Dolar AS Melemah: Ancaman Terhadap Greenland Picu Aksi Jual Aset AS



KONTAN.CO.ID - TOKYO. Dolar Amerika Serikat (AS) melemah mendekati level terendah tiga minggu terhadap euro dan franc Swiss pada Rabu (21/1/2026). Ini setelah ancaman Gedung Putih atas Greenland memicu aksi jual meluas terhadap aset AS alias Sell America, mulai dari mata uang hingga saham Wall Street dan obligasi pemerintah AS.

Yen juga tertekan menyusul lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah Jepang ke rekor tertinggi karena investor khawatir tentang kebijakan fiskal yang berlebihan dengan Perdana Menteri Sanae Takaichi yang berupaya memperluas mandatnya dalam pemilihan cepat bulan depan.

Sementara, yuan China melemah dari level tertinggi 32 bulan setelah bank sentral China secara tak terduga melemahkan panduan titik tengah harian untuk mata uang yang dikontrol ketat tersebut.


Sedangkan, won Korea Selatan pulih dengan kuat dari level terendah empat minggu setelah Presiden Lee Jae Myung mengatakan para pejabat negara memperkirakan mata uang tersebut akan menguat ke level yang belum pernah terlihat sejak awal Oktober 2025.

Baca Juga: Ancaman Tarif Trump kepada Jerman Picu Wacana Boikot Piala Dunia 2026

Penurunan dolar AS meningkat tajam tadi malam, menyusut 0,53% pada indeks dolar - yang mengukur mata uang terhadap enam mata uang utama - menandai kinerja satu hari terburuknya dalam enam minggu.

Rabu (21/1/2026), indeks dolar sedikit naik menjadi 98,612. Namun, dolar AS anjlok lebih dari 1% terhadap mata uang bersama Eropa atau euro pada satu titik pada hari Selasa ke level terendah sejak 30 Desember 2025 di US$ 1,1770 per euro. Terakhir dolar diperdagangkan terhadap euro di US$ 1,1716.

Dolar AS juga merosot hampir 1,2% hingga mencapai 0,78795 franc Swiss pada hari Selasa, juga terendah sejak 30 Desember  2025, sebelum sedikit pulih ke perdagangan terakhir di 0,7911 franc.

Pada Senin lalu, ancaman tarif baru Presiden AS Donald Trump terhadap sekutu Eropa atas Greenland memicu pengulangan perdagangan yang disebut "Sell America" yang muncul setelah pengumuman tarif AS April 2025 lalu.

"Investor menjual aset dolar karena kekhawatiran akan ketidakpastian yang berkepanjangan, aliansi yang tegang, hilangnya kepercayaan pada kepemimpinan AS, potensi pembalasan, dan percepatan tren de-dolarisasi," kata Tony Sycamore, analis pasar di IG di Sydney seperti dikutip Reuters.

Meskipun ada harapan bahwa pemerintahan AS mungkin segera mengurangi ancaman ini, seperti yang telah dilakukan dengan pengumuman tarif sebelumnya, Sycamore menyebut, pengamanan Greenland tetap menjadi tujuan keamanan nasional inti bagi pemerintahan saat ini.

Indeks S&P 500 dan Nasdaq Composite turun ke titik terendah dalam sebulan pada hari Selasa, karena investor kembali dari libur panjang akhir pekan di AS. Imbal hasil obligasi pemerintah, yang naik ketika harga obligasi turun, melonjak ke puncak tertinggi dalam beberapa bulan.

Baca Juga: AS Ancam Kenakan Tarif Chip, Presiden Korsel Ingatkan Harga Produk Melonjak Tajam!

 

Selanjutnya: Mantan PM Korea Selatan Han Duck Soo Divonis 23 Tahun Penjara Atas Darurat Militer

Menarik Dibaca: SilverQueen Mulai Rp 8.900 Saja, Cek Promo Alfamart Chocolate Fair 16-31 Januari 2026