Dolar AS Jatuh le Level Terendah dalam Dua Bulan, Ini Penyebabnya



KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Dolar Amerika Serikat (AS) jatuh ke level terendah dalam lebih dari dua bulan pada Senin (17/8/2026), setelah para trader mengurangi spekulasi mengenai kenaikan suku bunga The Fed di tengah serangkaian data ekonomi AS yang lebih lemah.

Melemahnya dolar AS mendorong euro menguat ke level tertinggi dua bulan dan membuat yen—yang sebelumnya terpuruk—berada pada posisi yang lebih kuat untuk saat ini.

Yen menguat 0,13% menjadi sekitar 159,15 per dolar, mengabaikan data pertumbuhan ekonomi Jepang yang lebih lemah dari perkiraan. Otoritas Jepang dan AS telah melakukan intervensi di pasar mata uang pada akhir Juli untuk menahan pelemahan yen.


Indeks dolar, yang mengukur nilai dolar terhadap sekeranjang mata uang utama lainnya, memangkas sebagian kerugiannya setelah sempat jatuh ke level terendah sejak awal Juni  2026. Euro mencapai level tertinggi dua bulan di sekitar US$ 1,1614, dengan kenaikan terakhir sebesar 0,18% pada hari itu.

Baca Juga: Harga Emas Naik Disokong Pelemahan Dolar AS & Memudarnya Ekspektasi Kenaikan Fed Rate

Simposium Jackson Hole

Penyesuaian ekspektasi pasar ini terjadi saat pasar bersiap menghadapi simposium Jackson Hole Federal Reserve minggu depan. Dalam forum tersebut, para investor akan mencari petunjuk mengenai bagaimana para pembuat kebijakan menafsirkan data ekonomi terkini.

Upaya bersama AS dan Jepang untuk menahan penurunan yen juga menciptakan situasi yang sensitif bagi pasar mata uang, dan fokus kini beralih pada apakah Bank of Japan akan segera menaikkan suku bunga.

"Intervensi mengubah arah pergerakan. Hal itu tidak menghilangkan insentif suku bunga yang mendukung carry trade," kata Matthew Tuttle, CEO Tuttle Capital Management seperti dikutip Reuters.

Carry trade mengacu pada praktik meminjam dana dengan biaya rendah dalam mata uang bersuku bunga rendah—seperti yen—untuk mengejar imbal hasil yang lebih tinggi di tempat lain.

Pertumbuhan ekonomi Jepang pada periode April hingga Juni tercatat lebih lambat dari perkiraan, akibat lesunya belanja rumah tangga dan investasi bisnis—kondisi yang menurut para analis terutama disebabkan oleh faktor-faktor yang bersifat sementara (sekali waktu).

Nasib mata uang yen juga sangat bergantung pada prospek suku bunga AS.

Baca Juga: Penyelesaian Konflik Timur Tengah Masih Samar, Harga Minyak Naik

Data pekan lalu yang menunjukkan penurunan tak terduga dalam penjualan ritel serta tingkat inflasi yang moderat telah membuat pasar menyimpulkan bahwa urgensi untuk kenaikan suku bunga lebih lanjut telah berkurang.

Berdasarkan perangkat CME FedWatch, para trader memperkirakan hanya ada peluang sebesar 30,6% untuk kenaikan suku bunga pada pertemuan The Fed bulan September, turun dari 52,2% pada pekan sebelumnya.

"Meski demikian, terdapat cukup banyak kejanggalan dalam data tersebut yang membuat pasar tetap waspada terhadap potensi kenaikan suku bunga sebelum akhir tahun," ujar Thomas Simons, kepala ekonom AS di Jefferies.

Pasar kemungkinan akan tetap sensitif terhadap data terbaru, komentar dari pertemuan Jackson Hole, serta perkembangan situasi di Timur Tengah. Minimnya arahan baru dari The Fed juga membuat investor harus bergerak di tengah ketidakpastian arah suku bunga yang semakin pekat.

"Jika Anda bertanya kepada 10 orang mengenai pandangan mereka terhadap suku bunga kebijakan The Fed, Anda mungkin akan mendapatkan 20 jawaban berbeda," tambah Simons.

Baca Juga: Dolar AS Tertekan, Yen Menguat Jelang Pertemuan The Fed di Jackson Hole