KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pergerakan dolar Amerika Serikat (AS) masih tertekan di tengah perubahan ekspektasi suku bunga global. Investor kini mencermati peluang berlanjutnya pelemahan dolar sekaligus penyesuaian posisi
carry trade. Berdasarkan data Trading Economics, Selasa (8/9/2026) pukul 16.01 WIB, indeks dolar AS (DXY) berada di level 98,98, turun 0,21% secara harian. Dalam sepekan, DXY melemah 0,68% dan turun 0,81% secara tahunan. Sejumlah mata uang utama juga masih mencatat penguatan terhadap dolar AS dalam sepekan. EUR/USD berada di 1,1609, naik 0,15% secara mingguan, sedangkan GBP/USD di 1,352 atau menguat 0,06%. AUD/USD bahkan naik 0,90% dalam sepekan ke level 0,7209.
Di sisi lain, USD/JPY berada di level 154,074 dan telah turun 3,74% dalam sepekan. Penguatan yen yang cukup cepat mulai mendorong investor mengurangi posisi
carry trade, terutama karena ekspektasi kenaikan suku bunga Bank of Japan (BoJ) semakin kuat.
Baca Juga: Arah Rupiah Rabu (9/9) Menanti Rilis Inflasi AS, Cek Proyeksinya Research and Development ICDX, Muhammad Amru Syifa mengatakan, pergerakan mata uang saat ini sangat bergantung pada perkembangan kebijakan moneter di masing-masing negara. “Investor sebaiknya tidak hanya melihat DXY, tetapi juga memperhatikan kebijakan moneter masing-masing negara dan data ekonomi yang menjadi penggerak mata uang tersebut. Fleksibilitas tetap diperlukan karena data inflasi AS dapat mengubah ekspektasi terhadap kebijakan The Fed,” ujar Amru kepada Kontan, Selasa (8/9/2026). Perhatian pasar selanjutnya tertuju pada data inflasi AS. Data
producer price index (PPI) dan
consumer price index (CPI) yang akan dirilis pekan ini menjadi penentu penting bagi ekspektasi kebijakan The Fed. Ekspektasi kenaikan suku bunga AS kembali menguat setelah data tenaga kerja yang lebih baik dari perkiraan. Pasar kini memperhitungkan peluang kenaikan 25 basis poin pada pertemuan The Fed pekan depan sekitar 60%. “Data inflasi AS akan menjadi salah satu kunci karena dapat mengubah ekspektasi pasar terhadap kebijakan The Fed. Jika inflasi kembali tinggi, dolar AS bisa mendapatkan dukungan, sementara data yang lebih rendah dapat kembali menekan dolar,” kata Amru. Tak hanya The Fed, kebijakan bank sentral lain juga menjadi perhatian. European Central Bank (ECB) diperkirakan menaikkan suku bunga pada pekan ini, sementara pasar juga semakin memperhitungkan langkah BoJ untuk memperketat kebijakan moneternya. Perubahan ekspektasi tersebut membuat selisih imbal hasil antarnegara ikut menjadi perhatian investor. Jika selisih tersebut semakin menyempit, strategi
carry trade yang selama ini memanfaatkan perbedaan suku bunga menjadi kurang menarik. Sentimen pasar juga dibayangi perkembangan geopolitik. Kembali memanasnya konflik Amerika Serikat dan Iran mendorong harga minyak naik, sehingga risiko inflasi kembali menjadi perhatian.
Baca Juga: Harga Tembaga Tembus US$ 14.500, Risiko Demand Destruction Membayangi Bagi pasar valas, kenaikan harga energi dapat membuat investor kembali menghitung prospek kebijakan suku bunga. Terlebih, data inflasi AS akan menjadi acuan penting sebelum The Fed mengambil keputusan pada pekan depan. Amru mengatakan, kondisi tersebut membuat investor perlu mencermati perubahan sentimen secara berkala karena arah mata uang dapat berubah mengikuti ekspektasi kebijakan bank sentral. “Perbedaan kebijakan moneter antarnegara akan menjadi salah satu faktor utama yang menentukan pergerakan mata uang. Investor perlu mencermati perkembangan ekonomi dan kebijakan bank sentral masing-masing negara,” pungkasnya. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News