KONTAN.CO.ID - Dolar Amerika Serikat (AS) terus menguat dan bersiap mencatat kenaikan bulanan terbesar dalam hampir satu tahun terakhir. Penguatan mata uang Negeri Paman Sam didorong ekspektasi bahwa ekonomi AS tetap tangguh dan Federal Reserve (The Fed) berpotensi kembali menaikkan suku bunga dalam beberapa bulan mendatang. Pada perdagangan Kamis (25/6/2026), dolar AS bertahan di dekat level tertinggi dalam 13 bulan terhadap sejumlah mata uang utama dunia.
Baca Juga: Bursa Asia Melesat Kamis (25/6), Micron dan Qualcomm Redakan Kekhawatiran Saham AI Terhadap euro, dolar sempat menguat hingga menembus level US$ 1,1325 per euro sebelum bergerak di kisaran US$ 1,1353. Sementara terhadap yen Jepang, dolar berada di level 161,73 yen, tidak jauh dari posisi tertinggi dalam lebih dari empat dekade terakhir. Pelemahan yen yang berkepanjangan kembali memicu spekulasi mengenai kemungkinan intervensi pemerintah Jepang di pasar valuta asing. Kekuatan dolar juga berdampak pada berbagai aset lainnya. Harga emas dunia turun di bawah level psikologis US$ 4.000 per ons troi untuk pertama kalinya dalam lebih dari tujuh bulan terakhir. Bitcoin bahkan sempat merosot di bawah US$ 60.000, level yang terakhir kali terlihat sejak 2024. Indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, sempat menyentuh level 101,8 pada perdagangan semalam, tertinggi sejak Mei 2025. Pada sesi Asia, indeks tersebut bertahan di sekitar 101,6.
Baca Juga: Emas Tertekan di Bawah US$4.000 Kamis (25/6), Pasar Makin Yakin The Fed Naikkan Bunga Perubahan ekspektasi pasar terjadi setelah konflik Iran mendorong lonjakan harga minyak dan mengubah pandangan investor mengenai arah kebijakan moneter AS. Jika sebelumnya pasar memperkirakan penurunan suku bunga, kini pelaku pasar justru mulai mengantisipasi kenaikan suku bunga tambahan dari The Fed. Sentimen tersebut semakin menguat setelah Ketua The Fed Kevin Warsh menyampaikan pernyataan yang dinilai lebih hawkish dalam debut kebijakan moneternya pekan lalu. Saat ini, pasar mulai memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga AS paling cepat pada Oktober mendatang. Data pasar obligasi juga mencerminkan perubahan tersebut. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor dua tahun, yang sensitif terhadap ekspektasi suku bunga, naik 27 basis poin sejak awal Mei menjadi 4,15%. Sebaliknya, imbal hasil obligasi dua tahun Jerman turun 7 basis poin menjadi 2,56%.
Baca Juga: Profil SK Hynix, Pemasok Chip Nvidia yang Bersiap IPO Rp 529 Triliun di Nasdaq Kepala Riset Valuta Asing Global G10 Standard Chartered Steve Englander menilai, penguatan dolar dan kenaikan imbal hasil obligasi AS mencerminkan keyakinan investor terhadap kinerja ekonomi AS yang lebih unggul dibandingkan negara-negara maju lainnya. "Kami melihat pergerakan suku bunga dan dolar mencerminkan ekspektasi bahwa ekonomi AS akan tetap unggul baik secara siklus maupun struktural," ujar Englander. Menurutnya, pertumbuhan produktivitas yang kuat, termasuk yang didorong oleh perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI), berpotensi mendukung pertumbuhan laba perusahaan dan menarik aliran modal ke Amerika Serikat. Selain euro dan yen, dolar juga menguat terhadap poundsterling Inggris hingga menyentuh level tertinggi tujuh bulan di US$ 1,314 per pound. Terhadap franc Swiss, dolar mencapai level tertinggi dalam 11 bulan terakhir. Sementara itu, mata uang negara-negara berbasis komoditas seperti dolar Australia dan dolar Selandia Baru juga masih tertekan. Dolar Australia berada di level US$ 0,6890 dan telah melemah lebih dari 1,8% sepanjang pekan ini. Adapun dolar Selandia Baru turun ke US$ 0,5640, mendekati posisi terendah tujuh bulan.
Baca Juga: Daftar 15 Transfer Pemain Afrika Termahal, Yan Diomande Siap Pecahkan Rekor Pelaku pasar kini menanti rilis data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) Amerika Serikat untuk Mei, yang merupakan indikator inflasi favorit The Fed. Data tersebut diperkirakan menjadi petunjuk penting mengenai arah kebijakan suku bunga AS ke depan. Meski demikian, sejumlah analis menilai reli dolar berpotensi mulai kehilangan tenaga dalam waktu dekat apabila tidak diikuti kenaikan ekspektasi suku bunga yang lebih agresif. Presiden Spectra Markets Brent Donnelly mengatakan, permintaan dolar dari kalangan korporasi masih menjadi faktor pendukung utama penguatan mata uang AS dalam jangka pendek. "Saat ini terjadi efek umpan balik positif bagi dolar AS, tetapi saya memperkirakan momentum tersebut akan mulai mereda dalam waktu dekat," ujarnya.