KONTAN.CO.ID - SINGAPURA. Dolar Amerika Serikat (AS) bergerak fluktuatif pada perdagangan Senin (7/9/2026), meski ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) pada September semakin menguat. Tekanan terhadap dolar muncul seiring meningkatnya risiko inflasi global akibat ketegangan di Timur Tengah. Kondisi tersebut berpotensi mendorong bank-bank sentral utama dunia untuk memperketat kebijakan moneter secara bersamaan. Jika terjadi, keunggulan imbal hasil aset berdenominasi dolar AS dapat semakin menyempit sehingga membatasi penguatan greenback. Selain risiko inflasi, perubahan sentimen terhadap yen Jepang serta kekhawatiran terhadap peningkatan utang AS dan ketidakpastian kebijakan turut membebani pergerakan dolar.
Pergerakan mata uang di kawasan Asia cenderung terbatas karena pasar AS tutup untuk hari libur. Dolar juga kesulitan mempertahankan penguatan singkat yang diperolehnya setelah laporan ketenagakerjaan AS pada Jumat menunjukkan hasil jauh lebih kuat dari perkiraan.
Baca Juga: Harga Minyak Naik Lebih dari US$1, Konflik AS-Iran Ganggu Selat Hormuz Euro tercatat sedikit berubah di level US$ 1,1609, sementara pound sterling melemah tipis menjadi US$ 1,3513. Terhadap sekeranjang mata uang utama, indeks dolar AS berada di sekitar 99,16, tidak jauh dari level terendah baru-baru ini di 98,558.
Pasar Perkirakan The Fed Naikkan Suku Bunga
Pelaku pasar kini memperkirakan peluang sekitar 57% bagi The Fed untuk menaikkan suku bunga pada September setelah rilis data nonfarm payrolls. Perhatian pasar selanjutnya tertuju pada data inflasi AS yang akan dirilis Jumat mendatang. Elias Haddad, Global Head of Markets Strategy di BBH, mengatakan data inflasi akan menjadi faktor penting dalam menentukan arah kebijakan The Fed sekaligus pergerakan dolar AS. "Data CPI yang tinggi hampir pasti akan memastikan kenaikan suku bunga pada September dan menopang penguatan dolar AS. Sebaliknya, data yang lebih rendah akan memperkuat alasan untuk mempertahankan suku bunga dan membuat dolar AS rentan terhadap penyesuaian ekspektasi pasar ke arah kebijakan The Fed yang lebih dovish," kata Haddad. Namun, menurut dia, sekalipun kenaikan suku bunga The Fed pada September menjadi keputusan yang hampir pasti, dolar AS belum tentu mampu mencetak level tertinggi baru dalam siklus penguatannya.
Baca Juga: Gaji Menteri Singapura Jadi Sorotan Parlemen, Segini Besarannya "Kalaupun kenaikan suku bunga The Fed pada September menjadi keputusan yang sudah pasti, kami meragukan dolar AS akan mencatatkan level tertinggi baru dalam siklus ini. Pengetatan kebijakan oleh bank-bank sentral utama lainnya membatasi perbedaan kebijakan moneter," ujarnya.
Harga Minyak Jadi Risiko Inflasi
Kenaikan harga minyak yang masih tinggi menjadi salah satu faktor utama yang meningkatkan tekanan inflasi global. Kondisi tersebut turut memengaruhi ekspektasi pasar terhadap kebijakan bank sentral utama lainnya. Bank Sentral Eropa atau European Central Bank (ECB) diperkirakan akan menaikkan suku bunga menjadi 2,75% pada pertemuan Kamis mendatang. Pasar berjangka juga mencerminkan peluang sekitar 75% untuk kenaikan suku bunga berikutnya menjadi 3% pada Desember. Sementara itu, pasar memperkirakan peluang sekitar 75% bagi Bank of Japan (BOJ) untuk menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan 18 September. Peluang kenaikan tambahan pada Desember diperkirakan sekitar 60%. Jika bank-bank sentral utama tersebut benar-benar melakukan pengetatan moneter, perbedaan suku bunga dengan AS berpotensi semakin menyempit. Hal ini dapat mengurangi daya tarik dolar AS bagi investor global.
Yen Jepang Mulai Menguat
Perubahan sentimen juga terlihat pada yen Jepang. Mata uang tersebut menguat sekitar 0,1% menjadi 156,01 yen per dolar AS pada Senin. Penguatan yen mendapat tambahan dorongan setelah penasihat ekonomi Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi memproyeksikan bahwa BOJ akan menaikkan suku bunga pada bulan ini. Yen sebelumnya melonjak lebih dari 2% pada pekan lalu. Penguatan tersebut dipicu oleh kombinasi sejumlah faktor, termasuk pembalikan posisi carry trade serta ekspektasi repatriasi modal yang berpotensi meningkatkan permintaan terhadap yen. Eric Robertsen, Global Head of Research sekaligus Chief Strategist di Standard Chartered, mengatakan carry trade masih menjadi salah satu strategi makro dengan kinerja terbaik sepanjang tahun berjalan meskipun biaya pinjaman global meningkat.
Baca Juga: Nepal Masuki Hari Terakhir Berkabung atas Tragedi Banjir, 5.500 Orang Masih Hilang Namun, penguatan yen yang terjadi baru-baru ini mulai menjadi ancaman terhadap kinerja strategi tersebut. "Lonjakan penguatan yen baru-baru ini merupakan ancaman potensial terhadap kinerja carry trade," kata Robertsen. Menurut dia, apabila yen terus menguat secara konsisten, kondisi tersebut dapat menjadi sinyal bahwa kenaikan suku bunga di Jepang dan AS mulai mendorong perubahan alokasi aset oleh investor.
"Jika JPY terus menguat secara berkelanjutan, hal ini dapat menjadi sinyal bahwa kenaikan suku bunga JPY dan dolar AS mulai memicu perubahan dalam alokasi aset," ujarnya.
Dolar Australia dan Bitcoin
Di pasar valuta asing lainnya, dolar Australia menguat 0,11% menjadi US$ 0,7207. Sebaliknya, dolar Selandia Baru melemah 0,1% menjadi US$ 0,5875. Sementara itu, Bitcoin bergerak stabil di sekitar level US$ 80.000. Mata uang kripto terbesar tersebut terakhir berada di US$ 79.841,85. Bitcoin belakangan mendapat dukungan karena sebagian investor mulai melakukan diversifikasi aset untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS.