di Iran.
Baca Juga: Harga Emas Dunia Sentuh Level Terendah 6 Bulan Kamis (11/6), Tertekan Konflik AS-Iran Langkah tersebut memperburuk harapan tercapainya kesepakatan damai dalam waktu dekat, setelah sebelumnya sempat muncul optimisme dari gencatan senjata yang rapuh antara kedua negara. Di pasar valuta asing, euro diperdagangkan di level US$ 1,1553, menjauhi posisi terendah 10 pekan yang sempat tercapai pekan lalu. Namun, mata uang tunggal Eropa itu masih kehilangan sebagian besar penguatannya sejak gencatan senjata diumumkan pada awal April. Pelaku pasar kini menantikan hasil rapat kebijakan moneter Bank Sentral Eropa (ECB) yang diperkirakan akan kembali menaikkan suku bunga untuk meredam inflasi.
Baca Juga: Sentimen Bisnis Jepang Memburuk untuk Pertama Kalinya dalam Setahun, Apa Pemicunya? Sementara itu, indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia turun tipis ke level 99,903 setelah militer AS mengonfirmasi serangan terhadap sejumlah target di Iran telah selesai dilakukan. Presiden AS Donald Trump sebelumnya menyatakan, Washington akan melancarkan serangan tambahan apabila tidak tercapai kesepakatan damai dengan Iran. Eskalasi terbaru tersebut turut mendorong kenaikan harga minyak dunia. Kontrak Brent tercatat naik lebih dari 2% ke level US$ 95,40 per barel. Meski demikian, reaksi pasar dinilai tidak sedrastis periode-periode sebelumnya. Dolar AS masih bergerak relatif terbatas pada perdagangan awal sesi Asia. "Kami melihat adanya kelelahan pasar terhadap berita-berita konflik. Beberapa pekan lalu, eskalasi seperti ini mungkin sudah cukup untuk mendorong Brent kembali menembus US$ 100 per barel dan mengangkat dolar AS secara signifikan," ujar Chief Market Analyst ATFX Global, Nick Twidale.
Baca Juga: Selat Hormuz Ditutup Iran, Harga Minyak Dunia Naik Lebih dari 2% Kamis (11/6) Menurut dia, pasar saat ini lebih membutuhkan kepastian mengenai arah konflik di Timur Tengah. Investor masih menilai apakah penutupan Selat Hormuz dan konflik yang terjadi akan menjadi kondisi jangka panjang atau hanya bagian dari strategi negosiasi yang pada akhirnya membuka peluang perdamaian. Di sisi lain, pelaku pasar juga mencermati prospek suku bunga AS setelah data inflasi terbaru menunjukkan tekanan harga masih tinggi. Indeks Harga Konsumen (CPI) AS naik 4,2% secara tahunan pada Mei 2026, menjadi kenaikan tertinggi sejak April 2023. Namun, inflasi inti (core CPI) hanya meningkat 0,2% secara bulanan setelah naik 0,4% pada April. Chief International Economist ING James Knightley menilai, perlambatan pertumbuhan upah masih dapat membantu meredakan tekanan inflasi inti di AS. "Hal ini seharusnya membantu menjaga ekspektasi inflasi tetap terkendali. Meski kami tidak lagi memperkirakan The Fed memangkas suku bunga tahun ini karena momentum ekonomi yang membaik, kami juga tidak melihat kebutuhan untuk menaikkan suku bunga," jelas Knightley.
Baca Juga: Iran Resmi Tutup Selat Hormuz Usai Serangan Terbaru AS Meski demikian, pasar kini telah memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin pada Desember mendatang. Perkiraan tersebut berbalik tajam dibandingkan awal tahun ketika pasar masih mengantisipasi dua kali pemangkasan suku bunga pada 2026 sebelum pecahnya konflik Iran pada akhir Februari.
Di Asia, yen Jepang diperdagangkan di level 160,52 per dolar AS, mendekati area yang memicu kekhawatiran intervensi pemerintah Jepang di pasar valuta asing. Sementara itu, Gubernur Bank of Japan (BOJ) Kazuo Ueda dikabarkan menjalani perawatan medis dan akan absen dalam rapat kebijakan moneter BOJ pada 15-16 Juni mendatang. Meski demikian, pasar tetap memperkirakan BOJ akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin dalam pertemuan tersebut. Untuk mata uang komoditas, dolar Australia berada di level US$ 0,7006 setelah sempat menyentuh posisi terendah sembilan pekan, sedangkan dolar Selandia Baru stabil di level US$ 0,5797.