Dolar AS Kian Perkasa, Mata Uang Asia Berpotensi Tertekan Hingga Akhir 2026



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Tekanan terhadap mayoritas mata uang Asia diperkirakan masih berlanjut hingga akhir 2026 seiring kuatnya dominasi fundamental ekonomi Amerika Serikat (AS).

Melansir data Trading Economics hingga Jumat (26/6) pukul 16.50 WIB, pasangan USD/JPY naik 0,18% dalam sepekan ke level 161. Sementara itu USD/CNY menguat 0,29% menjadi 6,80, USD/KRW melonjak 0,86% ke level 1.536, dan USD/SGD naik 0,23% ke level 1,29.

Analis komoditas dan founder Traderindo.com, Wahyu Laksono menilai pelemahan mata uang Asia saat ini lebih banyak dipengaruhi faktor eksternal dibandingkan kondisi fundamental masing-masing negara.


Baca Juga: Minahasa Membangun (HBAT) Siapkan Jurus Demi Gapai Target Laba Naik 577% di 2026

"Fenomena US Economic Exceptionalism membuat ekonomi Amerika Serikat masih jauh lebih kuat dibandingkan negara lain. Ditambah inflasi PCE yang masih bertahan di kisaran 4,1%, The Fed diperkirakan tetap mempertahankan kebijakan moneter yang hawkish," ujar Wahyu kepada Kontan, Jumat (26/6/2026).

Kondisi tersebut membuat selisih suku bunga antara AS dan negara-negara Asia tetap lebar sehingga mendorong investor global mempertahankan kepemilikan aset berbasis dolar AS.

Selain itu, penguatan Dollar Index (DXY) yang kembali bertahan di sekitar level 101,2 juga meningkatkan arus keluar modal dari pasar negara berkembang menuju aset safe haven berbasis dolar.

Menurut Wahyu, berbagai kebijakan bank sentral di kawasan Asia, seperti intervensi Bank of Japan (BoJ) maupun langkah Bank Indonesia, sejauh ini bersifat cenderung defensif untuk meredam volatilitas jangka pendek agar tidak terjadi pelemahan yang tidak teratur (disorderly) dan bukan sebagai pembalik arah tren utama

"Selama diferensial suku bunga masih menguntungkan dolar AS, tekanan terhadap mata uang Asia berpotensi terus berlangsung hingga penghujung 2026," kata Wahyu.

Dalam jangka pendek, Wahyu menilai pelaku pasar akan mencermati sejumlah indikator utama yang menjadi penentu arah pergerakan mata uang Asia, yakni inflasi AS terutama Core PCE dan CPI, data ketenagakerjaan Non-Farm Payrolls (NFP), hasil rapat Federal Open Market Committee (FOMC), harga minyak mentah dunia, hingga perkembangan tensi geopolitik global.

Baca Juga: Mata Uang Asia Masih Tertekan Dolar AS, Ini Prospek Semester II-2026

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News