KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Dolar Amerika Serikat (AS) dinilai masih menjadi mata uang paling menarik untuk dikoleksi pada tahun ini. Merujuk Bloomberg, pasangan USD/IDR pada perdagangan hari ini, Senin (9/8) ditutup di 14.363. Secara year to date, pasangan ini tercatat sudah menguat 2,23%. Analis Monex Investindo Futures Faisyal mengungkapkan, dolar AS secara prospek memiliki potensi yang paling menarik dibanding mata utang utama lainnya. Menurut dia, baik dari sisi sentimen maupun fundamental, dolar AS sedang diuntungkan saat ini. “Dari sisi fundamental, data ekonomi AS terus menunjukkan perbaikan, di mana teranyar data tenaga kerja, PMI, hingga tingkat pengangguran terus membaik. Selain itu, mulai santernya indikasi pengetatan moneter oleh The Fed juga membuat the greenback menguat,” kata Faisyal kepada Kontan.co.id, Senin (9/8).
Lebih lanjut, Faisyal juga meyakini pemerintahan AS yang sedang menyiapkan stimulus infrastruktur juga akan berpotensi mendorong penguatan dolar AS lebih jauh. Oleh karena itu, menurutnya, dibanding negara lain, kondisi perekonomian AS memiliki prospek yang paling baik. Baca Juga: Ekonom: Penurunan bunga penjaminan LPS minim pengaruhnya ke konsumsi nasabah tajir Selain dolar AS, menurut Faisyal, dolar Australia juga memiliki potensi yang cukup menarik. Hal ini sejalan dengan rencana bank sentral Australia yang melakukan pemangkasan obligasi dalam waktu dekat. Hal ini berpotensi mendongkrak nilai tukar dolar Australia ke depan. Walaupun, risiko penyebaran Covid-19 varian Delta masih patut dicermati investor. Sementara jika investor ingin masuk ke Sistem Perdagangan Alternatif (SPA), Faisyal menilai dolar AS juga merupakan komoditas yang menarik. Ia menjelaskan, saat ini terjadi tarik-menarik antara pergerakan harga dolar AS dan emas yang disebabkan oleh tiga isu utama, yakni soal penyebaran Covid-19, vaksinasi, hingga stimulus. Baca Juga: IHSG anjlok 1,22% ke 6.127 pada akhir perdagangan Senin (9/8)