Dolar AS Masih Tertekan Kamis (29/1) Pagi, Pasar Waspadai Akumulasi Risiko Global



KONTAN.CO.ID - Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) masih berada di bawah tekanan pada Kamis (29/1/2026), seiring kekhawatiran pasar terhadap ketidakpastian kebijakan ekonomi AS dan manuver geopolitik yang terus membayangi sentimen investor.

Melansir Reuters, terhadap sekeranjang mata uang utama, indeks dolar berada di level 96,24, mendekati titik terendah empat tahun di 95,566 yang dicapai pada Selasa lalu.

Dukungan pernyataan dari Gedung Putih dan pejabat Eropa hanya mampu menahan sebagian pelemahan dolar setelah mata uang tersebut sempat mengalami aksi jual besar-besaran.


Baca Juga: India Pangkas Tarif Mobil Mewah Eropa Jadi 30%, BMW dan Mercedes Diuntungkan

Dari sisi kebijakan moneter, Federal Reserve (The Fed) menyampaikan nada yang lebih tenang terkait kondisi pasar tenaga kerja dan risiko inflasi AS.

Sikap ini ditafsirkan investor sebagai sinyal bahwa suku bunga acuan berpotensi dipertahankan lebih lama.

Dolar sempat anjlok tajam pada awal pekan ini hingga menyentuh level terendah dalam empat tahun, setelah Presiden AS Donald Trump terkesan mengabaikan pelemahan mata uang tersebut.

Namun, tekanan sedikit mereda setelah Menteri Keuangan AS Scott Bessent menegaskan kembali bahwa Washington tetap menganut kebijakan dolar kuat.

Di pasar global, euro yang sempat menembus level psikologis US$1,20 akibat melemahnya dolar, diperdagangkan sedikit di bawah level tersebut di Asia pada kisaran US$1,1979.

Baca Juga: Hubungan AS-Korea Memanas: Trump Naikkan Tarif, Ini Penyebabnya

Sejumlah pejabat Bank Sentral Eropa (ECB) juga mengisyaratkan kekhawatiran atas penguatan euro yang terlalu cepat.

“Itu komentar yang datang tepat waktu dari Bessent, dan bisa diasumsikan sudah dipertimbangkan matang,” ujar Kepala Strategi Valuta Asing National Australia Bank (NAB), Ray Attrill.

“Level US$1,20 pada pasangan euro/dolar tampaknya menjadi titik pemicu. Pergerakan euro terhadap dolar yang terlihat moderat sebenarnya menutupi penguatan euro secara lebih luas, dan ini berpotensi memengaruhi proyeksi inflasi ECB,” tambahnya.

Meski tekanan jual terhadap dolar mulai mereda pada Kamis, mata uang AS tersebut masih berada dalam posisi lemah.

Dolar turun 0,5% terhadap franc Swiss ke level 0,7656, mendekati titik terendah dalam 11 tahun. Sementara pound sterling bertahan di dekat level tertinggi dalam 4,5 tahun di US$1,3826.

Dolar Australia turut menguat hingga menyentuh puncak tertinggi dalam tiga tahun di US$0,70495, didorong spekulasi kenaikan suku bunga domestik dalam waktu dekat.

Baca Juga: AS Serahkan Kembali Kapal Tanker Sitaan ke Venezuela

Aksi jual dolar yang terjadi awal pekan ini merupakan yang paling tajam sejak kebijakan tarif agresif Trump mengguncang pasar pada April tahun lalu.

Sepanjang tahun berjalan, dolar telah melemah sekitar 2%, dipicu kekhawatiran terhadap kebijakan Trump yang dinilai tidak konsisten, kritik terhadap independensi The Fed, serta sinyal terbaru bahwa AS bersedia menjual dolar guna membantu Jepang memperkuat yen.

Menurut Attrill, kinerja dolar ke depan sangat bergantung pada isu independensi The Fed, termasuk putusan Mahkamah Agung AS terkait upaya Trump memberhentikan Gubernur The Fed Lisa Cook.

“Kehilangan independensi adalah risiko terbesar terhadap dominasi dolar dalam jangka panjang,” ujarnya.

Pelemahan dolar memberikan sedikit ruang bernapas bagi yen Jepang, yang menguat 0,12% ke level 153,21 per dolar.

Baca Juga: Powell Bungkam soal Nasibnya, Ingatkan Penerus The Fed Jauhi Politik

Yen bergerak di kisaran 152–154 per dolar sepanjang pekan ini, di tengah spekulasi potensi intervensi setelah adanya pembicaraan koordinasi kebijakan antara AS dan Jepang.

Di kawasan lain, dolar Selandia Baru naik ke level tertinggi dalam enam setengah bulan di US$0,60695.

Sementara itu, yuan offshore China menguat tipis ke 6,9426 per dolar, setelah sebelumnya menyentuh level terkuat sejak Mei 2023.

Selanjutnya: Pernyataan Hasil FOMC The Fed (28 Januari 2026)

Menarik Dibaca: Rekomendasi HP Android Terbaik 1 Jutaan: Kaget Lihat Performa Gaming & Kameranya