Dolar AS Loyo, Harga Emas Spot Naik ke Level Tertinggi dalam Dua Minggu



KONTAN.CO.ID - LONDON. Harga emas spot naik ke level tertinggi dalam lebih dari dua minggu pada Kamis (5/11/2026), didorong oleh pelemahan dolar Amerika Serikat (AS) dan penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS (US Treasury).

Penurunan harga minyak dunia turut meredakan kekhawatiran inflasi. Sementara perolehan suara yang signifikan oleh Partai Demokrat dalam pemilu paruh waktu AS memunculkan harapan akan adanya kesepakatan damai antara AS dan Iran.

Kamis (5/11/2026), harga emas di pasar spot naik 1,6% menjadi US$ 4.123,71 per ons pada pukul 06.09 GMT, setelah sempat menyentuh level tertinggi sejak 20 Oktober. Pada Rabu (4/11/2026), harga emas sempat melonjak sekitar 3,4%, yang merupakan kenaikan harian terbesar sejak 19 Agustus 2026.


Kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Desember naik 1,5% menjadi US$ 4.133,00.

Baca Juga: Hasil Pemilu AS Tekan Harga Minyak dan Saham Pusat Data di Asia

Linh Tran, analis pasar di XS.com, mengatakan, pelemahan dolar dan penurunan imbal hasil obligasi telah membantu emas kembali ke atas level kunci US$ 4.000. Namun, mempertahankan posisi di atas ambang batas tersebut tetap krusial bagi prospek pemulihan harga.

"Jika arus investasi dan pergerakan imbal hasil terus memberikan dukungan, harga emas dapat stabil di atas US$ 4.000, yang juga membuka peluang untuk pemulihan menuju level US$ 4.200, dan selanjutnya ke US$ 4.400," tambah Tran.

Dolar AS kembali melemah pada hari Kamis menyusul kemenangan besar Partai Demokrat dalam pemilu paruh waktu AS, yang juga memicu penurunan tajam pada harga minyak.

Dolar yang lebih lemah membuat emas—yang dihargai dalam mata uang AS—menjadi lebih terjangkau bagi pemegang mata uang lain.

Harga minyak turun selama empat hari berturut-turut pada Kamis (5/11/2026), di tengah ekspektasi bahwa kekalahan Partai Republik—partai pendukung Presiden AS Donald Trump—dalam pemilihan kongres minggu ini dapat mengurangi risiko eskalasi lebih lanjut dalam konflik AS-Israel terhadap Iran.

Penurunan harga energi meredakan tekanan inflasi, sehingga mengurangi ekspektasi bahwa bank sentral akan mempertahankan suku bunga tinggi dalam waktu yang lebih lama; kondisi ini meningkatkan daya tarik emas—aset yang tidak memberikan imbal hasil.

Baca Juga: Kerajaan Bisnis Elon Musk Terancam Usai Demokrat Menang Pemilu AS, Ini Pemicunya

Para pelaku pasar kini menantikan laporan nonfarm payrolls (data ketenagakerjaan di luar sektor pertanian) AS pada hari Jumat untuk mendapatkan gambaran lebih lanjut mengenai prospek kebijakan moneter Federal Reserve.

Sementara itu, Citi menetapkan target harga emas di kisaran US$ 4.500 per ons untuk periode 0–3 bulan ke depan. Menurut pernyataan mereka pada hari Rabu, terdapat potensi kenaikan yang signifikan jika Selat Hormuz dibuka kembali dan konflik antara Yaman dan Arab Saudi mereda menjelang akhir tahun—sebuah skenario yang mereka perkirakan akan terjadi.

Di kelompok logam lainnya, harga perak di pasar spot naik 0,8% menjadi US$ 52,61 per ons, platinum menguat 1,5% menjadi US$ 1.519,90, dan paladium naik 1,3% menjadi US$ 1.017,54.