Dolar AS Kian Perkasa, Apa Kabar Likuiditas Valas Perbankan?



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kurs dolar Amerika Serikat (AS) yang semakin perkasa terus menekan nilai tukar rupiah yang kian merosot. Alhasil, kondisi ini berpotensi menyebabkan permintaan dolar AS yang semakin tinggi dan berdampak pada likuiditas valas milik perbankan.

Sebagai informasi, rupiah spot ditutup pada level Rp 16.175 per dolar AS di akhir perdagangan Selasa (16/4). Artinya, nilai tukar rupiah ini kembali mengalami pelemahan 2,07% dari penutupan perdagangan sebelumnya.

Adapun, pelemahan rupiah ini terjadi ketika likuiditas valas milik perbankan juga tampak mengetat. Salah satunya tercermin dari pertumbuhan simpanan dalam bentuk valas yang per Februari 2024 hanya tumbuh 5,2% secara tahunan (year on year/YoY) menjadi Rp 1.264,7 triliun, lebih rendah dari pertumbuhan bulan sebelumnya yang bisa mencapai 7,4% YoY.


Corporate Secretary PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) Okki Rushartomo membenarkan bahwa penguatan dolar AS terhadap rupiah secara tidak langsung akan mempengaruhi kondisi likuiditas perbankan. 

Baca Juga: Marak Merger, Jumlah BPR Menyusut

Okki pun bilang pihaknya terus menjaga stabilitas likuiditas valas melalui strategi pengelolaan cashflow valas yang terencana dan terukur. Salah satunya dengan mengoptimalkan penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) melalui berbagai produk dan layanan, serta menerapkan kebijakan penetapan pricing yang kompetitif dan berkelanjutan.

“Positifnya, penguatan USD ini juga memberikan peluang eksportir untuk melakukan konversi sehingga dapat meningkatkan likuiditas valas perbankan,” ujar Okki, Selasa (16/4).

Selain melalui sumber DPK, Okki menambahkan bahwa BNI memiliki good positioning di Indonesia dan internasional. Sehingga, memiliki alternatif pendanaan lain yang lebih beragam, seperti pendanaan valas non DPK melalui term loan, Repo, certificate deposit (CD), obligasi, dan lainnya.

Tak hanya itu, Ia menyebutkan pihaknya juga dapat menggunakan Jaringan Kantor Cabang Luar Negeri, sehingga liquidity backstop yang cukup kuat ini dapat dimanfaatkan BNI apabila dibutuhkan.

“Sebagai salah satu langkah strategis, BNI telah menerbitkan global bond 2024 senilai US$ 500 juta untuk mendukung ekspansi kredit dan memenuhi kebutuhan nasabah,” ujarnya.

Sementara itu, Presiden Direktur PT Bank CIMB Niaga Tbk Lani Darmawan bilang sampai saat ini belum terlihat ada perubahan yang signifikan terkait likuiditas valas yang dimiliki. Baik itu, berupa penarikan simpanan valas maupun transaksi penukaran valas.

“Saya rasa masyarakat masih coba mencerna dulu,” ujar Lani.

Meski demikian, Lani pun tak menutup mata terkait adanya potensi pengetatan likuiditas valas. Ia mengaku akan selalu memonitor dampak dari penguatan dolar AS yang membuat rupiah semakin melemah ini.

Baca Juga: Saham Bank Kompak Anjlok, Analis Rekomendasikan Akumulasi Beli Saham Bank Big Caps

Lani menyebutkan pihaknya sudah memiliki beberapa skenario untuk kondisi valas ini secara bertahap tergantung nilai tukarnya. Namun, ia tak menjelaskan secara detil skenario seperti apa yang sudah disiapkan.

Senior Faculty Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Moch Amin Nurdin berpendapat likuiditas valas di perbankan ini akan terjadi jika banyak orang yang akhirnya menarik simpanan valasnya di bank dengan tujuan mencari keuntungan. Namun, ia melihat kondisi tersebut akan kecil kemungkinan.

Alhasil, ia menilai bank tak perlu khawatir dengan kondisi likuiditas valas saat ini ataupun menyiapkan beberapa strategi tertentu agar tidak banyak yang menarik valasnya. 

“Menurut saya kalau sudah level deposan valas itu jarang yang melakukan pencarian gain seperti itu,” ujarnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Tendi Mahadi